Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Anggota Fraksi PKB, Komisi I DPR RI Syaiful Bahri Anshori (SBA). (Foto: Istimewa)
Anggota Fraksi PKB, Komisi I DPR RI Syaiful Bahri Anshori (SBA). (Foto: Istimewa)

SBA Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme di Media Sosial

Berita Baru, Lumajang – Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo RI selenggarakan webinar bertajuk ‘Pemanfaatan Media Digital dalam Menangkal Radikalisme’, di Lumajang, Jawa Timur, pada Selasa (5/4).

Hadir dalam kesempatan tersebut sebagai narasumber diantaranya Anggota Komisi I DPR RI Syaiful Bahri Anshori, Staf Khusus Menteri Kominfo RI Rosarita Niken, dan Ketua Fatayat NU Jember Rahmah Saidah.

Syaiful Bahri Anshori mengatakan bahwa saat masuk era digital dimana mayoritas rakyat Indonesia telah mengenal dan bahkan sudah menggunakan internet dalam kesehariannya.

Namun, legislator Jember itu mengungkap masih ditemukan, dan itu tidak sedikit, yang belum mampu memilah antara aktivitas internet yang bersifat positif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial.

“Perkembangan internet dan aplikasi digital sangat cepat di Indonesia, memiliki dampak positif maupun negatif. Positifnya, internet dan aplikasi digital memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi, bekerja, berbisnis, dan aktivitas yang lain,” kata anggota DPR RI yang akrab disapa SBA itu.

“Akan tetapi internet dan media digital dapat disalahgunakan untuk kegiatan penyebaran hoaks, radikalisme, penipuan, pornografi, bullying, prostitusi, SARA, ujaran kebencian, narkoba, dan lainya,” sambung SBA.

Bahkan ia menyebut pemanfaatan dunia siber saat ini tidak hanya digunakan untuk meraih keuntungan ekonomi, namun ruang siber juga dipergunakan untuk kepentingan politik dengan tujuan menyebarluaskan pemikiran ideologi radikal.

Hal ini menurutnya perlu diantisipasi sedini mungkin dengan memberikan pemahaman dan pengertian mengenai penggunaan media sosial yang cerdas dan bijak. Terlebih juga pemahaman paling mendasar yaitu keagamaan.

“Hal ini terlihat dari adanya perekrutan kelompok teroris yang menggunakan media sosial hingga tersebarnya konten-konten radikal. Medsos sangat rentan digunakan sebagai media untuk menyebarkan paham radikalisme, mengajak aksi radikal dan menciptakan bibit terorisme,” tegas SBA.

Senada dengan SBA, Rahmah Saidah, Ketua Fatayat NU Jember menyatakan bahwa seluruh elemen masyarakat dapat menangkal pemikiran radikal dengan turut serta memposting konten-konten positif di media sosial.

“Perkembangan media sosial dan teknologi digital, perlu diimbangi dengan peningkatan kecerdasan dan kesantunan penggunanya. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi pengguna internet yang terus menerus dan berkesinambungan ke seluruh masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap dengan adanya gerakan edukasi, masyarakat akan lebih cerdas dan bijak dalam bermedia sosial, sehingga dampak negatif dari media sosial seperti penyebaran radikalisme, terorisme dan lainnya akan menjadi berkurang.

“Selanjutnya perlu kerjasama seluruh komponen bangsa, mulai dari pemerintah, lembaga dan keluarga dengan terus menanam benih benih kemanfaatan di media sosial,” tutur Rahmah Saidah. 

Sementara Staf Khusus Menteri Kominfo RI berharap menyampaikan, seluruh komponen bangsa harus dapat menggunakan media sosial harus cerdas sehingga dapat menangkal bahaya kelompok radikal dan tidak melanggar Undang-Undang ITE.

“Para influencer secara tidak sadar dan tidak mengetahui terlanjur memposting dan mempromosikan produk perjudian, menyakiti orang atau mengakibatkan kasus penipuan. Oleh karena itu, kita harus cerdas menggunakan media sosial agar tidak terkena kasus pelanggaran Undang-Undang ITE,” ujarnya.

“Generasi muda dituntut kritis, kreatif, fleksibel, terampil, memiliki kemampuan digital yang baik. Sehingga dapat menangkal paham kelompok radikal. Serta didukung kaum agamawan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat luas,” pungkas Rosarita Niken. (mkr)