Mengenang 150 Tahun Vladimir Lenin: Pendiri Negara Komunis Pertama

Vladimir Lenin
(Foto: Sputnik)

Berita Baru, Tokoh – Berbicara mengenai Revolusi Oktober atau Revolusi Bolshevik, tentu tidak bisa dilepaskan dari peran Sang Kamerad, Vladimir Lenin. Perannya dalam Revolusi Oktober sangat penting, bahkan ada yang mengatakan, tanpa Lenin revolusi menggulingkan dinasti Tsar Nikolai II akan gagal.

Dan pada hari ini, 22 April 2020, tepat 150 tahun kelahiran Lenin.

Sudah banyak buku atau tulisan yang membahas tentang Lenin, baik pemikiran, biografi hingga sepak terjang politiknya. Dalam rangka mengenang satu setengah abad kelahirannya, izinkan penulis menyajikan beberapa catatan mengenai kehidupannya.

Berhasil Membunuh Pesimisme dalam Dirinya

Berita harian Sputnik menyebutkan bahwa Lenin tidak pernah menyangka Revolusi 1917 akan berhasil. Tidak peduli seberapa konyol kedengarannya, bapak revolusi Soviet sebenarnya tidak berharap besar terhadap usaha revolusi. Lenin dengan pesimis pernah mengatakan bahwa hanya generasi masa depan yang akan menyaksikan revolusi sosialis.

Sikap Lenin yang seperti itu bisa kita pahami jika melihat sejarah pergerakan buruh sejak 1905, di mana di tahun-tahun itu ribuan aktivis, kaum buruh dan kaum pergerakan lain dipenjara, dieksekusi, dan diasingkan. Setiap kali ada usaha atau ide revolusi dari kaum buruh, Tsar selalu berhasil menghancurkannya. Di situ, Lenin mulai memikirkan: apa sebenarnya yang membuat mereka kalah? Mungkin di sinilah bibit pesimisme itu mulai tumbuh.

Lalu di tahun 1910-1914, dengan bahan bakar ‘kapitalisme selalu menindas rakyat’, gerakan buruh kembali bangkit. Di tahun 1912 para buruh melakukan pemogokan besar-besaran. Hampir berhasil. Namun, adanya Perang Dunia I membuat Tsar II beruntung. Slogan perlawanan dari kaum buruh mendadak berganti menjadi slogan nasionalisme: selamatkan bangsa dari penjajahan, hidup mati untuk negara dan bela tanah air.

Jutaan rakyat menjadi korban perang, dan buruh masih terlunta-lunta dan tercekik.

Berita Terkait :  Rusia Memberi Medali kepada Kim Jong Un atas Jasanya pada Tentara Merah

Barulah keberhasilan Revolusi Februari 1917 (ada versi yang mengatakan hari tepatnya 8 Maret), menjadi langkah baru bagi Soviet. Di tahun-tahun ini, para buruh mengaca pada pengalamannya dan berhasil menggulingkan Dinasti Tsar Nikholai pada Revolusi Oktober.

Lenin berhasil kembali dari pengasingannya dan memenangkan seluruh partai Bolshevik berkat Tesis April-nya, yang juga senada dengan program dari Leon Trotsky.

Dengan demikian, bisa dipahami bahwa setelah puluhan tahun mengalami kegagalan, Lenin menjadi pesimis atas gerakan revolusi Rusia. Namun, sikap pesimis itu kemudian ia bunuh setelah melihat para perempuan Rusia ikut turun dan bergabung menggulingkan kekaisaran Tsar II yang berlangsung ratusan tahun.

Sang Tuan Tanah yang Miskin

Lenin sebenarnya adalah tuan tanah. Tapi tidak seperti tuan tanah lainnya, dia miskin. Bagaimana bisa seperti itu?

Kita harus kembali pada Lenin ketika berusia 19 tahun. Waktu itu, ia mengelola tanah milik keluarganya. Kematian ayahnya membuatnya terpaksa melakukan itu.

Namun Lenin tidak bakat menjadi tuan tanah. Selama menjadi tuan tanah, ia hanya menghasilkan sedikit uang. Bagaimana tidak, banyak petani yang ia pekerjakan ternyata mencuri kuda dan sapinya.

Dan setelah itu, ia menjual tanah milik keluarganya dan pindah ke kota bersama seluruh keluarganya.

Ateis Tapi Menikah di Gereja

Ada yang mengatakan bahwa Lenin sudah memproklamirkan diri menjadi ateis sejak umur 18 tahun. Ada juga yang mengatakan Lenin ateis sejak masuk Universitas Kazan pada tahun 1887, yang berarti umut 17 tahun. Lalu ketika menjadi mahasiswa, Lenin mulai ngaji Das Kapital dan kitab suci marxisme lainnya.

Berita Terkait :  Pendaftar Pertama, Rusia Mengaku Telah Mengembangkan Vaksinnya Selama 6 Tahun

Dan sebagaimana Marx, Lenin juga menentang gereja. Karena gereja adalah salah satu pilar yang membuat penindasan proletar oleh borjuis tetap kukuh. Selain itu, ketika masih ada gereja, masyarakat tanpa kelas – yang menjadi mimpi bersama, akan mustahil tercapai.

Namun, Lenin melangsungkan pernikahan di gereja pada tahun 1898 dengan Nadezhda Krupskaya (ada yang memanggilnya Nadya). Mungkin ini sedikit dilematis, karena Nadezhda Krupskaya hanya bisa menemani perjalanan hidupnya jika pernikahan mereka secara resmi terdaftar di gereja. Pilih cinta, atau ideologi?

Vladimir Lenin dan istrinya Nadezhda Krupskaya

Bagi Lenin dan Krupskaya, mereka pun memutuskan untuk mengesampingkan oposisi ideologis mereka dan setuju untuk bersandiwara. Tidak hanya itu rintangan yang mereka hadapi.

Pernikahan mereka pun hampir gagal karena mereka tidak dapat menemukan saksi yang tepat untuk upacara pernikahan mereka. Akan tetapi, akhirnya mereka berhasil merekrut beberapa petani lokal dan warga desa lain sambil memberikan mahar cincin dari koin tembaga.

Memiliki 150 Lebih Nama Samaran

Menjadi aktivis berarti beresiko namanya terdaftar di beberapa aparat dan pihak berwenang. Begitu juga dengan Lenin. Namanya sudah sering menjadi target utama kepolisian Tsar dan pemerintahan saat itu.

Untuk menghindari penangkapan, Lenin terpaksa harus menggunakan beberapa nama samaran. Bahkan ia juga mempunyai beberapa identitas palsu.

Vladimir Lenin berbicara di kantornya di Kremlin dengan penulis Inggris Herbert George Wells pada 5 Oktober 1920.

Menurut Sputnik, diperkirakan Lenin memiliki sekitar 150 nama samaran, termasuk nama Lenin itu sendiri.

Nama aslinya adalah Vladimir Ulyanov. Asal usul nama “Lenin” tetap menjadi misteri hingga hari ini. Ada beberapa yang mengatakan bahwa nama ‘Lenin’ adalah turunan dari nama sungai yang terletak di dekat tempat kelahirannya, Lena.

Berita Terkait :  Keis Burdam dan Manisnya Buah Naga dari Papua

Nama panggilan atau nama samaran yang mungkin terkenal di kalangan kawan-kawan dari Partai Komunis, adalah “Old Man.”

Selamat dari Upaya Pembunuhan

Sebagai catatan, mungkin ini bisa menjadi pelajaran untuk masa depan, bahwa sebelum Revolusi 1917, hidup Lenin memang diselimuti oleh bayangan penangkapan. Namun setelah Revolusi, ia diselimuti oleh bayangan kematian. Hidupnya lebih terancam setelah revolusi berhasil.

Mengutip Sputnik, Setidaknya ia selamat dari upaya pembunuhan sebanyak 3 kali:

Pertama, beberapa bulan Revolusi 1917, tepatnya 1 Januari 1918. Dia akan dibunuh oleh sekelompok orang pada saat ia akan melakukan rapat dengan rekan-rekannya. Namun ia selamat karena para pembunuh mendadak kehilangan Lenin.

Kedua, di tahun yang sama, yakni 30 Agustus 1918. Anggota Partai Revolusioner Sosialis Fanny Kaplan menembaknya tiga kali ketika ia meninggalkan rapat. Kaplan berhasil menembaknya di tangan dan leher hingga mengakibatkan luka serius. Namun, Lenin kembali berdiri memimpin.

Ketiga, pada bulan September 1919. Pada saat itu, Lenin selamat dari rencana pengeboman di Moskow. Seharusnya Lenin mengisi sambutan di acara itu. Namun, beruntung bagi Lenin karena ia terlambat datang dan bomnya meledak sebelum ia tiba.

Ada banyak hal yang masih belum diungkap dalam kehidupan Lenin atau Vladimir Ulyanov. Namun, setidaknya pengalaman dan sejarah hidupnya telah memberikan banyak pelajaran bagi kita semua.

Tentu masing-masing dari kita punya pandangan berbeda terhadap Lenin. Adanya yang menyesalkan kematiannya karena sosialisme belum berhasil, ada yang mengutuknya, ada juga yang menyalahkan tafsirannya atas Marx, dan sebagainya. Namun, bagi saya pribadi, ia adalah seorang guru, sebagaimana juga Marx.  

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

3 × 4 =