Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Omong Kosong Tersesat | Cerpen: Radja Sinaga
Ilustrasi: Cerobongart

Omong Kosong Tersesat | Cerpen: Radja Sinaga

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun kecuali Yesa? Kau mungkin menyanggah, sepertinya pernah membaca beberapa klausa sebelumnya dalam satu kitab? Tetapi tinggalkan dulu persoalan khazanah dari kitab mana pembuka cerita ini sebab pengecualian Yesa lebih menarik untuk diceritakan kepadamu.

Tetapi sebelum kau lebih jauh lagi mengenal Yesa, ada baiknya dalam cerita ini ditampilkan profil dirinya, semata agar kau tak langsung menyederhanakan masalah dengan celetuk: satu ekor tidak terlalu meranyah diri ketika memiliki sembilan puluh sembilan ekor lagi. Biografi Yesa berikut ini hanyalah perihal domba-domba yang dimilikinya dan sejumlah kekayaannya.

Dengan seratus ekor domba tidaklah membuatmu tampak kaya bila berdomisili di kota yang sama dengan Yesa, letaknya di Timur, tak jauh dari reruntuhan jiwa orang-orang Yahudi yang dibawa Musa keluar dari neraka yang diciptakan manusia yang namanya tak perlu dituliskan dalam cerita ini. Bahkan Yesa juga memiliki ladang gandum dan tanaman umbi-umbian yang luasnya paling tidak membuatmu menghargai ketangguhan kuda atau keledai dalam hal berjalan jauh. Memang dua kalimat sebelumnya tidak tampak seperti biografi, tetapi dengan penjelasan singkat itu, kau setidaknya paham kekayaan Yesa dapat menjamin keturunan kedelapanmu tidak membuang nama keluarga besarnya lantaran sakit hati tak kebagian harta. Namun bukan karena banyaknya harta Yesa yang membuatnya tak mencari satu dombanya yang hilang itu, yang membuatnya melintasi hutan, rawa-rawa, bahkan padang pasir.

***

Beginilah prolog yang telah dipikirkan Anes, seorang bocah pengembala domba-domba Yesa, bahwa dirinya akan ditendang tiga puluh empat kali sesuai hasil yang dikeluarkan dubur dombanya terakhir kali sebelum menghilang, lalu kepalanya dipukul dengan tongkat gembala yang dibawanya sendiri sebanyak jumlah berat badan dombanya paling berat, dan akhirnya ia akan diusir Yesa dengan kemarahan yang tak pernah usai. Kau boleh heran lantaran siapa pula Anes, dan jika sampai kau berpikiran demikian, kau orang yang sangat lugu, sebab saudagar mana yang bersusah-payah mengurusi domba-dombanya jika ia bisa membayar seseorang untuk mengurusi pekerjaan yang menyebalkan tersebut?

Anes, sebagaimana orang-orang yang gugup dan risau, menampangkan wajah bodoh dengan berbicara kepada udara. Sesekali ia mengumpat dengan kefasihan yang tak perlu kau ragukan. Ia duduk di tanah sambil memikirkan hal-hal buruk, bangkit setelahnya, berjalan-jalan sebentar, dan duduk kembali. Domba-domba yang ia gembalakan tertawa. Tentu ia tak bisa menuduh itu lantaran domba-domba itu tertawa dengan bahasa domba. Ia bukan domba.

Ketika lelah berpikir keras dan menyadari bahwa tanpa tindakan tak menghasilkan apapun, seperti petani yang hanya bermodalkan doa ketika selesai menanam benih, Anes membulatkan tekad untuk memberitahu kabar buruk hilangnya satu domba kepada Yesa. Dan ia juga menyadari, malam hampir menyingsing. Memang masih jelas terdapat senja sebelum malam tiba, sebab Sukab si lelaki bajingan itu—ia jelas bajingan lantaran membuat banyak pengembala kehilangan masa-masa terbaik sebelum pulang dan memasukan hewan-hewan yang digembalanya ke dalam kandang—belum lahir ke dunia, bahkan pengarangannya demikian.

Maka ketika tiba di depan pintu rumah Yesa, Anes tak buru-buru mengetuk pintu dan menyebutkan salam bukan lantaran beberapa waktu yang lalu ia lelah memasukan domba-domba ke kandang. Kau tepat, Anes bimbang. Keteguhan yang penuh hanyalah omong kosong. “Apakah aku harus memberitahunya?” tanya Anes kepada entah. Tapi ia harus tahu, lanjutnya. Diketuknya dengan mantap pintu dan mengucap salam.

“Tuan Yesa, ini Anes.”

Ia mengulangi beberapakali salam itu hingga ia kesal kepada Yesa dan berniat memarahi Yesa ketika pintu dibuka. Tetapi tak lama setelah kekesalannya itu, seseorang membukakan pintu. Kau salah, itu bukan Yesa, melainkan pembantunya yang kerap diajaknya tidur bersama.

“Adik Anes, Tuan Yesa tidak ada di rumah. Ia pergi ke kedai minum.”

“Kedai minum yang mana?”

“Adik pasti tahu. Bukannya tak sekali ini ia pergi ke sana dan adik mencarinya?”

***

“Benarkah Tuan tidak marah?” tanya Anes ketujuh kalinya.

“Sudah kukatakan kepadamu enam kali dan inilah yang ketujuh, apalah arti satu domba itu daripada tenagaku yang terbuang lantaran menendangmu tiga puluh empat kali sesuai hasil yang dikeluarkan dubur dombaku terakhir kali sebelum menghilang, lalu kepalamu kupukul dengan tongkat gembala yang kau bawa sendiri sebanyak jumlah berat badan dombaku paling berat? Pulanglah! Hari telah larut.”

Anes meninggalkan kedai minum yang makin sesak itu dengan hati yang lapang. Dan ia telah membuat janji, seperti ini janjinya tersebut: di akhir pekan, ia akan turut ke Bait Allah untuk berdoa dan mengucapkan syukur, meski orangtuanya adalah penyembah patung-patung dan menggemari ilmu sihir.

Kau pasti bingung, tampaknya ada bagian yang belum dijelaskan dalam cerita ini. Oleh karena kepentingan cerita ini, maka kau harus sepakat untuk mundur kembali beberapa waktu sebelum hal tak terduga bagi Anes itu tidak menjadi sebuah masalah.

Ketika Anes mencapai kedai minum langganan Yesa, ia langsung melipir ke meja pembuat minuman, dan ia mengajukan pertanyaan: di manakah letak meja Tuan Yesa?

“Apa urusan anak kecil datang kemari?” jawab pemilik kedai minuman.

“Saya pengembala domba-domba milik Tuan Yesa. Ada satu hal yang saya harus sampaikan.”

“Ah, hal itu, aku juga mendengarnya dari pemasok minuman yang tiap bulan datang ke sini mengantarkan minuman kepadaku,” celetuk pembuat minuman. “Kau hanya perlu menaiki tangga di belakang tirai itu. Ia selalu berada di meja yang menghadap jendela.”

Maka Anes membungkuk dan menyisir ke arah yang dikatakan pembuat minuman. Yesa tepat di sana, di balik jendela dengan beberapa minuman. Di lantai atas itu, hanya ada sepuluh meja. Yesa duduk di meja sebelah kiri dan tempat duduknya nomor satu jika kau menghitung mulai dari atas paling kiri.

“Tuan Yesa,” salam Anes dengan nada yang meminta dikasihani.

“Pulanglah. Hari telah larut,” balas Yesa. “Aku tahu tujuanmu datang kemari.”

Dan selanjutnya beginilah yang dituturkan Yesa: kau pasti sudah menjumpai si pembuat minumankan? Ia yang memberitahuku. Ia katakan kabar itu didapatnya dari si pembawa minuman yang kebetulan melintas dari jalur antar kota. Seekor domba memasuki hutan. Ia tanda dengan kalung domba tersebut. Dan memberitahunya kepadaku.”
Dan Anes membantah sampai tujuh kali dan ia kemudian pulang.

***

Kau tahu, cerita ini tidak pernah populer, lantaran seorang lelaki dengan jenggot yang panjang bercerita tentang hal yang sama dan orang-orang yang mendengarkannya terpukau dan sedikit dari banyaknya orang itu mengabadikan cerita tersebut menjadi manuskrip dan kau bisa membacanya dalam Matius 18: 12-14 dan Lukas 15: 3-7.

Tetapi sesungguhnya cerita ini nyata, seorang lelaki di sebuah kedai minum menceritakannya ketika sang juru cerita ini ketika hendak membeli sop ular untuk keponakannya yang batuk-batuk berhari-hari.  Dan seorang lelaki itu mengaku diceritakan oleh bapaknya yang juga ahli bercerita ketika banyak menenggak tuak, dan begitu seterusnya dari keturunan satu ke lainnya.

Sang juru cerita masih ingat kebenaran mengapa Yesa tak marah dan tak menyuruh Anes mencari domba itu. Siang hari sebelum hilangnya domba Yesa dan Anes pulas mendengkur, sang pemasok minuman beristirahat di pematang rumput tempat Anes sering mengembalakan domba-domba. Tukang bakul itu melantur, mungkin karena lelah, begini: sungguh papa hidup Mat si duda yang kehilangan kekayaannya lantaran terbakar. Tak ada keluarga dan miskin bertahun-tahun. Tiap malam kedinginan. Bagaimana jika aku tak memberikannya anggur untuk melewati dinginnya udara?

Domba-domba mendengar ceracau itu dan mereka paham lantaran telah lama akrab dengan manusia. Tetapi satu domba menghampiri orang itu dan berucap di manakah orang itu tinggal? Biarkan buluku, yang hanya membuat Yesa keparat itu makin kaya, kuserahkan kepadanya dan dagingku dimakannya. Orang itu tak pernah kaget dengan keanehan itu lantaran ia mendengar bahwa beratus mil dari tempatnya rebah sebuah laut terbelah dua dan banyak orang mempercayai cerita itu dan kisah-kisah lainnya. Orang itu menunjukkan jalan kepada domba dan bertanya sebelum mereka berpisah: apakah kau domba milik Yesa? Domba itu menjawab untuk seterusnya tidak dan berlalu meninggalkan semua yang di belakangnya dan orang itu menitipkan pesan itu kepada pemilik kedai minuman dan kedai minuman menceritakannya kepada Yesa, tanpa Anes sekalipun tahu. Tetapi kau seharusnya meneladani sang juru cerita, Yesa, dan tokoh lainnya bersyukur melihat Anes bertobat.


Radja Sinaga, lahir 20 Januari 2000. Alumni Kelas Menulis Prosa Sumatera Utara 2019. Sejumlah cerpennya tersiar di media lokal dan nasional, diadaptasi menjadi naskah teater, dan digunakan menjadi bahan pembelajaran FBS Sastra Indonesia Unimed. Pegiat Komunitas Lantai Dua (Koldu). Mahasiswa PBSI, Universitas HKBP Nommensen Medan.