Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Jadul Maula

Setelah Jadul Maula, Terus Siapa?

Resensi Buku

M. Jadul Maula | Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan | Yogyakarta: Pustaka Kaliopak, 2019, xxviii + 340 halaman.


Oleh: Zacky Khairul Umam
Wakil Kepala Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities, Universitas Indonesia


Aktivisme kebudayaan yang tidak disertai intelektualisme itu ibarat mengaspal jalan tapi tapi tak ditopang fondasi beton yang kokoh. Jika hanya lumeran aspal saja, jalan memang bisa mulus, kendati bertahan dalam hitungan bulan. Lihat saja di kampung-kampung kita, biasanya jalanan dipermulus mendekati pemilihan kepala daerah. Itu pun dilakukan separoh hati. Beton tak pernah diperkuat, hanya kerikil dan aspal saja yang sembarangan diratakan.

Maka tak heran, kita sebagai pengendara berkeluh kesah pada lubang jalan yang menganga, kerap kali digenangi air di musim penghujan, dan membuat kita tak nyaman berkendara motor atau mobil. Sedikit dari kita yang paham bahwa fondasi jalanan ini rapuh. Pemerintah atau pihak berwenang hanya bisa mempermulus sesekali, itu pun dengan anggaran yang diserap dari uang rakyat. Seolah tidak ada visi kemajuan: jalanan berkualitas mempermudah mobilitas, lalu lalang orang dan barang, serta memperlancar roda ekonomi.

Namun, visi hadir dari kejernihan pikiran, kepekaan moral, dan kepedulian sosial. Visi kebudayaan yang cemerlang pun sama saja. Untuk memperkuat gerak kebudayaan, dibutuhkan olah pikiran yang cemerlang. Jadul Maula (kemudian: Maula), salah seorang “anak muda NU” garda depan dari generasi 1990-an menyadari hal itu. Bersama kawan-kawannya di Yogyakarta, ia aktif menggabungkan antara gerakan dan pikiran dalam satu tarikan napas yang relatif terjaga hingga saat ini. Ia menubuhkan intelektualismenya dalam ruang kelembagaan yang beragam, dari dunia penerbitan, advokasi sosial-politik hingga dunia pesantren.

Tidak semua hasil pikirannya terdokumentasikan. Untung saja, di dalam Islam Berkebudayaan, Maula mengumpulkan makalah berserakan menjadi satu buku yang pantas kita nikmati. Ini adalah buku yang mengajak kita merenung kembali soal jati diri kita secara individual maupun kolektif. Subjudul dari buku ini mencakup pembahasan yang menarik dan, kadang kala, luput dari perhatian atau bacaan kita mengenai tradisi, sistem ketatanegaraan klasik dan modern, sekaligus persoalan kebangsaan. Maula adalah salah satu ideolog terpenting dalam penelahaan Islam Nusantara, bahkan sebelum istilah ini menjadi begitu masyhur belakangan.

Sebagai pembaca, saya menemui kesulitan teknis. Maula atau editornya tidak membagi 16 esai ini menjadi beberapa bagian khusus, misalnya sesuai dengan subjudulnya. Pembagian ini harusnya ada, biar mempermudah pembaca untuk melompat sekehendak hati membaca sesuatu yang paling diminatinya sebelum membaca dan menelaah hal lain. Selain itu, ketiadaan indeks menyulitkan saya untuk melacak kembali tokoh kunci atau peristiwa penting dalam sejarah kebudayaan Islam di tanah air. Walaupun, kesulitan teknis ini justru memaksa saya—dan barangkali pembaca lain juga—untuk menelusuri tiap halaman sehingga mencerap gagasan total yang ingin dihadirkan sang penulis.

Apa itu “Islam berkebudayaan” yang menjadi judul buku ini? Maula menggunakannya sebagai cara pandang, perspektif, atau bahkan metode untuk menelusuri gerak kebudayaan Muslim di Nusantara melalui sejarah dan dinamikanya dari zaman dulu hingga persoalan hari ini. Sejarah dan sastra Jawa memang mendominasi alam pikiran yang tertuang di dalam buku ini, tetapi Maula juga melalang buana ke ceruk kelokalan yang lain dari sudut Aceh dan Buton, misalnya, untuk melihat keragaman ekspresi keislaman. Sebab, ia memahami bahwa Nusantara ini merupakan penjumlahan dari berbagai wujud syariat/kebudayaan yang hakikatnya bermuara menjadi satu: Islam Nusantara itu sendiri.

Jika misalnya ia lebih mengakrabi kosa kata, istilah, dan rumus dari kejawaan, karena dari situ ia berasal dan merefleksikan diri sebagai seorang Jawa sekaligus Muslim dengan berbagai rekonfigurasinya yang panjang terentang sejak zaman Sunan kalijaga lima abad silam. Lagipula, kejawaan atau sebut saja kejawen ini adalah titik berangkat untuk memahami kosmologi masyarakat Muslim yang harus melewati suatu pembumian atau “pribumisasi” menurut Gus Dur antara wahyu dan adat. Kita kemudian mendapati sebuah pencerahan bahwa wahyu dan adat ini tidaklah bertentangan, dan saling melengkapi, sebab keduanya datang dari sumber yang sama tetapi melalui kanal informasi atau pengetahuan kultural yang berbeda.

Dari pembacaan ini, Maula menyoal misalnya tentang teorema yang sudah diterima bulat-bulat di ranah Minang: adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Maula melalui penelusuran historis-genealogisnya mampu menyodorkan satu teorema yang lebih umum dan terverifikasi, yakni syarak basandi adat. Kata ‘kitabullah’ justru dipertanyakan kevalidannya. Ini bukan sebuah penentangan Maula atas syariat Islam tentu saja, tetapi ia sedang mengangkat hikmat kebijaksanaan yang sesungguhnya saling menyapa, berdialog: tidak ada pertentangan antara hukum ilahi dan hukum manusiawi. Cara ia menyuguhkan kritik kebudayaan seperti ini terulang manakala ia harus melihat penubuhan syariat Islam di Aceh yang tidak sesuai dengan semangat syariat Islam yang diberlakukan pada masa kerajaan dulu.

Demikian halnya, ketika ia membela kosmologi kraton Yogyakarta yang sulit untuk menempatkan perempuan sebagai sultanah, bukan karena Maula anti-feminisme, tetapi ia terangkan dengan jernih melalui kerangka etis dari kedaulatan sultan dalam rentang sejarah dan juga etika politik yang terbangun sejak masa silam. Cara ia membaca konflik 65 pun sangat khas sebagai sebuah dinamika kebudayaan panjang yang terpolarisasi sejak zaman kolonial hingga politik tahun 50-an. Anda akan mendapati rangkaian argumen yang orisinal dan patut dikembangkan lebih jauh.

Secara umum, kita memperoleh argumen yang berlapis dan enak untuk diikuti di dalam buku ini. Sang penulis, karena lahir dari ruang waktu intelektualisme 1990-an, banyak mengambil argumen dari para pemikir Timur Tengah nomor wahid yang sebagiannya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh LkiS, penerbit yang dulu ia dirikan. Ditambah dengan referensi lain dari sarjana Barat yang ikut memperkokoh jalan pikirannya. Selain itu, Maula dengan asyik menelusuri berbagai manuskrip, juga sumber primer berupa serat dan kitab sejarah, ditambah dengan sumber lisan dari berbagai otoritas intelektual yang dipadu dengan penelusuran pada sumber-sumber berbahasa Arab yang mumpuni. Beberapa esai yang ada, karena itu, menjadi penting bagi para sejarawan dan ilmuwan lainnya untuk ditelaah kembali sebagai referensi berharga di masa mendatang. Sebab ada berbagai transformasi kebudayaan, baik yang bersifat tekstual maupun secara luas bersifat material dan gerak sosial, yang penting untuk memahami bagaimana Islam di Nusantara terbentuk.

Kumpulan esai panjang ini bisa diangap sekaligus sebagai sebuah manifesto kebudayaan, mungkin lebih secara tersirat. Buku ini juga sebuah pergulatan panjang mengenai gagasan yang harus dimenangkan karena bersumber dari penglihatan jujur pada sumber sejarah, sastra, juga mentalité yang tidak kelihatan secara kasat mata. Tidak bisa dielakkan, gagasan Islam Nusantara kini malah menjadi ruang kontestasi, bukan hanya yang terjadi di dalam tubuh NU saja, melainkan wacananya sejak satu dekade belakangan mulai menjadi perhatian lebih dari para aktor dan Muslim lain yang sebelumnya acuh tak acuh atau malah menaruh curiga pada berbagai cerita Walisanga sebagai mitos belaka. Maula, di dalam ruang kontestasi ini, tetap tenang dan menampilkan otentisitas pada dirinya. Saya pikir, otentisitas ini yang menjadi pembeda antara dirinya atau budayawan lainnya setipe dirinya dengan yang lain. Toh, zaman juga akan menjawab manakah suara paling bernas dari “Islam berkebudayaan” itu.

Berbagai lukisan dan puisi klasik juga modern yang disisipkan di dalam buku ini membuat imajinasi kita melengkapi bayang-bayang Ketika kita membaca. Lukisan Ziarah karya Abdul Kirno atau Suluk 2 karya Kiai Rohmat Rizal misalnya ikut mempercantik tampilan estetis sekaligus menarik kita secara paksa pada lorong waktu kebudayaan yang dibentangkan Maula. Martin van Bruinessen, guru dan rekan dialog menyenangkan bagi kawan-kawan Indonesia, benar saat membuat judul pengantar untuk buku ini, “santri kelana di jejak Sunan Kalijaga.” Maula adalah anak cucu keturunan ideologis dari Sunan Kalijaga dengan berbagai inovasi dan kreativitasnya. Saya teringat suatu momen di Istanbul: banyak anak muda Turki yang bangga dengan kebudayaan Muslim yang terbangun masa Daulah Usmaniyyah. Mereka menyebut diri sebagai Osmanlı torunu “anak cucu Usmani”. Dalam ritme yang sama, Jadul Maula dan lainnya bisa disebut sebagai “anak cucu Walisanga”.

Pertanyaannya, jika intelektualisme Maula ikut memperkuat fondasi kebudayaan Islam Nusantara yang saat ini digandrungi juga disalahpahami, akankah generasi masa kini dan ke depan akan ikut jalan yang cenderung sepi yang telah dan terus dilaluinya? Ataukah kita hanya suka mengaspal rutin tapi tak peka pada penguatan beton? Maula suatu saat boleh disebut sebagai Embah-nya Islam berkebudayaan sesuai nama depannya, jadd, tapi masa depan adalah milik sang cucu yang meneruskan. Barangkali inilah yang jadi pikiran seriusnya, sesuai dengan judul esai pertama di buku ini, “Inikah Akhir Zaman Budaya Kita?” Mudah-mudahan tidak, Embah!