Puisi-puisi Fian Jampong

Puisi-puisi Fian Jampong
(Puisi, Fian Jampong)

Perihal Mencintai

Berbahagialah kau yang kucintai dengan kekurangan
Sebab dari situ kau dan aku memahami bahwa
Cinta itu tak mesti dirakit dari emas dan perak.

Berbahagialah aku yang kau cintai dengan air  mata
Sebab dari situ kau dan aku mengerti bahwa
Cinta itu lahir dari suatu pengorbanan.

Berbahagialah kau dan aku yang saling mencintai
Mesti penuh kekurangan dan air mata
Kita tetap sepaham bahwa
Kebahagiaan itu lahir dari kekurangan dan air mata.

Senja Februari 2019

Tak Usai

Seusai usia
Kelana aku dalam senja
Yang kau titip
Pada album renta.

Seusai belia
Kau dan aku
Suka hal-hal yang fana.
Acuhkan baka.

Seusai rinai
Berderai kita.
Dalam duka yang
Tak kunjung selesai
Pada mata.

2019

Di Sungai Itu

Kita basah-basah
Kau basah,
Aku basah,
Hingga lupa kita telah senja.

‘mengapa kau suka basah’:
Tanyamu di sela-sela basahmu.
Aku atau kau yang basah.
Tidak. Aku tidak basah.
Hanya saja sejenak basuh
Peluh kisah di sungai itu.

2019

Kekasih Gelap

Rona merah bibirmu
Menempel di mataku
itu yang membuatku rindu
tuk mengecupnya sambil bermimpi.

Senyum sumringahmu
masih terngiang di kepala,
memaksa aku,
menjumpaimu berkali-kali.

Halus kulitmu terasa tetap
erat melekat dalam ingat,
kala kau sepakat kusetubuhi
dalam sunyi.

Berita Terkait :  Tiga Anak Rendra Bakal Baca Puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi

2019

Perihal Sebuah Cermin

Segera setelah kau terjaga
dari mimpi-mimpimu
jangan lupa menyapa
sambil tersenyum dan bicara:
Kau itu siapa?
Siapakah kau, siapa serupa
Kau di dalam kaca berupa
Kau di dalam rumah siapa
Kau yang bicara pada siapa
Aku. Atau kau. Atau engkau
Selaku aku yang sibuk melipat jarak.
Biar ganteng dan manismu laku
Biar mimpimu tak retak
Cermin yang nakal
Aku nakal di dalam kau,
Kau nakal di dalam aku
Hingga aku paham:
Mungkinkah ada yang sedang hilang?

2019

Tak perlu lagi

Kau tak perlu lagi menemuiku. Ketidakcintaanmu pada cintaku hanya akan menanamkan kebencian terhadap kehadiranmu. Pergilah. Menjauhlah. Dan carilah cinta yang benar-benar membuat bencimu sirna.

Kau tak perlu lagi mengenangku. Aku benci pada kisah kasih tentang kita yang kau rangkai dengan kemunafikanmu. Kau tahu, aku bersungguh-sungguh ketika mencintaimu. Mencintaimu, aku benar-benar tulus. Kau justru asyik bermain dengan kata sandiwara.

Sandiwara, itulah alur kisahmu sesungguhnya.

Tak perlu lagi, kau berkata-kata tentang kebahagiaan, sementara kau sendiri tak paham benar apa itu kebahagiaan. Kebahagiaan – menurutmu – merangkai sebuah kisah dalam aneka sandiwara dengan aroma kebencian yang terpancar dari senyum sinismu.

Tak perlu lagi.
Tak perlu lagi.
Kau tak perlu lagi berbicara tentang cinta,
lantaran cinta ialah benci yang kau tanam dalam dirimu
agar tersemai dalam diriku.

Berita Terkait :  Kota Suatu Malam

Moncong Pencuri

Tak ada yang lebih berbaya dari
Tikus-tikus yang bercecit di kolong langit
Diaturnya strategi untuk mencuri
dari sesuatu yang bukan milik mereka.

Tak ada yang lebih sadis
Dari tikus-tikus yang beraksi di siang bolong
Berjalan di setiap lorong
Menuai segala yang tidak pernah mereka tabur.

Tak ada yang lebih-lebih
Dari tikus-tikus yang mencuri
Disembunyikan ekornya
Lalu menunjukkan moncongnya kepada setiap pejalan kaki yang lewat.

Wisma Rafael, Februari 2019.

Fian Jampong; pria kelahiran Manggarai Barat, 24 Februari 1993. Suka menulis puisi, sajak, cerita mini, cerpen dan lain sebagainya. Beberapa karyanya pernah dimuat di media koran lokal dan juga media online. Suka menyeruput kopi sambil berimajinasi. Telah menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero-Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sekarang tinggal di Ende dan menjadi staf pengajar di Pondok Pesantren Walisanga Ende.

Tinggalkan Balasan