Riwayat Mahakam Hulu | Puisi: Iman Budiman

-

Menjelma Roda, Helm, Klakson, Kaca Spion dan Sebuah Motor Matic dalam Perjalanan Pulang Palmerah – Ciputat

saya jadi lekuk roda penggilas aspal berlubang, kolam becek, rel kereta api di tengah jalan, atau tanah coklat perkampungan. tak ada paragraf baru. sungguh, tak ada. saya jadi busa helm SNI penyerap peluh buruh serabutan, air mata entah milik siapa, atau darah korban truk kontainer; sekadar jadi pelindung kepala –tidak dapat melindungi isinya dari kerancuan ideologis. tak ada paragraf baru. sungguh, tak ada. saya jadi mata klakson pengumpat manusia-manusia yang bertengkar antara suara laju mesin kendaraan, tikus mutan menyebrang jalan, atau dua sejoli yang tengah asyik memadu syahwat sepanjang belokan. tak ada paragraf baru. sungguh, tak ada. saya jadi dua kaca spion yang senantiasa rendah menengadah, memohon, bahkan terkesan memaksa, agar bisa melihat ke depan. namun, keinginan itu dikutuk oleh semesta jalanan, juga kemacetan. tak ada paragraf baru. sungguh, tak ada. saya jadi jelma motor matic tanpa tuas rem depan maupun belakang, lepas kendali, melesat kepada pertanyaan-pertanyaan asing yang tak pernah punya jawaban pasti. saya kecewa. tak ada paragraf baru. sungguh, tak ada.

Ciputat, 2021

Ada Buku, Laptop, Kepala, Kampus, Kelas, Kost, Perpus

ada buku. ada. tiada yang tulis. ada saku. tiada yang isi. uang kopi dari mana? ada laptop. ada. tiada yang ketik. ada kepala. tiada yang isi. main kata peta bahasa. kirim. kirim. kirim.

ada kampus. ada. tiada yang riset. ada kelas. tiada maha-sis-bro. travelling atau adu PES saja. ada kost. tiada yang masak. ada perpus. tiada yang baca. intelektuil pentas tender debat.

Ciputat, 2021

Saya Nanti-Nanti Izrail,
Saya Tunggu-Tunggu Izrail

drrt. getar gawai. satu panggilan masuk. izrail, katanya, ingin mengajak santai minum kopi di penghujung sore. saya nanti-nanti. saya tunggu-tunggu. ia janji akan datang pukul lima lewat sepuluh menit, seusai menjemput pulang satu keluarga yang terperosok ke jurang.* tapi sudah lewat tiga puluh menit, aromanya belum muncul.

Berita Terkait :  Catatan Seorang Anak

saya nanti-nanti. saya tunggu-tunggu.

akhirnya ia datang juga, meski agak tergesa dan penuh rasa bersalah. sungguh, maafkan saya, ucapnya. tak seharusnya saya datang terlambat. pemerintahan tuhan tak kenal cacat. ada satu urusan penting yang mengharuskan saya memanen nyawa di sore mendung ini.

Berita Terkait :  Oretan Desember Luka | Puisi Erliyana Muhsi

saya ngangguk-ngangguk saja. saya seorang penyabar yang amat terlatih, lebih-lebih soal tunggu-menunggu di mana maskapai pesawat terbang kelas ekonomi kerap menelantarkan dan menganggap baik-baik saja penumpangnya.

saya dan izrail pun berbincang. ngalor-ngidul. senja turun setengah. kami saling lempar joke. selera humornya bagus. kopinya nyaris tandas beberapa kali sesapan lagi. joke khas darinya mengakhiri saya yang mulai merasakan embusan napas saya, lama-lama terasa kian berat.

Ciputat, 2021

*setelah usai dilakukan serangkaian autopsi dan pemeriksaan identitas lebih lanjut, didapati hasil: sang ayah bernama KMZ, sang ibu bernama WA8, seorang balita laki-laki bernama AWAA.

Jidat Guru Besar Ilmu Ekonomi

menunggangi seekor lebah tua, saya pergi dari sebuah ruang di mana saya harus membayarnya tiap satu bulan sekali. saya memeluk lehernya, suara sayapnya agak membuat pekak.

isi kepala saya berhamburan di udara. hidup sudah susah, di kota penuh bau asap ini, ngorok dengan damai pun mesti bayar. buang isi perut bayar. parkir kuda besi bayar. pesan ini bayar, pesan itu bayar. dari kocek, setiap kebahagiaan mesti dibayar tunai, punya tak punya.

semoga hati tetap bahagia dan selalu lapang, selapang jidat guru besar yang lihai berbusa-basi bicara soal konsep ekonomi mutakhir dan kerumitan teorama kalkulus di kampus saya.

Ciputat, 2021

Tak Kita Jaga
Tanah dari Dewata

Dewata menitipkan sepetak tanah nirwana di pulau ini. rupa satu daratan; seekor anak ayam. julang ulin jadi tonggak bagi bubungan rakyat. batang meranti mengakar di tulang sahaya. emas-emas legam lekat itu, yang biasa ditarik tongkang besar sepanjang hulu ke ilir sungai, kekayaan yang tak tahu ke mana pulangnya.

: ke perut buncit penuh api, kah?

kami sudah terlatih merawat luka
di padang sunyi wajah sendiri

Berita Terkait :  Anjing yang Menunjukkan Jalan Menuju Surga | Cerpen: Heru Sang Amurwabumi

tak dewata sebut kami penderita,
sebab kami inilah derita itu sendiri.

Ciputat, 2021

Riwayat Mahakam Hulu

angin perawit suka menempur kerangka besi, menjadi berkarat sampai sekarat, menjadi sepuh sampai rapuh, dan tangis lirih besi-besi itu tak terdengar sebab lekas saja disapu suara amuk tuas mesin tronton-tronton besar yang berderum kasar di atas punggung purbanya.

Berita Terkait :  Menjamu Waktu | Puisi Hendri Krisdiyanto

liuk sungai keruh di bawahnya, arus yang tak lelah menjurus, saksi bala tentara mulawarman pernah membawa ribuan ternak; sapi dan babi, seserahan abdi kepada sang kuasa. kepatuhan seorang raja bijak sentosa kepada tuhannya.

sunyi mahulu, nyanyi rinduku
aku harus pulang. aku haus tualang.

Ciputat, 2021

Pada Sebuah Sarapan Pagi Saya Termenung di Meja Makan Sebab Kisah di Balik Rasa Lapar yang Tak Usai Diwartakan

kita pun tergugu-termangu, mengingat-bayang, merangkap itikad sembahyang: selain perut kita, perut siapa lagi di luar dapur ini, di atas meja makan harum masakan, di luar jalan sana yang lupa bagaimana cara kenyang. 

sarapan pagi yang asing penuh rasa kantuk dan sejumlah pertanyaan: berlauk-liuk telur dadar yang digoreng di sebidang dada seorang anak balita terserang demam, ikan sepat tumis asam manis –rupa hidup bersimbah tawa dan tangis beserta guyuran kuah sayur bening yang tak sengaja tumpah di lembah kening.

seusai menjalani ritual rutin sarapan pagi yang terkesan membosankan tanpa arti. 23 butir nasi tersisa di telapak piring. lambung sudah sesak tak berjarak. terburu-gesa, kita pun bergegas merapikan meja makan. kita sungguh mafhum dan mengerti, tak baik menyisakan asa dan sisa, sebagaimana hikayat orang-orang lama, nasi-nasi yang dilupakan dan terbuang, kelak akan meratapi dirinya sendiri.

“daripada menuju tanah kering, selokan bau atau tempat sampah, sebaiknya antar kami bertamu ke lambung luka orang-orang tak berumah.”

iba mereka tak usai, sedang telinga kita pekak oleh bising mesin truk pengangkut sampah.

sepertinya kita tanpa sadar
telah dilupakan dan terpinggirkan
dari zaman yang terus bergerak-derak

Berita Terkait :  Menuju Kekal | Puisi-puisi Vito Prasetyo

Ciputat, 2021

Menjadi Anak Kecil

kita adalah anak kecil dan tetap sebagai anak kecil bagi tubuh dewasa yang entah. tubuh siapa sebetulnya yang kita rangkai, lalu kita gunakan? kita setia menjadi anak kecil bagi waktu tanpa kenal kemudi, tanpa mendefinisikan ragam nyali.

adalah kita, begini adanya.
tanpa runding. tanpa memaksa.

menjadi anak kecil,
           sungguh menyenangkan.

menjadi anak kecil,
             sungguh mengenyangkan.

Ciputat, 2021

Meraba Tanah Ibu

dalam keadaan piatu, saya tiba di tanah ibu. ibu ada pada darah dan napas saya. saya raib pada napas dan darah ibu. saya cinta ibu, pun sebaliknya. ibu cinta saya, entah sebaliknya.

Berita Terkait :  Cara Menukar Bola Mata

ibu jangan jadi waktu. waktu melumat tubuh ibu. saya jangan jadi batu. batu memadat tubuh saya. saya dan ibu tak bertemu. kangen, tapi kaku. ibu rumit jadi ibu. saya rumit jadi anak ibu.

di tanah ibu, saya tiba, masih saja begini, masih piatu. ibu pulang, saya malang. saya pulang, ibu berang. saya ingin tak mengenal ibu, kembali ke perut ibu; gubuk tenang yang lengang, agar saya senantiasa merasa digugu-disayang.

Ciputat, 2021

Ramuan Perut Buncit

pukul 02:41 dini hari. seekor ular –ia terusir dari surga api, masuk ke usus besar. tualang panjang baginya sampai terjaga nyenyak milik seorang pesakitan. betih beras melunak-memadat, tersisa abon ikan tenggiri ditempa dinding lambung, lemak-lemak meniduri isi dalam daging. besar perut, ahai, sungguh tak sebesar kuasa ibadah.

membusung lingkar perutnya,
mengusung dosa sepanjang hayat.

Ciputat, 2021


Imam Budiman, menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S-1 Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Puisi-puisinya dimuat di Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Indopos, Riau Pos, Babel Pos, Media Kalimantan, Lampung Post, Koran Madura, dll. Kini mengabdikan diri sebagai Pendidik di Madrasah Darus-Sunnah, SMA Adzkia Daarut Tauhiid, dan Salemba Group (SG).

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments