Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pertama-tama Ia Membuka yang Kedua | Cerpen: Muliadi G.F.
Ilustrasi: edgarpavia

Pertama-tama Ia Membuka yang Kedua | Cerpen: Muliadi G.F.



Mataallo sedang membaca buku ketika ponselnya berdering malam itu. Buku itu karya seorang sejarawan terkenal dan ia sudah sampai pada bab yang membahas prospek kecerdasan buatan di masa depan yang membuatnya terkagum-kagum dan berlambat-lambat beranjak dari mejanya. Menarik, katanya sambil berjalan ke ranjang meraih ponselnya.

Rupanya panggilan video dari I Ninnawa.

Lelaki itu berbaring lalu mengusap gawainya.

“Kamu ke mana saja selama enam missed call tadi?” kata perempuan di layar telepon.

“Ke masa depan,” kata Mataallo.

“Berapa anak kita? Rumah kita? Apa kamu sudah punya mobil?”

Lelaki itu tergelak.

“Saya hanya melihat robot,” katanya kemudian.

“Lalu apa kata robot itu tentang kunjunganmu berikutnya? Kapan? Sudah berapa bulan kita tidak ketemu?”

Mataallo tidak menemukan angka setelah mengingat-ingat. Banyak, katanya dalam hati. Memikirkan di luar sana wabah masih berkeliaran dan jarak ke Makassar dan ongkos selama di sana bagi honorer sepertinya selalu membuatnya spontan berzikir. Ia menatap terpal biru di langit-langit kamar yang kusut karena tak pernah diganti semenjak bapaknya masih hidup. Mereka di masa depan akan menggunakan apa sebagai penutup langit-langit rumah? pikirnya tiba-tiba.

“Kamu masih di sana? Atau sudah kembali ke masa depan?” tanya perempuan itu.

“Ya.”

“Ya…? Kamu seperti santai sekali. Apa kamu pernah memikirkan saya? Apa kamu tidak rindu, Allo?”

“Oh, Tuhan, sudah berapa malam kamu bicara soal itu?”

“Lalu apa lagi? Apa kita mau langsung bicara tentang menikah? Dulu, yang ada di mulutmu cuma itu. Sekarang… huh. Sudah empat tahun kita begini-begini saja.”

“Saya juga rindu, Inina. Andai bisa terbang, saat ini juga saya ke sana.”

“Itu bahasa-bahasa angin. Rindu, tapi kamu cuma sibuk dengan bukumu. Rindu, tapi selalu saya yang memulai menelepon.”

“Sayang, tidak penting siapa yang memulai. Bukankah rindu sudah membuat kita selalu merasa bersama meski jauh?”

“Bual. Alat ini yang bikin semua itu mungkin.” Telunjuk I Ninnawa menutupi layar dua kali.

“Rindulah yang membuatnya ada. Saya yakin pencipta alat ini adalah perindu akut. Juga WhatsApp dan segala macam.”

“Bual kamu, Allo.”

Dulu, bagian paling ia suka dari kencan suara ini yaitu saat I Ninnawa merepet; sekarang, semua itu membuat Mataallo hendak melarikan pikirannya ke tempat lain. Oh, masa depan, kapan datangnya? Lelaki itu kembali menatap terpal di atasnya. Dan ia teringat bukunya. Apa yang akan dilakukan kecerdasan buatan pada terpal di rumahnya?

Ia terbangun tengah malam dan mendapati ponselnya telah mati dan lampu juga mati. Ia, yang sedari kecil tak pernah tidur dalam gelap, segera bangun mencari sakelar lampu. Lampu menyala ketika ia menjawil benda itu, dan seketika terdengarlah bunyi seperti mesin menggereng-gereng dan dia mencari-cari dari mana bunyi itu berasal.

Lantai rumahnya kemudian bergetar, makin lama makin hebat. Gempa! Ia berlari ke luar kamar menuju kamar-kamar lain rumah panggung itu. Ke mana yang lain?

Ia mencoba membuka pintu depan tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Melalui kisi-kisi ia dapat melihat lampu teras bergoyang-goyang dan di belakangnya seribu daun mangga berganti-ganti hijau-hitam-hijau-hitam-hijau-hitam.

Di belakang pohon itu terdapat ruas jalan provinsi yang kali ini sangat sunyi. Dan dari sana, bila kau berbalik, akan terlihat tampak-depan rumah itu: rumah yang biasa saja seperti rumah-rumah lain sekitarnya, rumah panggung dengan tiang-tiang dari kayu ulin—yang gelap dan selalu tampak garang sekaligus anggun, kontras dengan warna dinding yang biru terang.

Sekarang rumah itu bergerak, melompat-lompat kecil seperti mengambil ancang-ancang. Kemudian ia mundur selangkah hingga menyentuh pagar hidup halaman belakang, dan setelah guncangan keras satu kali ia melompat untuk pertama kalinya, melepaskan dekapannya dari kandang di kolong dapur, meninggalkan ayam-ayam ribut di atas teratak.

Rumah itu berlari di jalan poros ke arah selatan. Ke-36 tiangnya yang terbagi dalam enam baris melenting ke depan sebaris demi sebaris dan berderap di aspal jalan. Empat kabupaten, belasan kecamatan, dan puluhan desa akan ia lintasi menuju Makassar, ke tempat rumah I Ninnawa berdiam: sebuah rumah yang juga serupa rumah-rumah lain sekitarnya, yang berbaring di tanah tanpa tiang, dengan tembok berwarna putih berpendar oleh lampu jalan.

Mataallo dan rumahnya pasti tahu bahwa setiap perjalanan selalu punya batas pandangan, ujung jalan di kejauhan yang seakan menumbuk gunung. Namun tiap kali ia maju, gunung yang semula ia perkirakan akan ditubruknya itu ternyata tak pernah betul-betul menghalangi jalannya; gunung itu akan selalu menyisi seolah menyilakan rumah itu lewat, dan di ujung jalan berikutnya akan tampak gunung lain menggantikannya.

Karena itu rumah Mataallo pun terus memacu larinya. Ia baru melambat apabila bertemu jembatan yang satu per satu akan ia lompati: Jembatan Kuning, Jembatan Hijau, Jembatan Merah Jambu, Jembatan Biru Langit, dan Jembatan Putih.

Setelah jembatan terakhir, sampailah ia di suatu tempat dengan barisan gunung di kiri jalan, yang tampak seperti kawanan kerbau besar berbaring, dan garis pantai memanjang di kanan jalan. Rumah panggung itu mengerem mendadak dan memutar sampai dinding depannya menghadap gunung.

Di atas sana tampaklah sebuah rumah besar berdiri, teramat besar sampai-sampai kau berpikir sebesar apakah gerangan penghuninya.

Rumah panggung biru bergerak lagi, tapi alih-alih meneruskan perjalanan, ia malah mendaki gunung kerbau raksasa itu. Semakin tinggi ia semakin besar pula rumah di atasnya. Cahaya keemasannya juga semakin terang, berkilauan, menyilaukan.

Tatkala sampai di puncak, rumah panggung biru memutari rumah itu.

Rumah ini lebih menyerupai saoraja, rumah istana, persegi panjang yang ditopang seratusan tiang dan dilindungi empat sisi dinding penuh ukiran tanaman rambat dan hewan-hewan ajaib, yang semuanya berwarna emas dari mana cahaya keemasan itu berasal.

Oh, betapa tiang-tiangnya bukan kayu sembarangan—sangat gelap, menandakan telah direndam dalam rawa berminggu-minggu; dan tiang pusat rumah yang berada di baris ketiga dari depan terbuat dari kayu nangka pilihan, yang tak pernah tersambar petir, tak bergesekan dahan lain, tak dililiti tumbuhan lain, dan tak dilubangi kumbang selama tumbuhnya, juga tak menimpa makhluk lain saat ditebang. Belum lagi di depan rumah itu tampak segitiga atap rumah bertingkat lima, dan di bubungan atap bertengger naga kayu yang melambangkan empunya rumah tak lain seorang wanita lemah lembut tapi berkarakter kuat.

Rumah panggung biru terhenyak. Ia seakan berhadapan dengan sesosok datuk dari masa lalu.

Dan sesaat kemudian ia tampak di sana berusaha menarik datuk itu turun gunung dengan mengaitkan tiang-tiangnya ke tiang-tiang rumah itu. Namun, baru disadarinya tiang-tiang rumah itu ternyata tertanam dalam-dalam dalam tanah; ia tak kunjung bergerak, bergeser sedikit pun tidak.

Beberapa jam berlalu di sana dan si rumah panggung biru masih mencoba.

Langit sudah bertambah gelap dan awan tebal menyebar.

Lalu petir menyambar.

Rumah panggung biru terpelanting dan berguling-guling di lereng gunung dan berdebam di jalan raya. Atapnya penyok di sana-sini dan banyak tiangnya mencong ke mana-mana.

Demi melihat rumah istana tetap bergeming memandangnya dari ketinggian, rumah biru pun berlari kembali, kali ini lebih kencang, seolah hendak melupakan kegagalannya. Biru dindingnya meredup dalam gulita sebelum hujan, yang kemudian turun mengikutinya berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain, melompat dari satu kecamatan ke kecamatan lain, merayap dari satu desa ke desa berikutnya.

Dan, tentu, waktu juga bergerak menempuh perjalanannya sendiri: malam, tengah malam, dini hari, dan sebentar lagi pagi.

Rumah itu belum sampai tujuan. Jika ia berbalik, masih sempat untuk kembali. Namun jika terus ke depan, pastilah pagi akan menyergapnya di tengah jalan. Wahai, dunia yang sudah cukup aneh, bersiaplah menyaksikan sebuah rumah panggung berdiri di jalan raya pagi nanti!

Hujan mulai reda ketika rumah itu berbalik arah dan berlari menempuh jalan yang sama, melintasi puluhan desa, belasan kecamatan, dan empat kabupaten; menyisir garis pantai dan barisan gunung; melompati jembatan-jembatan; dan sampai ke tanah lapang tempat sepetak kandang ayam menganga tanpa tudung.

Ia menyelesaikan lompatan terakhir menutupi tempat itu dan mendengar ayam-ayam kembali ribut di teratak. Dan segala keributan itu pun berakhir tanpa diketahui manusia selain Mataallo.

Ia terbangun kesiangan dan mendapati lampu masih menyala dan ada dua pesan masuk di ponselnya: baris pertama ada pesan I Ninnawa dan baris kedua pesan dari orang lain—perempuan, perempuan lain. Pertama-tama ia membuka yang kedua dan menulis kalimat perpisahan yang panjang.

(Cerpen ini pernah dipublikasikan di Harian Fajar, 21 Februari 2021)


Muliadi G.F. lahir di Bojo, Barru. Buku kumpulan cerpennya Cerita dari Negeri Siput (2017) dan Al-Fatihah untuk Pohon-Pohon (2018)