Berita

 Network

 Partner

Di Keramaian yang Sial | Cerpen Endri Maeda

Di Keramaian yang Sial | Cerpen Endri Maeda

Di Keramaian yang Sial
(Cerpen, Endri Maeda)


 “Manisku, terbuat dari apakah penderitaan itu?”

 “Terbuat dari kebahagiaan yang dilupakan,” katamu pelan.

“kalau begitu, apakah nyeri di bagian kanan ini adalah kebahagiaan yang aku lupakan?”

“Mungkin saja seperti itu,” katamu lagi.

“kebahagiaan macam apa itu, Manisku? Apa karena dilupakan kebahagiaan membalaskan dendamnya. Atau, mungkinkah kebahagiaan semacam makhluk hidup yang membutuhkan asupan. Ah, aku pikir kebahagiaan dan penderitaan seperti kisah Bawang Putih Bawang Merah, mereka memiliki sifat yang berbeda. Mungkin penderitaan memiliki sifat jahat. Bukankah begitu, Manisku?”

“Bukan!” katamu sambil memandang mataku,” kebahagiaan dan penderitaan ada pada manusia sejak dilahirkan. Kita hanya perlu memilihnya saja. Kau memilih bahagia, atau menderita.”

“Apakah keduanya ada pada dirimu?”

            Larut malam, udara di pinggir waduk semakin terasa di pori-pori. Aku memilih tempat ini karena suasana yang menurutku begitu tenang. Waktu itu kita sepakat, di Waduk Sermo kita akan lari dari keramaian kota untuk beberapa saat. Membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting juga menghabiskan malam yang beda dari biasanya.

            “Keduanya ada dalam diriku, juga ada di dalam dirimu, ada di setiap orang seperti kita,” katamu.

“Manisku, bagaimana kau bisa merasakan kalau itu ada pada diriku?”

“Apa kau merasakan sesuatu jika berada di dekatku?” tanyamu balik.

Berita Terkait :  Yuk dan Yik

“Aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kucari di tempat lain. Seperti… jauh dari derita.”

“Lalu apa yang kau rasakan jika berada jauh dariku?”

“Aku merasakan rindu yang benar-benar menyiksaku.”

Malam tanpa hujan. Entah, biasanya setiap hari selalu hujan, hujan selalu romantis bagiku. Mungkin bisa saja hujan tahu aku sedang bersamamu. Tapi seandainya saja hujan turun, mungkin tambah romantis. Kita menikmati hujan di dalam tenda berdua, di pinggir waduk, membicarakan hal-hal perihal rindu.

“Manisku, apakah kau akan pergi lagi setelah pertemuan ini?”

“Menurutmu?”

“Aku tidak berharap itu terjadi lagi.”

***

Di keramaian ketika pertama kali aku  menemukannya, aku tidak tahu rencana Tuhan seperti apa. Keramaian yang sial. Aku kehilangan HP beserta dompet berisi gajianku selama dua bulan. Waktu itu aku melihatnya berdiri kebingungan. Tepatnya kita sama-sama bingung. Keberanianku mendekati dengan alasan meminjam HP untuk menghubungi keluarga di rumah. Selain itu, kini bagiku alasan yang tepat pertemuan itu adalah membuat rindu, rindu yang semakin lama semakin renta seperti udara malam bagiku.

‘kita adalah dua makhluk yang saling suka dan berada di tempat yang berbeda, maka waktu, saling sayangkanlah kami seutuhnya’

Seperti itulah pesan terakhir yang sering aku katakan sebagai penutup perbincangan dengannya lewat telpon. Sebagai pasangan yang saling berjauhan, kita selalu mencoba berkomunikasi sebisa mungkin. Terkadang di sela-sela ketika menjelang tidur, di jam makan siang, ketika kita sama-sama libur. Paling tidak kita harus melakukannya seminggu tiga kali untuk mengetahui kabar terbaru.

Berita Terkait :  Penjual Waktu

***

Suatu hari ketika pulang kerja dengan kondisi badan yang cukup lelah. Aku memasuki kamarku yang berantakan. Bekas rokok seperti kecoa, menjijikkan, baju kotor, celana dalam. Entahlah, hari itu aku begitu membutuhkannya. Bukan untuk membereskan kamar, melainkan untuk membangun semangatku kembali. Kondisi pikiran benar-benar berantakan.

Aku meneleponnya pukul sebelas malam. Kita membicarakan apa yang sedang terjadi minggu-minggu ini, dia menceritakan yang dia alami, juga aku, menjelaskan kondisiku yang tidak karuan. Ada kabar gembira; dia ada libur satu munggu yang akan dia habiskan bersamaku. Ya, dia akan ke sini tentunya dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini.

***

Malam semakin tua. Lampu-lampu dari kejauhan semakin terlihat redup tertutup kabut malam. Kita duduk berdua di depan tenda, menikmati api yang sebentar lagi padam. Mataku berlinang, tapi aku tidak menyembunyikan itu, dia juga tidak tahu, malam yang menyembunyikan setiap tetes air mataku yang jatuh. Kau diam, menaruh kepalamu di pundakku. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa kau omongkan. Aku tahu itu sedang terjadi padamu. Memahami itu cukup dari gerak-gerikmu yang tidak seperti biasanya. Biasanya, untuk membuat suasana romantis, kau sering menaruh kepalamu di pundakku, lalu memainkan jariku satu persatu. Terakhir kau akan kecup bibirku sebentar.

Berita Terkait :  Slavoj Žižek: Tenang dan Panik [Bab VII]

“Manisku, ini semua bukan pilihan kita, tapi keadaan yang membuat kita berjarak. Ini akan membuktikan sebuah cinta yang lebih teruji melewati semua saat kesetiaan dipertaruhkan,” kataku pelan.

“Bagaimana dengan deritamu?”

“Derita? Mulai sekarang aku akan hidup seimbang. Jadi, penderitaan dan kebahagiaan harus seimbang seperti katamu.”

“Aku tidak pernah berkata seperti itu,” katamu sambil melihat mataku. Dan aku tahu, sekarang kau mengetahui mataku yang berlinang.

            “Bagaimana kalau kita menguji jodoh yang katanya sudah ditentukan Tuhan,” katamu yang aneh kali ini.

“Maksudmu?”

“Kita sama-sama melakukan perjalanan yang berbeda, kau ke utara aku ke selatan, kita melakukan perjalanan yang berbeda. Kita sama-sama meninggalkan alat komunikasi di sini. Bagaimana, kita mulai besok pagi? Kalau kita jodoh aku yakin pasti dipertemukan kembali.”

***

Aku terbangun dengan keadaan kamarku yang lebih berantakan, tapi aku sedikit lebih tenang dari tahun lalu. Semenjak kejadian setahun yang lalu, aku sedikit demi sedikit mulai bisa hidup dengan teratur, memperlakukan kebahagiaan dan kesedihan seimbang. Di waktu-waktu tertentu, di keadaan yang begitu rumit, ketika kebanyakan orang mengeluh, di situlah aku memilih untuk bahagia. Mungkin sama, kau juga seperti itu. Melakukan hobimu di pagi hari, suka makan makanan pedas, mengabaikan hal-hal yang sering menjadi pembicaraan di media. Masa bodoh, katamu.

Malam ini aku berencana pergi ke Sekaten. Katanya di sana banyak orang menjual baju. Sebelum pulang ke kampung alangkah baiknya aku membelikan baju untuk beberapa ponakanku. Tapi sial, keramaian yang menyebalkan. Aku kehilangan HP juga dompet berisi gajianku selama satu bulan.