Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Peta Orang Mati | Cerpen: Dadang Ari Murtono
Ilustrasi: Deborah Morbeto

Peta Orang Mati | Cerpen: Dadang Ari Murtono



Bu M berkata kepada Huda bahwa ia tak perlu khawatir. “Kakek Anda tidak akan tersesat,” ujar perempuan empat puluh tahunan itu lembut. “Ia tidak akan terlahir lagi.”

Itu sedikit melegakan Huda.

“Seandainya,” kata Huda pada akhirnya, “ada kamera yang mengawasi perjalanannya dan kita bisa menontonnya melalui sebuah layar, itu akan sangat membantu. Yah, Anda tahu, kadang-kadang GPS juga bisa keliru.”

Bu M tersenyum lantas mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua lengan bertumpu di meja kayu berlapis kaca hitam. Bibirnya dipoles lipstik merah dan tampak menyala. “Kami berusaha yang terbaik untuk pelanggan kami. Dan apa yang Anda sampaikan barusan, percayalah, akan menjadi isu yang kami bahas di hari depan demi kenyamanan kita semua – maksud saya, pihak perusahaan dan pelanggan seperti Anda. Namun bagaimana pun, perlu saya sampaikan bahwa kami saat ini memang sedang mengembangkan teknologi yang memungkinkan itu terjadi. Sudah ada beberapa pelanggan yang menyampaikan itu. Maksud saya, Anda memang bukan orang pertama yang mengatakannya, dan bukan berarti kami tidak berusaha cukup keras untuk itu. Namun seperti yang Anda tahu, akhirat sangat rumit dan sama sekali tidak terlihat seperti sebuah pulau yang berada di Bumi, bahkan bila pulau itu belum terjamah sekali pun.”

“Saya tahu. Tentu saja saya tahu. Tidak banyak perusahaan yang mampu memandang jauh ke depan seperti perusahaan Anda,” kata Huda. “Namun bagaimanapun, saya membayar sangat mahal untuk ini. Dan yah, itu hanya masukan. Dan orang-orang seperti saya selalu menginginkan hasil terbaik. Mahal dan terbaik memang selalu berpasangan, bukan?”

Bu M kembali tersenyum. Ia selalu tersenyum sebelum berkata-kata. Dan itu membuat siapa pun menyukainya. “Sekali lagi kami sampaikan terima kasih. Tak ada yang lebih penting bagi kami selain kepuasan pelanggan. Uang yang kami terima, kalau Anda mau tahu, hanyalah bonus dari kerja keras kami. Dan masukan-masukan penting seperti yang Anda kemukakan tadi, adalah bahan bakar yang akan membuat kami terus bergerak maju – seperti yang saya katakan tadi. Namun bagaimana pun, untuk saat ini, bisa saya katakan dan pastikan bahwa kakek Anda – berapa tadi usianya? Seratus tahun ya… tidak akan tersesat dan dengan begitu, beliau tidak akan terlahir kembali. Yah, bagaimanapun, siapa memang yang ingin terlahir kembali di dunia ini, bukan?”

Bu M tertawa.

“Saya kira,” kata Huda, “selalu ada orang yang ingin terlahir kembali. Namun itu jelas bukan kakek saya. Apakah saya sudah menceritakan bagaimana ia dikejar-kejar tentara?”

Bu M mengatupkan bibirnya, membentuk segaris tipis yang berkilau. Ia menekuk sedikit alisnya untuk menunjukkan rasa menyesal dan berduka.

“Maaf,” katanya, “saya tidak bermaksud menunjukkan kebahagiaan dengan tawa saya tadi. Tidak semua tawa berarti kegembiraan atau kebahagiaan, bukan? Saya harap Anda mengerti dan mau memaklumi. Ini pekerjaan yang rumit. Maksud saya, berhubungan dengan orang-orang yang meninggal selalu rumit. Kadang-kadang, saya tertawa dan menyampaikan lelucon untuk menghibur keluarga yang berduka. Namun selalu ada yang menyalahpahami dan menganggap tertawa dan melucu dalam kondisi seperti itu berarti tidak memiliki cukup empati dan lain sebagainya. Namun saya yakin Anda tidak termasuk dalam orang-orang yang berpikiran sempit seperti itu. Dan ya, Anda sudah menceritakan bagaimana kakek Anda yang baik telah dikejar-kejar tentara mulai akhir 65 hingga sepanjang sisa dekade 60-an. Itu hari-hari yang berat. Percayalah, saya dapat membayangkannya. Saya benar-benar bersimpati kepada perjuangan beliau. Saya yakin beliau hanya ingin yang terbaik untuk republik ini dengan terlibat aktif dalam politik praktis dan bergabung dengan partai politik. Itu memang tahun-tahun yang keruh. Siapa yang bisa percaya jika petinggi partai seperti kakek Anda pada akhirnya menjadi buronan politik dan mesti kabur ke luar negeri, bukan? Yah, untunglah beliau dapat meloloskan diri. Dua rekannya dibakar hidup-hidup di depan kakek Anda, kalau saya tidak salah dengar.”

“Ya,” kata Huda, “ditelanjangi dan dibakar hidup-hidup. Kakek saya membenamkan diri dalam lumpur sawah di sekitar Kediri waktu itu. Dan mereka tidak melihatnya. Sejak saat itu ia selalu mengatakan bahwa hidup ini sangat mengerikan. Keyakinannya itu semakain menguat di kemudian hari. Ia melihat orang-orang Muslim digilas truk di Priok pada pertengahan tahun 80-an dan orang-orang China yang mati dibakar pada tahun 1998. Ia menyaksikannya lewat siaran berita di televisi, jauh di seberang lautan. Namun itu semua selalu membawa ingatannya kembali kepada pengalamannya sendiri. Dan Anda tahu, salah satu dari orang China yang tewas pada tahun 1998 itu adalah seorang kawannya yang dulu sekali menyelamatkannya dan membantunya kabur ke Eropa. Hal tersebut dan sejumlah hal lain seperti kakeknya yang dibedil tentara Gurka atau ayahnya yang dicambuki oleh serdadu Jepang sampai sekarat itulah yang membuat ia berkata jika nanti ia mati, ia tidak pernah berharap terlahir kembali. Ia meminta kami memastikan bahwa ia tidak akan terlahir kembali setelah mati. Anda tahu, kami tertawa mendengar permintaannya. Tentu saja, kata kami, maksud saya, saya dan seluruh anggota keluarga, orang mati tidak akan hidup atau terlahir kembali. Apalagi ia berumur panjang. Kami sempat mengira ia akan hidup selama-lamanya.”

“Namun semua orang pada akhirnya mati dan ada saja di antara mereka yang terlahir kembali,” tukas Bu M seraya tersenyum kecil. “Dan untuk itulah perusahaan kami ada.”

“Ya,” kata Huda. “Ada saja orang mati yang hidup kembali, maksud saya, terlahir kembali. Mungkin saya juga sudah menceritakan hal ini, namun saya selalu tidak tahan untuk tidak menceritakan ulang. Semoga Anda tidak menganggap saya orang yang membosankan.”

“Tentu saja tidak,” jawab Bu M. “Anda orang yang menyenangkan dan sudah menjadi tugas saya sebagai representasi perusahaan untuk selalu mendengarkan cerita-cerita dari pelanggan kami. Silakan ceritakan apa pun, sesering apa pun.”

Huda tersenyum kecut. “Anda tahu, Anda bukan orang yang pandai berbohong,” katanya. “Saya tahu Anda berpikir saya membosankan. Namun bagaimana lagi. Memang begitulah yang terjadi. Sekembalinya kakek dari luar negeri, beberapa tahun setelah reformasi, ia menghabiskan waktu dan uang yang ia kumpulkan di Eropa untuk berjalan-jalan ke daerah-daerah – pada awalnya hanya ingin menjenguk kawan-kawannya yang ternyata sebagian besar sudah meninggal, namun lantas menjadi kebiasaan baginya untuk ngeluyur begitu saja. Suatu kali, semoga Anda betah mendengarkan, ia berkunjung ke lereng Gunung Merapi, beberapa bulan setelah letusan besar tahun 2010. Di sana, ia mendengar cerita tentang Mbah Maridjan. Dan bagaimana orang-orang mengatakan bahwa penjaga gunung itu meninggal tertimbun lava panas dari letusan gunung. Lelaki itu mati hangus. Dan orang-orang mengatakan bahwa ia mati dalam kondisi bersujud, menghadap Ka’bah. Hal yang lebih penting dari itu adalah, mereka juga mengatakan jika Mbah Maridjan sesungguhnya adalah Sunan Geseng yang terlahir kembali. Sunan Geseng, yang berabad-abad lampau juga terbakar di tengah hamparan alang-alang.”

Bu M manggut-manggut. “Saya mendengarkan,” katanya.

Huda tersipu malu. “Saya terlalu banyak bicara,” katanya. “Seharusnya saya sudah pergi dari sini karena bisnis kita sudah selesai. Namun saya malah berbicara seperti radio rusak. Namun itulah kenangan tentang kakek saya yang paling berkesan. Dan itu yang membuat pada akhirnya saya berada di sini, bukan?”

“Ya,” sahut Bu M lembut. “Itu yang membuat Anda berada di sini dan menjalin bisnis dengan perusahaan kami. Dan tak ada masalah Anda menceritakan ulang kisah itu. Percayalah. Itu kisah yang menakjubkan. Di Jawa ini, ada begitu banyak orang yang tersesat setelah mati, dan pada akhirnya, alih-alih beristirahat dalam damai di alam kematian, justru menempuh jalur yang keliru dan ujung-ujungnya terlahir kembali, lantas menjalani hidup yang tidak terlalu berbeda dengan alur kehidupan yang sebelumnya. Seperti Sunan Geseng yang terlahir kembali sebagai Mbah Maridjan, dan mati hangus tertimbun lava panas dari Merapi. Ada sangat banyak orang seperti itu. Dan oleh karena itulah kami memutuskan memasang GPS pada orang mati, berharap mereka bisa menemukan jalur yang benar di akhirat. Seperti yang Anda tahu, tak ada yang mustahil bagi ilmu pengetahuan. Dan sebentar lagi, saya harap Anda juga meyakininya seperti kami, kami juga akan menemukan kamera yang bisa membuntuti perjalanan orang mati di akhirat, dan kita bisa memantaunya melalui layar seperti sedang menonton film. Tak lama lagi. Percayalah.”

“Tentu saja saya percaya,” kata Huda. “Saat ini, saya sudah mempercayai segala hal, bahkan yang dulu terasa sangat tidak masuk akal. Dunia memang tidak masuk akal, bukan?”

“Yah,” kata Bu M. “Masuk akal atau tidak, tergantung bagimana kita melihatnya, bukan?”

“Baiklah,” kata Huda pada akhirnya. “Saya kira saya sudah terlalu lama berada di sini. Dan saya kira, Anda mesti juga menemui pelanggan lain. Saya yakin bukan hanya kakek saya yang tidak ingin tersesat di akhirat dan mesti terlahir kembali.”

“Tentu saja,” kata Bu M. “Semoga ini bukan terakhir kalinya kita bekerja sama.”

“Dengan berat hati, Bu,” kata Huda, “sepertinya saya tidak akan datang ke sini lagi. Saya memiliki hidup yang bahagia. Dan saya kira, meski saya berumur panjang seperti kakek saya, setelah mati, saya tetap ingin terlahir kembali dan menjalani hidup seperti ini sekali lagi.”

Bu M tertawa riang. “Semoga saja begitu,” katanya, “semoga kiamat atau bencana besar yang memusnahkan manusia tidak pernah terjadi dan Anda bisa terus terlahir kembali dan berbahagia. Selamat siang. Dan sekali lagi, terima kasih telah berbisnis dengan kami.”

Mereka bangkit dari tempat duduknya masing-masing, bersalaman, lantas Huda keluar dari ruangan berdinding kaca itu.

Matahari bersinar terik di luar.


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.