Tutorial Menemui Fristo Alleghieri

-

Oleh: MH Heikal


Orang yang mengakui ketololannya bisa jadi termasuk dalam kategori manusia bahagia atau juga tidak bahagia. Sebab tolol adalah kodrat bagi beberapa orang. Orang pintar sekalipun terkadang bisa juga tolol. Tolol bukan berarti bodoh–meski sudah pasti bukan pintar. Tolol adalah suatu hal yang kita harap-harapkan terjadi pada orang lain, tepat pada momen ia berada di depan mata kita sendiri. Sebab itulah peluang orang tolol untuk masuk surga begitu besar. Orang tolol itu jenaka, menghibur, membuat orang-orang yang menyaksikannya terpingkal-pingkal bahkan terkencing-kencing.

Pada masa ini, tepatnya masa yang menjemukan ini, kita mengharap-harapkan orang-orang tolol hadir di sekitar kita, tapi sebaiknya tidak punya sangkut paut dengan kita. Karena kalau bersangkut paut, justru diri kita dan si tolol akan bersama-sama tersesat dalam dasar sumur ketololan. Dengan demikian, jangankan surga, neraka pun enggan menerima orang-orang tolol yang mengajak orang lain untuk ikut tolol bareng. Tapi peliknya sekarang ini, ketika kita mendambakan kehadiran orang-orang tolol, justru kita sendiri pula yang tercebur menjadi orang tolol tersebut. Hasilnya: orang-orang, yang mungkin notabene teman-teman kita sekampus atau sekantor misalnya, terkikik-kikik sampai semaput, dan seandainya kita mampu menahan diri untuk tidak mengajak mereka tolol bareng, tanpa mereka sadari bahwa kita punya peluang yang lebih besar masuk surga, dan nyantai enak disana.

Tapi Fristo Alleghieri bukan orang yang tolol.

“Fristo Alleghieri!?”–kalian pasti bertanya begini dengan ekspresi yang barangkali saja mendekati tolol atau melampaui tolol.

Sampai di sini memang belum ada hubungan antara dua paragraf gemuk paling atas yang cukup layak dianugerahi judul Dialektika Ketololan dan Strategi Menjadi Tolol Agar Masuk Surga dengan seseorang yang mungkin manusia bernama Fristo Alleghieri.

“Siapa sih Fristo Alleghieri?”–kalian pasti bertanya lagi begini dengan seraut wajah heran atau sinis.

Sudah barang tentu kalian tak mengenal Fristo Alleghieri. Mari, mari, ke sini…betapa malangnya kalian. Rupa-rupanya kalian masih hijau hidup di semesta ini. Saya perkenalkan: Fristo Alleghieri adalah sejenis manusia yang ketika di ospek, mengaku “Saya gemuk tapi kurus”, yang ketika menulis cerita pendek sok pintar, yang ketika menulis puisi sok puitis, yang ketika menulis esai sok keren. Pokoknya ketika kita menghubungkan antara Fristo Alleghieri dengan kata menulis, maka kita akan menemukan berbagai kesok-sokan yang lebih mengejutkan dan spektakuler. Ini bukan pujian, juga bukan makian. Sebab bagaimanapun, apa pun yang terjadi, sekalipun langit merondokkan matahari selama seratus tahun kesunyian, saya tetap penggemar Fristo Alleghieri, tepatnya penggemar tulisan-tulisan Fristo Alleghieri.

***

Saya tinggal di Kota M. Fristo Alleghieri tinggal di Kota J. Tapi sekarang saya sedang di Kota B. Seharusnya saya sekarang sudah berada di Kota J, jika itu nanti benar-benar terjadi, pada suatu malam yang hujan, saya akan mendatangi kamar kosnya yang tengik berbaur aroma asap rokok, dan menendang pintunya dengan sekali tendangan jitu khas Jet Li. Lalu Fristo Alleghieri yang tengah duduk di balkon terkaget-kaget melihat saya, matanya membelalak seperti mata ikan tongkol, dan mulutnya berbusa-busa, dan hidungnya berasap-asap. Lalu saya menonjoknya tepat di antara dua matanya yang sekarang benar-benar persis ikan tongkol sedang di masak kecap. Lalu Fristo Alleghieri terjungkal, mungkin sempat terbetik dalam hatinya, apakah ini kejutan pembuka dari Khatulistiwa? Tapi segera, detik itu juga ia sadar, “Tahun ini kan saya tidak ada menerbitkan buku, kecuali sekumpulan esai dan laporan jurnalistik yang sangat saya kagumi, yang begitu anggun pada tiap paragrafnya. Saya benar-benar Tuhan bagi esai-esai itu, judulnya juga bagus. Yang Fana adalah Waktu, Yang Bangsat adalah Kamu.

Tapi sebaiknya tidak demikian. Sebabnya ada banyak cara untuk menemui Fristo Alleghieri. Hal di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak cara, dan tidak terlalu saya anjurkan bagi pemula. Baiknya begini, “Ada Fristo Alleghieri?” tak perlu basa-basi, langsung saja bertanya kepada satpam yang standby, atau kalau tidak ada tanya saja kepada orang-orang yang melintas di depan kantor Asamsekali.co. Jangan salah, Fristo Alleghieri sudah minggat dari Tirtair.id, di profil Facebooknya, posisi editor di Tirtair.id cuma tinggal jadi kenangan. Tapi pacarnya masih sama, eh kayaknya sudah menikah pula.

Selepas itu mungkin kita akan menemukan percakapan.

“Ada, di dalam.”

“Dalam mana?”

“Dalam neraka!”

Itu hanya salah satunya saja, dan sudah pasti jika kita menerima jawaban demikian, itu artinya kita benar-benar telah bertemu dengan Fristo Alleghieri. Namun kalau jawaban terakhirnya, “dalam celana” maka itu Joko Pinurbo. Setelah itu, yang sebaiknya dilakukan ialah memperhatikan permukaan Fristo Alleghieri. Mulai dari rambut yang dikenakannya, wajah tempat lengket mata, hidung, dan mulutnya, tangannya yang mungkin bertato, sampai kukunya yang mungkin berenda. Mungkin Fristo Alleghieri cuma diam. Bagaimana cara membuatnya agar nyerocos?

“Saya dari leasing.”

Atau, “Saya tukang ledeng.”

Atau, “Saya Rocco.”

Atau, “Saya Fristo Alleghieri.”

Kata-kata simple begitu sudah bisa mengguncang jiwa Fristo Alleghieri. Barangkali, ia akan bilang, “Saya tak punya motor” untuk pernyataan pertama. “Langsung saja ke ibu kos” untuk pernyataan kedua. “Nama dan tempat tidak sengaja” untuk pernyataan ketiga. Untuk pernyataan terakhir kalimat balasannya persis sama, “Saya Fristo Alleghieri”. Maka ada dua biji Fristo Alleghieri yang sedang berhadapan di depan kantor Asamsekali.co.

“Mau ngopi?”

“Di dalam ada mesin fotokopi.”

“Berandal!”

“Apa?”

“Aku menyebut berandal!”

“Di depan pintu toilet ada sandal.”

Pada saat itulah saya harus buru-buru kembali ke Kota M. Dalam bayangan saya: dua kali ikut wawancara, tiga kali gagal. Saat sudah memegang boarding pass di bandara yang serasa kuburan, sebuah perusahaan asuransi menawarkan lowongan. Ah bukan, bukan seperti itu. Dua hari sebelum membeli tiket pesawat dengan sisa uang terakhir di rekening, ada perusahaan asuransi yang menawarkan lowongan. Ketika itu, saya berada di seputaran Universitas Pendidikan Kota B.

“Kami tertarik…bla..bla..blaa..”

***

Sesampainya di Kota M, saya bergegas ke Gramedia. Saya telepon pacar saya yang sedang liburan di Kota P untuk minta ongkos Gojek dari bandara ke Gramedia Gajah Mada. Ia transfer berkali-kali-kali lipat dari yang saya butuhkan. Saya buka aplikasi Gojek. Saya tunggu beberapa menit. Bangsat! Tidak ada driver yang mau mengambil order saya. Sepecundang itukah saya, sampai-sampai orderan saya dengan estimasi harga 97.000 dalam mata uang rupiah mereka lewatkan saja.

Saya teriaki taksi. Supirnya plintat-plintut.

“Gramedia.”

“Dari Jawa, Mas?”

Ich liebe dich und weltanscahung fucking verdommen abdererden!”

Bahasa yang demikian rumit itu berhasil membungkam sang supir taksi kepo.

Dalam Gramedia saya salah masuk kategori: saya ingin masuk ke rak sastra tapi justru ke nyasar bagian majalah wanita. Celingak-celinguk saya temukan juga dia. Masa Akhir. Hitam dan ular. Saya benci keduanya. Harganya 76.000 dalam mata uang rupiah. Mahal sekali! Buku puisi seharga segitu. Tapi tak apalah. Saya tak perlu membelinya. Saya baca saja disitu.

Sehabis dari sana saya pulang–entahlah saya tak tahu harus menyebut apalagi selain pulang. Saya sempatkan membeli sebuah koran dengan berisi cerpen. Padahal ini Selasa lho, ada cerpen di koran. Pembuka awal cerpennya begini: Di suatu tengah malam yang hujan, di sudut Rue Capella 21st yang terkenal angker itu, lelaki muda itu menghabisi nyawa kekasihnya. Lelaki muda itu, yang pernah kukenal bertahun-tahun silam, masih mengenakan kalung liontin di lehernya ketika kusaksikan ia diseret polisi di televisi. Liontin itu bertuliskan namaku. Nama yang bertahun-tahun silam senantiasa dibisikkan lelaki muda itu dengan mesra ke telingaku.

Aku turun dari apartemen. Ketika di lift, aku terkenang, bahwa di dalam lift inilah aku pernah berciuman ganas dengan lelaki muda itu. Tapi itu terjadi bertahun-tahun lalu. Ketika aku masih memanggilnya dengan sebutan sayang–sebuah kata yang sekarang aku jijik mengucapkannya. Kurasa aku tidak pernah tahu namanya, tetapi pernah ketika ia hendak memesan kopi di Starbucks kudengar ia menyebutkan sebuah nama. Dave. Kurasa itu nama samaran belaka.

Aku sebenarnya tak mau ambil peduli pada lelaki muda yang menghabisi nyawa kekasihnya itu. Namun, yang membuat diriku tertarik ialah, mengapa ia masih saja memakai kalung liontin itu. Apakah kekasihnya tidak bertanya padanya, atau apa mungkin nama kekasihnya sama dengan namaku? Berbagai kemungkinan melingkupiku. Tapi kucoba meredakannya.

“Satu tiket. Joker. Pukul 14.”

Petugas konter tiket itu tersenyum ke layarnya. Aku tak menanggapinya. Ia tak perlu bertanya tempat duduk mana yang kupilih, sebab ia sudah tahu seleraku. Selalu paling belakang. Dan ia juga sudah tahu, jika tidak ada bangku paling belakang tersedia, aku rela menunggu untuk jadwal film selanjutnya.

 Memang…

Tunggu-tunggu, kita sudah terlalu tersedot ke dalam cerita itu. Tapi rasa-rasanya aku mengenal momen-momen dalam cerpen itu. Rue Capella 21st, liontin, ciuman di lift, Dave, dan Joker.

Astaga!!!

Bukankah itu diriku!?

Bangsat mana yang begitu jeli secara rinci menulis tentang diriku.

“Keparat!”

Ini tak boleh kubiarkan. Seorang bocah menulis tentang hubungan orang dewasa. Kok bisa koran ini memuatnya. Koran apakah ini, kok tak ada namanya! Tapi kucoba insyaf seraya sadar, “Bukankah orang tolol bisa saja muncul di mana-mana, termasuk dalam koran ini atau justru diriku sekarang ini tengah dirasuki sesosok orang tolol.”

Aku tak percaya diriku tolol, maka aku lebih memilih pilihan yang kedua. Begitu hendak beranjak, dari kejauhan kulihat seorang berjubah hitam berjalan dengan ular melingkari lehernya. Semakin dekat kulihat senyumnya, dan matanya, dan tangannya memegang sebuah hitam, buku entah kitab. Ah, bajingan! Tak pelak lagi, inilah orang yang kucari-cari selama ini.

Sebuah makhluk hidup bernama Fristo Alleghieri.


MH Heikal, penulis kelahiran Medan, 1997. Alumnus Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk sejumlah media, seperti Kompas, Koran Tempo, Horison, Republika, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia, Azahar Revista Poetica serta terangkum berbagai buku antologi. Ia mendirikan Sastra Katalis, media publikasi sastra Indonesia.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments