Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Turki

Catatan Hitam Turki yang tak Sepenuhnya Bermakna Hitam

Oleh: Chusnul C.*


Judul Buku:Kitab Hitam Turki
Penulis:Bernando J. Sujibto
Penerbit:IRCiSoD
Cetakan:Pertama, September 2021
Tebal Buku:182 hlmn
ISBN:978-623-6166-65-9

Berita Baru, Resensi – Hal pertama yang menarik dari buku ini yakni karena Bernando J Sujibto (BJ) membahas Turki dengan memosisikan diri sebagai subjek yang pernah bersinggungan secara langsung. Aroma kedekatan antara penulis dan Turki termanifestasi dalam cara ia menyampaikan gagasannya. Begitu mengalir dan mudah dipahami.

Selain itu, buku ini juga diselingi beberapa kosakata Turki. Dari pemilihan judul misalnya, kata “kitab” dalam bahasa Turki juga diartikan sebagai buku. Dengan kata lain, pemilihan diksi “kitab” pada judul buku, dimaksudkan atau tidak, memberikan efek meyakinkan pembaca bahwa buku ini benar-benar mengulas Turki.

Di sisi lain, pemilihan judul “Kitab Hitam Turki” saya rasa terpengaruh dari kajian pribadi BJ mengenai Orhan Pamuk sebagaimana banyak ia ulas dalam buku ini. Pada tahun 1990, Pamuk menulis buku berjudul “Kara Kitap” yang berarti Buku Hitam.

Buku ini menyajikan Turki yang lain—yang hitam—yang luput dari sorotan media internasional, dan yang tak populer di algoritma pembaca Indonesia. Membaca “Kitab Hitam Turki” terasa seperti diajak jalan dari pinggiran dan melihat hal-hal yang tak tampak jika dilihat dari pusat, dari sebuah kunjungan, kemudian belok kiri dan selesai di layar kebudayaan.

Dari sembilan (9) artikel, dua (2) artikel pertama bertemakan komunis, tema yang akan selalu renyah di goreng politisi Indonesia di setiap September tiba atau menjelang pemilu. Melalui dua (2) tulisan ini, penulis seolah ingin mengonter balik pemahaman pembaca Indonesia dengan menghadirkan realitas yang sama sekali berbeda: tentang anggota partai komunis yang terpilih menjadi bupati Ovacik, sekaligus untuk pertama kalinya terjadi di Turki.

Tokoh fenomenal yang mengukir sejarah dalam perpolitikan Turki itu bernama Fatih Mehmed Macoglu. Ia merupakan anak petani dari desa dan pinggiran namun memenangkan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) pada 30 Maret 2014. Ia digambarkan bekerja sebagai kepala daerah yang sangat menjunjung dan membumikan nilai-nilai sosialisme yang sama rasa sama rata. Salah satunya dengan mempraktikan transparasi keuangan.

“Kami dipilih oleh rakyat, dan kami harus transparan terhadap mereka. Menjadi transparan kepada rakyat tidak ada kaitannya dengan ideologi. Tetapi, ini cara yang mutlak dilakukan oleh pekerja sosialis. Ketika cara seperti ini dilakukan, anda sudah merakyat (halklasiyorsun) dan mencapai proses bersama kerakyatan (halklilasiyorsun). Andai saja setiap pemerintah daerah melakukan seperti yang kami lakukan, banyak masalah yang bisa teratasi,” ujar Mehmed, sebagaimana dikutip BJ (halaman 55).

Mehmed menjadi pemimpin yang teladan dan merakyat bagi masyarakat Ovacik. Ia bahkan mencita-citakan Ovacik, wilayah yang miskin dan banyak hutang itu, menjadi tempat orang-orang berbahagia sebagaimana yang terjadi di Kuba. Beberapa tahun kemudian, 31 Maret 2019, ia kembali memenangkan pemilihan. Untuk kali kedua, ia memenangkan pemilu. Hanya saja bukan sebagai bupati, tetapi wali kota. Dan sebagaimana sebelumnya, ia pun menjadi walikota pertama yang berasal dari partai komunis.

“Keteladanan seorang Mehmed bisa dilihat dari caranya mengayomi rakyatnya yang hadir ke tengah-tengah mereka. Ia tidak memakai mobil dinas bermerk Renault Megane yang menghabiskan bensin 400-500 liter per bulan dan dianggap pemborosan. Uang bensin mobil dinas itu dipakai untuk membiayai bus kota yang digratiskan kepada rakyatnya. Mehmed juga tidak jarang naik angkutan umum bersama rakyat sipil dan anak-anak sekolah. Dari pengalaman demikian, kepekaan dan kesadaran terhadap persitiwa-peristiwa biasa yang dialami dan menimpa rakyatnya langsung dirasakan dan diaktualisasikan ke dalam sistem sosial yang semakin memperkuat partisipan rakyat,” tulis BJ (halaman 62).

Upaya mengonter balik pemahaman komunisme tidak saja berhenti pada penonjolan karakter Mehmed sebagai kepala daerah yang merakyat, namun juga menggarisbawahi Mehmed sebagai komunisme yang bertuhan. Penulis menganalogikan Mehmed sebagai Tan-Malaka, sosok yang membaca sosialisme dan komunisme dengan mendialektikakannya dengan konteks lokal. Dalam nalar pikir masyarakat Indonesia yang “religius” ini, poin komunisme beragama menjadi semacam pernyataan bahwa komunisme  atau penganut paham sosialis tidak seburuk yang dipikirkan orang-orang kebanyakan.

***

Selain artikel bertema komunis, tujuh (7) artikel lainnya juga tak kalah sensitif, yaitu tentang pengungsi dari bangsa yang kalah perang, hubungan Turki- Arab Saudi, nasionalisme dan karakter bangsa Turki, militerisme, hingga kebudayaan. Seluruh tema yang diusung dalam buku ini tampak berat dan sensitif, namun sayangnya tak cukup mengenyangkan.

Bisa jadi, itu hanyalah salah satu strategi BJ untuk terus menyalakan ketertarikan pembaca terhadap isu Turki dan diam-diam menyiapkan buku lain tentang Turki. Sebagaimana ia membuka buku ini dengan artikel bertemakan komunis dan meluncurkannya di bulan September.  

Sebagai warga Indonesia yang memperhatikan Turki, BJ tentu tidak bisa menghindar dari bias konteks. Namun BJ kurang tegas dalam memosisikan diri. Apakah BJ ingin menghadirkan Turki sepenuhnya dengan kacamata sebagai orang Indonesia, ataukah ia ingin menyandingkan antara Turki dan Indonesia sebagai dua negara yang sama-sama bermayoritas penduduk muslim, atau sekadar menyajikan sedikit lokalitas Indonesia sebagai bumbu?

Pada pembahasan tentang “Jejak Permusuhan Turki-Arab Saudi” misalnya, BJ secara tiba-tiba menghadirkan cerita dari jagat maya Indonesia tentang penyerangan terhadap Presiden Turki Erdogan. Hal ini terasa mengganjal sebab tulisan ini membahas dua bangsa yang saling berseteru secara vis a vis,  tetapi tiba-tiba BJ menghadirkan Indonesia entah dari mana.

Memasukkan jejak digital warganet Indonesia terkait Turki-Arab Saudi akan bisa diterima jika Indonesia juga diikutsertakan dalam pembahasan utama. Baik Turki, Arab Saudi, dan Indonesia sama-sama merupakan negara bermayoritas penduduk muslim dan karena itu, sah-sah saja BJ memasukkan secuil pembahasan yang terjadi di Indonesia. Tetapi yang secuil itu terasa seperti selilit yang mengganjal.

Di artikel lainnya, BJ hanya menyebut Indonesia sekilas tanpa menjadikannya sebagai subjek, namun dalam artikel ini BJ memasukan konteks Indonesia dan sayangnya, sekali lagi, yang secuil ini bak selilit.

Di artikel terakhir dalam buku ini, BJ menghadirkan tema kebudayaan melalui judul  “Ye ilcem: Layar Lebar Kebudayaan Turki.” Tema ini tepat dihadirkan di akhir tulisan, semacam cooling down dari perjalanan yang menegangkan. Tetapi saya menyayangkan adanya apologi yang membuat BJ nampak tak percaya diri. Apologi hanya akan membuat pembaca tahu kekurangan penulis dan karena itu, penulis merupakan pengkaji khusus film atau bukan, saya rasa pembaca tidak perlu diberitahu.

“Selain itu, saya merasa tidak penting terlibat lebih jauh hingga ke urusan rumah produksi atau hal ihwal lain di balik layar. Mungkin karena saya hanya seorang penikmat, bukan peneliti dan tekun mengkaji film, sehingga cara seperti itu menjadi gaya saya dalam menghadapi film-film yang saya tonton,” ulasnya.  


  • Penulis adalah Alumni Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penulis buku “Ekologi Adat Komunitas Ammatoa”. Bisa dihubungi melalui [email protected]

Template Ads