Berita

 Network

 Partner

Ayat-Ayat Kemurungan | Puisi-Puisi Bigul G.
Ilustrasi : @fieldproject

Ayat-Ayat Kemurungan | Puisi-Puisi Bigul G.

Ayat-Ayat Kemurungan

di hadapan puisi
aku menemukan peti mati pikiranku

memang tidak ada berita kematian
pelepasan air mata, doa atau
ucapan balasungkawa dari sanak saudara

toh puisi adalah sengketa tua
berjuta-juta purnama lewat di atasnya

konon puisi ayat-ayat murung manusia
berdegup dan berbunyi di setiap dada
menjadi bau tanah, kedang air mata, atau ia
yang pergi begitu saja

dan penyair kita itu mabuk
membual soal rindu dan mahkota nama-nama

di langit yang lain, di perbatasan tidak bertuan
puisi bangkit dari kuburan pembantaian
wujudnya adalah getir dan diksi-diksi kehilangan
hingga asinnya kekecewaan

di bumi lain yang terbuat dari dongeng
puisi tersiar seperti harga cabe dan bawang
di sudut pasar
orang-orang mengantri menghapus air mata
karena pedas dan perihnya harapan

di hadapan puisi
aku temukan tempurung kepala tetangga
yang diam-diam menjadi kepalaku

2020

Nun

kupanggil-panggil dirimu
dalam diam
dalam tajamnya waktu dan
rindu

demi dan demi apa pun
meski dalam berita buruk
nasib sial
kusebut dirimu

kaulah huruf penanda
sekaligus persaksian
meski lidah tidak pernah
tegak dan lurus

Berita Terkait :  Kisah Kota Asing | Puisi-Puisi Khanafi

demi apa pun
agar segalanya berbunyi dan
bergema
kutekan hingga ke langit-langit
semesta

dan kusebut
engkaulah titik itu
titik awal mula segalanya berlayar
di tengah nasih gelombang

kupanggil lagi dirimu
karena lidahku
adalah lidah masa lalu
dan masa depan

Dekaplah!
wahai kekasih antara kaf dan nun

2020

Pohon Mimpi

Terbayang:
ia akan terus tembuh menjadi sebatang pohon
dalam ringkih tubuhku dan
berbunga di mataku yang selalu perih

telah lama kutanam
sejak bisa mengeja nama ayah-ibu
menjumlah sedikit angka uang saku
dengan bibit doa dan nasehat guru

kini daunnya kering berdebu
kusam dan gersang

usia memang tak mengenal tuan
sedang nasib adalah tembang samar dari kejauhan

dengar-dengarlah
kini kufasih mengingat kota,
nama dan angka dalam rumah kenangan
namun ia goyah seperti ingin patah

tanah ini sudah tidak subur lagi ternyata,
doa lebih sunyi dari biasanya
sedangkan guru telah lama mengabu

Inginku ia terus tumbuh
menjadi sebatang pohon rimbun dan kokoh
matahari rebah dengan tubuhnya yang tabah
sedang bayangku berteduh dari segala
gemuruh

usia adalah debu tak mengenal batu
dan kota serigala tua bagi segala

Berita Terkait :  Riwayat Mahakam Hulu | Puisi: Iman Budiman

2021

Khatt al-Istiwa

Itukah engkau
garis-garis sejajar serupa bianglala
warna-warni ingatan,
atau arah pulang ke halaman belakang

dan yang bergema dalam diam
tembang kuna pengantar pulang
tetapi dimana kampung halaman?
toh aku bukanlah pertapa yang pelupa

runduk kepalaku
angin lewat begitu saja
telah lama kutinggali sebuah kota
dimana debu adalah pelacur tua 
dalam rumah batu beratap kaca

kusembunyikan tanganku
agar tak kulihat garis sial bagi esok dan masa depan
karena inilah kota dalam sejarah berdarah itu
tempat segala yang hidup adalah tukang jagal

tapi dimana jalan pulang?
seperti garis sejajar panjang dalam terpejam
sedang mata ini telah lama tergadai
kepada tukang lampu di sebuah kota
yang dulu amis dan gelap gulita

itukah engkau
garis-garis sepi menuju diri
seperti garis luka, seperti arah menuju pulang
yang sejajar dengan garis tanganku

2021


Si Pemalas

Pada sebuah tembok megah
ingin kulukis malamnya seorang pemalas

Tubuhnya terbaring dingin
matanya selalu terjaga mencorong
seolah awas pada nasib getir yang jatuh
dari langit kota yang murung dan lelah

Berita Terkait :  Hari Kebahagian Seorang Kawan : Khozinurrohman & Tabi'atul Khasanah

hingga tertidur tubuhnya terbaring miring
bising dan ramainya kota tak mau lewat begitu saja
seperti kelelawar yang hinggap sebentar
seperti anjing liar menepi ke comberan

“Mimpi, di tubuhnya berlumuran cat pewarna
setelah melukis luka di tembok sudut kota
kencing di celana
berak di celana
dari dalam tubuhnya menguap bau limbah…”

Benarkah
hanya dalam mimpi nasib dipelintir begitu saja?

“…seolah berdiri di tengah ramainya pasar kota
dimana orang-orang bersuara getir dan was-was
berjalan perlahan pada sudut bau pesing
sedang tawar menawar yang terdengar
tidak lebih dari pasal-pasal keputusasaan

digosokkan tubuhnya yang penuh warna
menjadi gambar samar manusia
berkepala anjing dan bersayap kelelawar
dua-duanya sama-sama benar.”

Benarkah karena warna
merah, kuning, hitam, biru, ungu dan hijau tua
nasib dipahatkan?

Pada sebuah tembok megah
malamnya si pemalas dirundung arwah
penguasa bengis penuh darah
menodongkan pasal-pasal baru bertuah

Ia terbangun
mimpi baginya sama dengan secawan anggur
kenangan

2021


Bigul G. belajar menulis di Komunitas Kutub Yogyakarta dari dulu hingga sekarang.