Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Seorang penduduk setempat berjalan dengan sepedanya ketika anggota angkatan bersenjata Ukraina terlihat di dekat garis pemisah dari pemberontak yang didukung Rusia di luar Horlivka di wilayah Donetsk, Ukraina, 20 Januari 2022. Foto: Reuters.
Seorang penduduk setempat berjalan dengan sepedanya ketika anggota angkatan bersenjata Ukraina terlihat di dekat garis pemisah dari pemberontak yang didukung Rusia di luar Horlivka di wilayah Donetsk, Ukraina, 20 Januari 2022. Foto: Reuters.

Rusia dan AS Lanjutkan Dialog Konflik Ukraina Pasca Pertemuan di Jenewa

Berita Baru, Moskow – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan dialog dengan AS tentang konflik perbatasan Ukraina akan berlanjut saat pertemuan di Jenewa berakhir.

Hal tersebut disampaikan Lavrov dalam sebuah konferensi pers pada Jumat (21/1), setelah ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Lavrov mengatakan dia berharap bahwa emosi akan mereda atas Ukraina dan mengulangi pernyataan Rusia bahwa itu tidak menimbulkan ancaman bagi Ukraina, bekas negara Soviet.

Selain mengirim puluhan ribu pasukan militer telah bersiap di dekat perbatasan Ukraina, Rusia juga mengirim pasukan ke Belarus untuk latihan militer bersama.

Rusia ingin NATO berjanji untuk tidak mengakui Ukraina sebagai anggotanya dan telah mendesak aliansi militer Barat untuk menghentikan ekspansi ke arah timur.

NATO telah menolak tuntutan tersebut.

Terkait dengan pertemuan Jenewa yang dilakukan pada Jumat, Lavrov menggambarkan pertemuan tersebut merupakan pertemuan yang terbuka dan bermanfaat.

Lavrov mengatakan Rusia tidak memiliki rencana untuk menyerang Ukraina dan bahwa Presiden Vladimir Putin selalu siap untuk kontak dengan Presiden AS Joe Biden, tetapi setiap kontak harus dipersiapkan dengan baik.

Menjelang pembicaraan di Jenewa, Blinken dan Lavrov berjabat tangan di Hotel President Wilson di kota Jenewa, Swiss, dan sepakat bahwa mereka ingin memilih jalan diplomasi.

“Tetapi saya berharap dan berharap bahwa kita dapat menguji apakah jalan diplomasi, dialog tetap terbuka. Kami berkomitmen untuk menempuh jalan itu, untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita secara damai dan saya berharap untuk menguji proposisi itu hari ini,” kata Blinken, dalam konferensi persnya sendiri, dilansir dari Reuters.

Harapan AS untuk membangun front persatuan oposisi terhadap Moskow diperumit oleh komentar Presiden AS Joe Biden pada konferensi pers pada hari Rabu (18/1).

Dalam konferensi pers itu, Biden memperkirakan Rusia akan “masuk” ke Ukraina dan jika itu terjadi, Biden mengatakan Rusia akan membayar mahal.

Negara-negara Barat khawatir Rusia akan melakukan serangan di Ukraina seperti yang terjadi di semenanjung Krimea pada 2014.

Rusia membantah merencanakan serangan tetapi mengatakan akan mengambil tindakan militer yang tidak ditentukan jika tuntutan keamanannya tidak dipenuhi.