Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sejarah Singkat Tongkat dalam Bahasa Indonesia | Cerpen Beri Hanna
Ilustrasi: Wassily Kandinsky

Sejarah Singkat Tongkat dalam Bahasa Indonesia | Cerpen Beri Hanna

Tagak Sikandung Batin yang pernah membelah laut, memilih hidup bersama paus yang lebih dulu disihirnya dengan tongkat sakti—ia dapatkan tongkat itu dari kelamin Dewa Uranus yang jatuh ke laut pada tahun-tahun lampau—menjadi manusia.

Memang banyak orang melihat sepotong kelamin telah jatuh ke laut, namun orang-orang tidak mengejarnya, karena mereka sadar tak mungkin orang seperti mereka dapat mengambil kelamin dewa.

Cukuplah mereka yakin bahwa itu kelamin yang jatuh ke laut, yang menjelma Dewi Aphrodite. Mengenai kebenarannya, Tagak Sikandung Batin tak mungkin mengatakan apa yang sesungguhnya telah terjadi: ia mengambil kelamin itu, lalu menghanyutkan bayi yang dilahirkan istri dari masa lalu hidupnya. Sedangkan seorang budak tanah yang juga mengetahui apa yang sebetulnya terjadi, tak mungkin berbicara sebab ia telah lebih dulu mati.

“Sekarang kau akui ini anakmu?” tanya Tagak Sikandung Batin sambil menunjuk bayi dalam balutan kain yang dikeluarkannya dari peti bersamaan dengan seekor ular berbisa.

Waktu itu Tagak Sikandung Batin telah lama mencurigai istrinya main cinta dengan budak tanah. Sering istrinya pergi mencari kulit kayu untuk disamak menjadi pakaian, tapi kembali dengan tubuh basah dan bau sengat.

Mula-mula Tagak Sikandung Batin hanya dapat menduga. Dan dari duga timbul penasaran hingga terjawab suatu ketika ia melihat istrinya dijepit budak tanah di balik pohon nira. Ia ingin langsung menendang budak tanah itu. Tapi bibir istrinya liar menari dan lidahnya melingkar-lingkar di batang leher budak tanah. Setelah dijepit, istrinya balik menjepit, lebih garang dari budak tanah. Dan Tagak Sikandung Batin hanya mengelus dada.

Dan kini, ia dan budak tanah ada di tengah laut, setelah dirayunya budak tanah melihat keajaiban ikan terbang.

“Iya,” jawab budak tanah ketakutan, sebab lidah ular menjulur-julur siap menggigit hidungnya.

“Terkutuklah kau!” Bersamaan dengan itu, langit menghitam sesaat. Dari balik awan jatuh cahaya tepat di sebelah perahu. Itulah kelamin Dewa Uranus yang—sempat disaksikan banyak orang—tidak seperti dikatakan banyak orang, jatuhnya menyebabkan air laut berbusa hingga menggelegak lalu ombak meninggi dihantam angin kencang, melainkan jatuhnya bagai selembar daun yang mengambang.

Tepat ketika Tagak Sikandung Batin mengambil kelamin itu, ular telah menggigit budak tanah lalu tanpa disangka-sangka seekor hiu mendekat dan sigap Tagak Sikandung Batin membuang tubuh budak tanah beserta ular itu. Sebelum tubuh budak tanah dicabik-cabik hiu, budak tanah sempat melihat Tagak Sikandung Batin menjatuhkan bayinya. Lalu hiu berenang ke laut dalam dan Tagak Sikandung Batin mendayung perahu, membawa kelamin Dewa Uranus.

Tak pernah ada orang yang menanyakan, apa yang dibawanya dari laut. Dan tidak pernah pula ada orang yang bertanya, ke mana bayi dan budak tanah yang pergi melaut bersamanya. Orang-orang sibuk mengurus diri masing-masing, sebab itu pula mereka tak pernah sempat melihat Tagak Sikandung Batin ke laut; membunuh budak tanah, mengambil kelamin Dewa Uranus, dan menukarnya dengan bayi.

Setelah kelamin itu ditempa dengan berbagai macam cara—dengan campuran tujuh tanah gunung di Selat Malaka, seribu sari bunga, lima jenis darah binatang—sehingga mengeras dan menjadi tongkat setelah dimasak dengan suhu setara lahar api, orang-orang mulai merasa terganggu sebab hampir tiap malam mereka mendengar suara tangis yang bila dicari, bersumber dari sebuah batu.

Mula-mula mereka mengira itu tangisan si bayi yang hilang, namun berselang waktu mereka mulai merasa ganjil sebab tak pernah lagi melihat istri Tagak Sikandung Batin yang biasa keluar mencari kulit kayu. Lama mereka gelisah dengan penasaran itu, hingga akhirnya bersama-sama mereka datang, setelah lebih dulu tersebar cerita Tagak Sikandung Batin mengutuk istrinya menjadi batu.

“Tagak Sikandung Batin,” ucap mereka hampir serentak. “Kami datang hendak bertamu.”

“Silakan,” jawab Tagak Sikandung Batin, tenang.

Mereka duduk di sebuah batu, melihat pemandangan pepohonan dan laut biru. Mereka tak bicara satu sama lain. Diam seperti malam yang kehilangan awan. Lengang tanpa bintang dan bulan. Mereka hanyut dalam kedalaman kelam lalu diseret ke ruang yang penuh kebimbangan akan susunan batu yang salah satunya berterus-terusan merembes air dan rambatan suara tangis seolah berbunyi dari dalamnya yang gelap, sembab, kedap, membuat mereka memberanikan diri berbicara, membuyarkan renungan ; “Bukan maksud ingin menuduh. Namun semua orang tahu, bila ada tamu, tentu seorang istri membuatkannya minuman.”

“Bukan maksudku pura-pura tidak tahu. Tapi istriku takkan bisa membuatkan kalian minum,” jawab Tagak Sikandung Batin membuat mereka gelisah sebab dari jawaban itu mereka mulai yakin dengan cerita istri yang dikutuk menjadi batu.

Mereka menggesek-gesekkan pantat seperti ada rasa gatal, mereka bergerak meliak-liuk seperti ular kesetanan.

“Kalau kami boleh tahu, kenapa begitu?” tanya mereka, serentak dan kompak.

Tagak Sikandung Batin tersenyum lalu tertawa sambil balik bertanya, bukankah semua orang sudah tahu? Mereka sontak kaget dan seperti tidak bisa bernapas. Mereka menegang dan seperti menjadi sungai kering tanpa kehidupan.

“Jadi betul. Kau mengutuk istrimu menjadi batu?” tanya salah seorang.

“Iya,” jawab Tagak Sikandung Batin seolah tanpa rasa bersalah. “Kalian telah mendengar batu menangis, kan?”

“Iya. Hampir setiap malam,” jawab mereka serentak.

“Itu istriku.”

Mereka menggigil mendengar Tagak Sikandung Batin bicara. Tulang mereka seperti alat musik bambu yang digetar-getarkan. Ngilu dan berdengung. Andai saat itu mereka lari, tentu akan terlihat seperti tumpukan getah karet yang melambai-lambai, atau daging berjalan tanpa tulang. Untunglah mereka tidak lari. Mereka masih duduk meski panas dingin.

Sementara itu, sebelum mereka bertanya, dan Tagak Sikandung Batin tahu mereka tak mungkin sanggup bertanya, lebih dulu bercerita: Pada suatu hari setelah diketahui istrinya gelisah sebab tak dapat menemukan budak tanah—sang kekasih hati—, istrinya duduk lama memperhatikan Tagak Sikandung Batin bekerja.

Istrinya penasaran apa yang ia lakukan dengan benda yang ditempa itu. Ia menjawab, ini tongkat sakti yang dapat mengubah seorang menjadi batu dan bukan hanya itu, tongkat ini juga dapat melakukan hal-hal lain yang lebih dari sekadar itu.

“Apa kau bisa menemukan bayi hilang dengan tongkat itu?” tanya istrinya waktu itu yang dijawab dengan yakin oleh Tagak Sikandung Batin, tongkat itu tidak hanya dapat menemukan bayi hilang, bahkan menciptakan sesuatu dari yang tidak ada.

Istrinya tertawa dan dengan nada mengejek berkata bahwa Tagak Sikandung Batin terlalu banyak bermimpi dan membaca kitab serta ajaran sesat.

Memang waktu itu banyak prasasti dan batu bergambar manusia berkepala burung, kijang, kuda dan hewan lainnya hanyut bersama peti-peti dan ditemukan olehnya.

“Bahkan kau tidak pernah tahu bagaimana bola mata bayi itu!” kata istrinya.

Tagak Sikandung Batin tersenyum dan meminta istrinya untuk duduk dan melihat keajaiban tongkat sakti. “Sebelum kau ketahui bayi yang hilang akan kuberi kau bukti lain,” kata Tagak Sikandung Batin.

Dengan tidak memejamkan mata, istrinya bertaruh atas nama lautan dan seisi hutan, semua itu hanya omong kosong. Namun istrinya menyesal. Amat sangat menyesal. Setelah menjadi batu, dengan tidak dapat meronta ia mendengar bisikan maut paling kejam dari mulut seorang suami; aku tahu, di bawah pohon nira kau selalu menjepit budak tanah itu. Dan kini kau harus tahu, budak tanah dan bayimu telah kubuang ke laut.

Mendengar cerita itu, mereka diam dan merasa tidak perlu meminta bukti atas kesaktian atau menanyakan asal usul tongkat itu. Setelah pamit dan tidak pernah lagi kembali, mereka tidak pernah tahu jika Tagak Sikandung Batin memulai perjalanan membelah laut setelah melihat api menyala di kejauhan.

Mula-mula Tagak Sikandung Batin bermimpi dan berterus-terusan melihat api lalu tak dapat membedakan, mana api di alam mimpi dengan api yang menyala semakin besar dan mengejar dirinya di kenyataan.

Ia ketakutan tiap berpejam dan memandang ke arah jauh, tampak api berjalan, merayap, seperti air mengalir ke arahnya. Oleh karena itu ia lari ke arah laut lalu jatuh ke dalam laut. Dan selama ada di dalam laut ia tak pernah lagi melihat sebutir pun api, namun paus berkeliaran tak pernah luput dari matanya.

Ia selalu waspada melangkah dan berjalan di bawah laut. Namun akhirnya, tongkatnya tertelan seekor paus yang lewat di atasnya sambil menganga, dan ia mengejarnya, berenang bagai ia makhluk berinsang.

Ketika telah terlalu jauh mengejar ke dalam laut, ia kehilangan jejak paus itu sebab ada ratusan paus serupa yang juga berenang dan membingungkan.

Dan tanpa diduga-duga, seekor paus muncul dari belakang dengan mulut menganga. Tagak Sikandung Batin kalah cepat untuk menghindar, dan ia tertelan.

Di dalam perut paus, ia bertemu ular yang tanpa berbasa-basi langsung menggulung tubuhnya untuk ditelan kemudian. Tagak Sikandung Batin sedih dan menangis dalam kesendirian terjebak di perut paus sekaligus perut ular. Lama-lama larut dalam kesedihan yang tidak berujung, Tagak Sikandung Batin merasa telah sampai di titik kedamaian yang tak terbatas.

Ia tak hirau akan apa-apa termasuk usaha melarikan diri dengan menusuk perut ular lalu paus untuk kembali mencari tongkat saktinya. Ia banyak merenung karena telah mengutuk istrinya menjadi batu dan membuang bayi ke tengah laut. Ia merasa pantas ada di dalam perut paus sekaligus ular untuk semua perbuatannya itu.

Namun, paus yang telah mengelilingi lautan itu, mulai merasa kelelahan sebab beban dalam perut. Paus tidak sanggup lagi berenang dan terdampar ke sebuah pulau kecil. Sebelum paus yakin akan mati dan menjadi tulang yang akan ditemukan orang-orang pada tahun-tahun kehidupan di masa datang, paus memutuskan untuk memuntahkan isi perutnya.

Selain cairan dan bangkai ikan, seekor ular ikut tersembur di sebuah tempat yang paus itu tidak tahu. Tidak lama setelah itu, ular memuntahkan Tagak Sikandung Batin bagai terlahir untuk kedua kalinya. Paus dan Tagak Sikandung Batin heran dan seperti telah mati ketika melihat ular berubah menjadi tongkat sakti milik Tagak Sikandung Batin.

“Ular itu tongkatku. Ular itu menyelamatkan hidupku!” teriak Tagak Sikandung Batin.

“Dan aku telah menyelamatkan hidup ular itu,” sahut paus yang terlentang tak berdaya.

Tagak Sikandung Batin tak heran jika paus itu dapat berbicara dengannya, sebab keajaiban telah banyak terjadi padanya. Ia mendekat pada paus dan melihat sorot matanya yang lemah seolah pasrah akan takdir yang akan merenggut nyawanya.

Merasa semua ini telah diatur oleh sesuatu yang ia tidak tahu, dengan sumpah setelah nyaris tak pernah bicara, Tagak Sikandung Batin spontan mengajak paus untuk hidup bersama.

“Aku akan mati,” katanya.

“Tidak kalau kau mau hidup denganku.”

Paus berpikir dan sempat memandang langit. Ia tidak tahu, ular dan orang seperti apa yang telah ditelannya selama ini.

“Siapa kau?” tanya paus.

“Aku laki-laki yang ditulis untuk hidup denganmu,” jawab Tagak Sikandung Batin dengan yakin.

Hidup bersama sebagai pasangan? Itu yang terbayang dalam kepala paus. Ia akan memiliki banyak anak yang harus diawasi ke mana mereka berenang. Setelah lama ia membayangkan kehidupan di bawah laut bersama seorang manusia, Tagak Sikandung Batin menusukkan tongkatnya ke tanah pasir.

Angin kencang datang dari langit bersama awan hitam yang menyerap air laut.

Tagak Sikandung Batin yang telah berlari ke ekor dan mencari lubang basah si paus, tampak mendongakkan kepala dan membaca mantra yang entah dipelajarinya dari mana.

Di bawah hujan ia mengancuk paus tak berdaya itu. Dan paus merasa geli, bukan geli yang hendak tertawa namun seperti ia paus pertama yang memiliki sayap dan bisa terbang menembus langit, melihat surga. Sambil berpejam dan merintih serta ditarik dan diguncang-guncang oleh kekuatan yang tidak disadarinya, ia tak meraskan bahwa tubuhnya telah berubah menjadi manusia—sama seperti Tagak Sikandung Batin.

“Siapa aku?” tanyanya begitu kembali sadar.

“Kau adalah paus yang pernah mati!”

“Dan siapa kau?”

“Aku laki-laki yang tertulis untukmu dan belum pernah mati!”


Beri Hanna lahir di Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, dan tim artistik bersama Tilik Sarira. Memenangi Sayembara Novel Renjana, 2021. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya akan terbit berjudul Menukam Tambo.