Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Wisata Kota dan Potensi Sastra
sumber gambar: istimewa

Wisata Kota dan Potensi Sastra

Seseorang menjadi tertarik mengunjungi destinasi wisata karena banyak jalan dan alasan. Ketertarikan itu dapat bermula dari foto unggahan teman, video Youtube, atau cerita menarik dari anggota keluarga yang baru berkunjung. Dapat pula karena siaran televisi, selembar brosur atau sebaran pamflet. Akan tetapi, pernahkah kita mendengar ketertarikan akan destinasi wisata berdasarkan karya sastra? Bukan hal yang mustahil, memantik kunjungan wisata melalui karya sastra.

Novel dan film Harry Potter, misalnya, menumbuhkan tur-tur wisata yang menawarkan paket wisata untuk berkunjung ke tempat-tempat terjadinya peristiwa dalam novel dan film Harry Potter seperti Millineum Bridge, peron 9-3/4 di Stasiun King’s Cross. Kafe Elephant House yang menjadi tempat J.K. Rowling menulis draft novel Harry Potter juga tak luput menjadi jujukan wisata.

Dari dalam negeri, Pulau Belitung dapat menjadi percontohan. Daerah ini mengalami kenaikan kunjungan wisatawan sebesar 29% pada kurun 2011-2017 setelah dirilisnya novel Laskar Pelangi (2005) yang difilmkan dengan judul serupa pada tahun 2008. Pulau yang awalnya berupa pusat pertambangan timah ini bertransformasi menjadi kawasan ekonomi khusus zona pariwisata dan UNESCO Global Geopark berkat novel dan film Laskar Pelangi. Novel 5 cm (2005) karya Donny Dhirgantoro yang kemudian difilmkan dengan judul sama pada tahun 2012 juga memantik kenaikan kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo sebesar 50 persen. Dari 2.500an kunjungan per tahun menjadi 5.000 kunjungan. 

Hubungan antara wisata dan karya sastra ini dapat disebut sebagai literary tourism. Dallen (2011), dalam buku Cultural Heritage and Tourism: An Introduction, menyatakan bahwa literary tourism adalah hubungan sastra dan wisata dengan destinasi-destinasi yang berpijak pada tempat-tempat yang terkait dengan pengarang atau tokoh dalam novel, cerita pendek, drama, sajak anak-anak, dan serial televisi.

Pada mulanya adalah karya sastra dengan pembaca militan. Lalu, karya sastra tersebut dialihwahanakan menjadi film. Jalin kelindan karya sastra dan film ini memantik efek kunjungan wisatawan demi mendatangi destinasi-destinasi menarik. Karya sastra dan film memberikan pengaruh kepada pembaca melalui kesan terhadap suatu destinasi. Kesan ini mempengaruhi dorongan untuk berkunjung ke suatu daerah. Semakin menyenangkan kesan yang muncul, semakin besar kemungkinan menjadi pilihan destinasi pariwisata. 

Ratna Indraswari Ibrahim dan Kota Malang

Tulisan ini mengajukan destinasi-destinasi wisata di kota Malang dengan berdasarkan atas karya sastra yang ditulis oleh Ratna Indraswari Ibrahim (sastrawan dari kota Malang). Novel-novel Ratna Indraswari Ibrahim dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal obyek-obyek wisata yang menarik dikunjungi di kota Malang berdasarkan cerita-cerita pada novel-novel tersebut. Tiga novel yang dimaksud adalah Lemah Tanjung (2003), Pecinan (2011) dan 1998 (2012).

Mengapa novel Ratna Indarswari Ibrahim dan kota Malang? Karena novel-novelnya, meskipun tetap bersifat fiktif, secara lugas dan terang benderang menyebut nama kawasan dan tempat-tempat di kota Malang yang masih dapat kita jumpai dalam dunia nyata pada masa sekarang. Ratna Indraswari Ibrahim sendiri adalah pengarang yang lahir, bertumbuh dan berproses kreatif di kota Malang sehingga ia menuliskan kesan, pemikiran, sudut pandang dan harapannya tentang kota tempat tinggalnya melalui karya-karyanya.

Novel-novelnya dipenuhi kesan-kesan tentang tempat-tempat di kota Malang. Dalam novel Lemah Tanjung, Ratna Indraswari Ibrahim menulis tentang kunang-kunang untuk menumbuhkan kesan tentang Malang. 

“Ketika Mama masih kecil dan berziarah di kuburan kakekmu, banyak kunang-kunang beterbangan di atas kuburannya. Nyala tubuh binatang-binatang kecil itu seperti berasal dari lampion-lampion hijau yang ditentengnya. Bisa kamu bayangkan, kalau hari sudah mulai senja dan ketika kunang-kunang itu datang, langit seperti diperciki bintang. Mereka seperti dititipi cinta kakekmu untuk kita.” [hlm. 1]

Pada paragraf pertama di novel Pecinan, Ratna Indraswari Ibrahim menulis tentang keindahan kota Malang. 

“Malang pada 1950-an adalah kota yang sejuk. Kota ini dikelilingi gunung. Jika pagi tiba masih menyisakan kabut. Kota Malang ditata demikian cantik oleh seorang arsitek Hindia Belanda bernama Herman Thomas Karsten,” [hlm. 7]

Ratna Indraswari Ibrahim juga mencatat kota Malang dalam novel 1998 sebagai kota sejuk. Kota Malang pada bulan ini masih sisakan musim kemarau. Suhu udara dingin saat pagi hari dan menjelang malam. [hlm. 1]

Turisme sastra yang berkaitan dengan wisata dan novel-novel Ratna Indraswari Ibrahim ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, adalah dengan menapaktilasi kawasan dan tempat yang termaktub di dalam novel. Ratna Indraswari Ibrahim menuliskan tentang bangunan, tempat dan kawasan di kota Malang dalam novel-novelnya. Ratna menulis seperti para penulis dunia yang mendokumentasikan tempat-tempat kotanya dalam karya, seperti Haruki Murakami dalam novel Kafka on The Shore dan 1Q84 menuliskan tempat-tempat di Jepang seperti Kuil Ikuta dan Jembatan Akashi-Kaikyo; dan seperti Orhan Pamuk menuliskan tempat-tempat ikonik di Turki seperti The Blue Mosque dan Museum Hagia Sophia.

Sebagai contoh, Novel Lemah Tanjung menyebut bangunan Gereja Theresia sebagai arsitektur tertua di kota Malang [hlm. 103]. Meskipun secara historis bukanlah bangunan tertua, namun gereja yang terletak di Jalan Ijen ini adalah salah satu landmark kota Malang dengan gaya arsitektur Neo-Gothik khas Belanda. Gereja Santa Theresia ini dirancang oleh arsitek Belanda bernama Rijksen en Estourgie dan diresmikan pada 28 Oktober 1934.  Gereja yang telah berganti nama menjadi Gereja Santa Perawan Maria ini telah ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya Kota Malang berdasar Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2018. 

Novel Lemah Tanjung juga menyoroti simbol kerukunan beragama di kota Malang dengan bangunan masjid dan gereja yang bersebelahan, yaitu Masjid Jami’ Kota Malang dan Gereja GPIB Immanuel di dekat alun-alun kota [hlm. 102]. Novel ini mengungkap bahwa dua tempat ibadah yang berdampingan dari dua agama yang berbeda adalah tetenger menarik dari kota Malang yang menjadi perhatian jurnalis luar negeri. Selain itu, Ratna juga memuji tentang keberadaan Patung Chairil Anwar di Kayutangan sebagai satu-satunya patung penyair di Indonesia [hlm. 102]. 

Selain bangunan, Ratna Indraswari juga menuliskan tentang kawasan atau area yang menarik di kota Malang, yaitu kawasan Kayutangan dan kawasan Pecinan. Dalam novel Pecinan, Ratna menyebut Kayutangan sebagai pusat kota. Pusat kota ini penuh dengan nilai sejarah karena memiliki bangunan arsitektur kolonial Hindia Belanda. Dalam novel  1998, salah seorang tokohnya, Neno, digambarkan sebagai anak pemilik toko di Jalan Kayutangan. Kawasan Pecinan dengan landmark Klenteng Eng Ang Kiong menjadi setting dalam novel Pecinan dengan budaya dan lingkungan Tionghoa-nya.

Tidak hanya bangunan dan kawasan, novel-novel Ratna juga mengisahkan tentang wisata kuliner. Dalam novel Pecinan, misalnya, Ratna menulis wisata kuliner tentang warung-warung dengan makanan-makanan lezat. Misalnya adalah Ayam bakar Nyiek Soen (hlm. 52). Warung ini masih dapat ditemukan dengan nama serupa namun berbeda ejaan, yaitu Warung Ayam Panggang Mbak Sri Ono/DH Mak Nyik (Nyik Sun) di Jalan Tangkuban Perahu (Sebelah Gedung Kartini), Kayutangan, Malang. Warung Nyik Sun ini telah berdiri sejak tahun 1970. Ada pula warung rujak yang disebut sebagai Rujak Yu Nah (hlm. 41). Warung rujak petis ini sekarang masih dapat ditemukan di Jalan Jaksa Agung Suprapto-Celaket, Malang. Tentu, rekomendasi wisata kuliner dari Ratna Indraswari Ibrahim ini patut dicoba dan tak boleh dilewatkan.

Pendidikan dan bangunan sekolah juga menjadi perhatian Ratna dalam novel-novelnya, terutama pelopor pendidikan dari kalangan Tionghoa dalam masa-masa awal pembentukan kota Malang. Misalnya, ia menulis tentang Sekolah Cor Jesu (hlm. 152) dalam novel Pecinan. Sekolah ini masih berjaya hingga sekarang dengan nama SMP Katolik dan SMAS Katolik Cor Jesu yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 55, Samaan, Kec. Klojen, Kota Malang. Sekolah ini didirikan oleh biarawati Ursulin pada tanggal 15 Jul 1951, meski embrio sekolah ini telah bermula sejak 1900. Gedung-gedung bersejarah dengan arsitektur khas kolonial dapat menjadi tujuan wisata yang menarik. Bangunan sekolah Cor Jesu ini telah dinyatakan pula sebagai Bangunan Cagar Budaya Kota. 

Ada pula Sekolah Dasar Ma Hwa (Hlm. 42) di novel Pecinan yang secara historis telah berdiri sejak tanggal 16 Nopember 1903. Sekarang, sekolah ini bernama SD Taman Harapan yang beralamatkan di Jalan Aris Munandar 2-4, Kec. Klojen, Malang. Lembaga-lembaga pendidikan yang dirintis oleh orang-orang Tionghoa sejak tahun 1900an dan masih bertahan hingga sekarang adalah hal menarik tersendiri untuk dipelajari dari sejarah pendidikan di Kota Malang.

Destinasi-destinasi menarik di atas sangat layak untuk mendapatkan sorot kamera dalam film-film yang diadaptasi dari karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim. Kombinasi karya dan film ini tentu akan menghasilkan efek bola saju ketertarikan masyarakat terhadap tempat-tempat wisata di kota Malang. 

Poin kedua tentang turisme sastra di kota Malang dari karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim adalah harapan akan pengembangan wisata sastra yang dapat ditumbuhkembangkan di kota Malang berbasis karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim. Poin ini berupa revitalisasi ruang-ruang historis dan kultural dari sang pengarang.

Salah satu contoh dari poin kedua ini adalah rumah Ratna Indraswari Ibrahim di Jalan Diponegoro 3. Rumah ini pada masa hidup Ratna adalah oase kebudayaan dengan pelbagai fungsi seperti rumah gerakan sosial, rumah aktivisme dan rumah intelektualisme. Rumah tempat Ratna berproses kreatif ini tentu sangat bersejarah, selain juga rumah ini bergaya klasik yang kemungkinan dibangun pada 1914. 

Rumah kreatif Ratna dapat menyusul rumah para sastrawan di penjuru dunia yang menjadi destinasi wisata. Seperti rumah Jane Austen di Chawton, Inggris yang menjadi tempat Austen menulis novel Pride and Prejudice dan novel Sense and Sensibility. Atau seperti rumah Casa Museo Gabriel Garcia Marquez, rumah masa kecil García Márquez yang direkonstruksi menjadi museum dan Museum Casa del Telegrafista (Rumah Telegrafer) di Kota Aracataca, Kolombia. Rumah Ratna Indraswari Ibrahim dapat berfungsi sebagai perpustakaan, museum dan pusat kebudayaan dengan berbagai kegiatan kebudayaan seperti pagelaran festival sastra atau parade film misalnya. 

Walakhir, novel-novel Ratna Indraswari Ibrahim dapat dibaca sebagai peta wisata bagi seorang pelancong yang sedang menikmati wisata kota dari ragam sisi, mulai dari bangunan arsitektural, sejarah, kuliner dan pendidikan. Maka, karya sastra dapat menjadi pintu menarik dan jalan alternatif dalam melihat sisi lain dari wisata kota dan pengembangannya. Begitu.  


Penulis: M. Rosyid H.W. Mahasiswa Kajian Sastra dan Budaya, Pascasarjana Universitas Airlangga. Esai dan cerita pendeknya dimuat di berbagai media masa seperti Jawa Pos, Media Indonesia, Kompas.id dan lain-lain. Kumpulan cerpen terbarunya “Rembulan di Bibir Teluk” (Pelangi Sastra, 2021).