Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Memandang Kastil Rosenberg | Puisi-Puisi M. Rifdal Ais Annafis
Ilustrasi: David Hansen

Memandang Kastil Rosenberg | Puisi-Puisi M. Rifdal Ais Annafis



Memandang Kastil Rosenberg

Ia bisa saja membunuh hari, setelah Cristian lV, Raja dari Denmark itu
menyusun busung dada orang-orang sebagai dinding kastil kemudian
kepada Desa Giswil yang murung, setelah seorang tak memercayai
betapa masa lalu menyimpan dendam dan reruntuh perang

Batu-batu yang berlumur darah mencipta garis lurus dan melintang
seperti salib abad 13 dengan keinginan-keinginan kecil dan getir:
“Seorang dari Habsburg membeli maut, seseorang lain menatap
 Mathis dari masa depan sebagai tangan-tangan perampas.”

Di petakan tanah, hari-hari adalah agama yang selalu pergi
untuk sekadar mengganti atau memungut setiap kata “megah”
pada cekung nasib. Dan Rudenz, katamu sebelum senja tiba,
adalah peralihan peristiwa dari Rosenberg murung ke jantung Hunwil

Ia tetap berdiri. Berpegangan pada maut. Bahwa setiap dua ketukan
Abad adalah sunyi yang menolak tubuhmu kembali. Dan hanya
kenangan yang kekal pada bunyi-bunyi kitab suci.

Kutub, 2022

Kemudian Distrik Nyhaven Berlari

Kemudian distrik Nyhaven berlari dari aroma laut
Kafe-kafe menawarkan cuaca paling cantik, Skandinavia

Ada yang mesti tandas pada rumah tua nomor 9
semisal bekas dosa-dosa yang tiba dari bibir pelabuhan
dari setiap orang-orang dengan segala macam kenangan

Restoran disini, katamu dengan anggun, menawarkan
hal-hal janggal yang hanya tersedia setiap beberapa tahun
setelah masa lalu di benakmu memekar dan berbuah ranum

Tetapi pada setiap inci menuju Kopenhagen,
kanal-kanal tua seperti kata yang mendidih

menyebabkan ekor matamu selalu memerih

Mungkinkah bekas bibirmu dan kekasihmu
telah tersedia di cangkir meja?

Hari-hari akan berputar disini
dari setiap kerah baju sampai kanopi penginapan
dari jendela rumahmu menuju hangat pelukan.

Kutub, 2022

Copenhagen, 1972

Kisah apa yang rela menelusup ke gedung-gedung tua
selain kisah tentang kesedihan yang raib dari cekung mata?

Ia dengan kaki buntung sisa perang dunia kedua
menulis beberapa pengakuan-pengakuan jenaka;

umpamanya anak laki-laki yang baru selesai mengenali udara
harus menguncup lalu tumbuh sayap cahaya di punggungnya
atau-atau sepasang mata ibu berhambur di tanganmu setelah
ledakan-ledakan menembus gagang pintu dan membiarkanmu
mencari sobekan-sobekan daging pada setiap dinding-dinding .

Maka tidak ada botol-botol bir yang terisi penuh atau setengah
untuk sekadar lebih menghayati adegan demi adegan pengkudusan
atau merayakan pesta kecil dengan gerak ruh yang membubung
seperti asap-asap putih, sehabis ledakan-ledakan penuh perih
Ia tak bisa menyanyi. Atau tak perlu. Nyanyian-nyanyian tercipta
dari bimbang. Bimbang yang fana. Hanya dimiliki orang imigran
Ia serdadu dengan peri-peri mengelilingi kepala.

Ia pandangi kota yang hampir berjumpa ajal itu dengan nanar
Betapa kepedihan dan dendam bercampur arang mayat orang-orang.

Kutub, 2022

Alisa Hlans

Sebelum Okhtyrka berlutut di kaki abad
Ia tetap memasang mata coklat dengan pupil menhunjam

Membaca ekor pagi yang lepas dari bukit,
lalu mengemas embun mengkilap pada daun Oak
seperti bibirnya yang berminyak
setelah selesai menggigit bagian terakhir Varenyky

Tetapi mungkin ia tak menghendaki warna merah
maka pagi itu sehabis sarapan kecil tidak ada saus di meja
sebab saus merah dan merah adalah darah

Di sepanjang perbatasan timur laut
Ia akhirnya tau hari terakhir sekolah adalah maut
“setelah seseorang melepas rudal, gedung-gedung runtuh,
 dan kawan-kawanku pergi. Tak pernah kembali.” Ucapnya getir.

Setelah melewati gang kecil, dekat Vulytsya ke arah timur
Ia tidak akan pernah menemukan identitas lagi
pecahan gedung dengan ukiran cantik menindih punggung dan kepala

Mungkin Oleg tak ingin tau Novgorod dan Kiev tak mungkin pernah menyatu.

Sumenep, 2022

Karangan Bunga untuk Jan Palach

ookaret terakhir
‘tak ada ook bunga buka, sebetulnya
dan musim semi Praha dikokang bedil

Tetapi di ujung lapangan Wenceslas
Palach berdiri dengan kaki kiri yang hangus
“Aku ingin membangunkan orang banyak” katanya, lirih.

Detik kemudian
hujan yang angkuh
memberikan sedikit kuasa

Seorang anak dengan rambut kucir kuda, menyeringai
Membawa bunga matahari sedikit layu setengah coklat
Tangannya bergetar. Dadanya lubang. Dan matanya
Menyimpan nasib hari esok.

“Apakah ini yang engkau cari, Tuan Palach?”
“Mungkin iya.”
“Saya sendiri memetiknya dari ujung taman sorga.”
“Mengapa bunga itu tumbuh di ujung?”
“Sebab perdamaian tak selalu menggembirakan orang.”
Dan akhirnya mereka terdiam. Dan akhirnya menangis, keras sekali.

Sumenep, 2022

Seseorang Berusaha Mengusir Kota nya

Di sebelah timur dekat sungai Tysa
seorang gadis menjulurkan kaki
dan rambutnya yang tergerai seperti menunjukkan
arah menuju sesuatu yang hitam dan menakutkan

Agaknya ia menunggui umur melompat dari pundak
juga menenggelamkan batas antara maut dan hidup
tetapi kota menangis di kepalanya
dan hari yang merah menyelinap
“sesuatu akan tiba dengan tergesa-gesa.
 Aku merindukan kamar yang dingin.”

Hari ini asing
Ia melepas topi bundar dan sesekali mendongak
“akhirnya langit terbelah dan seseorang nampak memanggil.
Apakah itu Ibu?”

Ia terkenang, tentang sungai-sungai panjang
tentang perahu nginal, tentang peringatan ayah
sebab tak boleh terlalu menepi, tentang pohon
dengan dahan memeluk ngina

Tetapi kota nya, ah kota yang seringkali menawarkan cuaca buruk
mengembangbiakkan sepi lalu lamat-lamat meledakkan kembang api

“Aku ingin mengusir kota dari kepala dan merasakan udara luas,” desisnya.

Sumenep, 2022

M. Rifdal Ais Annafis, Lahir di Sumenep. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) serta Prosa Pend. Bahasa & Sastra Indonesia Universitas PGRI Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya, Artefak Kota-kota di Kepala (2021) dulunya aktif di Ponpes Annuqayah. Tulisannya terpublikasi di pelbagai media. Terbaru, 5 Terbaik Payakumbuh Poetry Festival 2021.