Menunggu Hujan dengan Vira dan (Sebuah) Doa

-

Menunggu Hujan

Mula-mula saat kulihat langit mendung
Aku bergegas merias diri

Kupilih-pilih lipstik mana yang serasi
Dengan warna hujan

Aku menyisir rambutku
Kuserupakan membentuk garis lurus
Yang menyerupai gerimis

Kekasihku berada di kota jauh
Dan aku rindu.

Tetapi, alam khayal sangat luas
Dan aku tahu cara terbaik
Mengelabui jarak dan waktu

Kubayangkan ia menjelma setiap gerimis
Yang jatuh melalui atap-atap rumahku

Aku ingat, ada satu titik yang bocor
Sementara aku telah berada tepat di bawah
Celah atap itu.

Dengan diri yang telah sempurna kurias
Kurasakan tetes pertama jatuh di keningku

Di alam khayal telah kau kecup aku
Melalui gerimis yang kubayangkan sebagai dirimu

Berita Terkait :  Stanza Rumus Luka | Puisi Firmansyah Evangelia
Berita Terkait :  Arwah Penari

Sejenak aku berlari ke halaman
Agar hujan membasahi tubuhku
Agar engkau sepenuhnya memelukku.

November, 2018

 Dengan Vira

/I/

Kita disatukan takdir
Menjadi kekasih yang tak getir
Dan berjanji bersama sampai akhir

Sebuah keinginan kelak menikah
Memiliki permata;

Saat baru lahir tangisnya melengking
Ke tengah-tengah semesta

Matanya bercahaya sempurna
Bagai purnama

Kau menggendong anak kita
Aku mencium keningmu

/II/

Ia tersenyum
Dan sepasang burung yang melihat kami
Tiba-tiba pergi, kupikir
Ia cemburu atau iri

Di luar rumah saat malam hari
Dua ekor tikus berlarian
Tampaknya jantan dan betina
Kubiarkan saja,

Sejenak aku teringat
Dulu sekali pernah kita mengalaminya
Berkejaran berdua
Dan tak berpikir orang di sekitar

Berita Terkait :  Keadilan Sosial

Apakah mereka senang dengan kebahagiaan kita?
Atau kita mengganggu?

Berita Terkait :  Berteduh di Bawah Tuhan | Puisi Fiezu

Tetapi, bukannya dengan begitu
Cinta bekerja sesuai hakikatnya.

November, 2018

Doa

Apa yang mesti kupersembahkan pada-Mu
Sementara kabut gelap di lorong-lorong jiwaku
Menumpuk dengan berbagai bentuk dosa?

Seakan dengan dosa kucapai puncak gunung paling tinggi
Seakan dengan gelapnya jiwa kucapai luasnya samudra

Maka, selain pengampunan-Mu, Tuanku
Bisa apa aku si lemah ini
Tinggal di kerajaan-Mu yang megah itu?

Yogyakarta, 2018

Puisi karya Hendri Krisdiyanto: lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di berbagai media, baik cetak maupun online. Sekarang aktif di Garawiksa Institute.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Berita Terkait :  Peradilan Keluarga Amor

TERBARU

Facebook Comments