Pasukan Kemanan Myanmar Menembaki Pedemo, 13 Orang Tewas

(Foto: CNN)

Berita Baru, Internasional – Pasukan keamanan Myanmar menembak massa aksi yang menentang pemerintah junta untuk kesekian kalinya pada Rabu (3/3). Menurut saksi mata dan laporan media, sebanyak 13 orang tewas dalam tembakan tersebut.

“Mengerikan, ini pembantaian. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan situasi dan perasaan kami,” kata aktivis muda Thinzar Shunlei Yi, kepada Reuters melalui aplikasi perpesanan.

Saat dimintai komentar, juru bicara dewan militer yang berkuasa tidak menjawab panggilan telepon.

Korban terbesar berada di pusat kota Monywa, di mana lima orang yang tediri dari empat pria dan satu wanita tewas, kata Ko Thit Sar, editor Monywa Gazette.

“Kami sudah konfirmasi dengan anggota keluarga dan dokter, lima orang telah tewas,” katanya kepada Reuters.

“Sedikitnya 30 orang terluka, beberapa masih tidak sadarkan diri.”

Di kota utama Yangon, saksi mata mengatakan sedikitnya tiga orang tewas ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan dengan senjata otomatis pada sore hari.

“Saya mendengar begitu banyak tembakan terus menerus. Saya berbaring di tanah, mereka banyak menembak dan saya melihat dua orang tewas di tempat,” kata pengunjuk rasa Kaung Pyae Sone Tun, 23, kepada Reuters. Dia mengatakan beberapa orang terluka dan dibawa pergi.

Berita Terkait : Protes di Hong Kong Tak Sebabkan ‘Pergerakan Uang Besar’ ke Singapura
Dua orang tewas di kota Mandalay, kata seorang saksi mata dan laporan media. Dua orang tewas di kota pertambangan utara Hpakant, kata seorang penduduk di sana, dan satu orang tewas di pusat kota Myingyan. Sejak kudeta pada 1 Februari, sedikitnya 35 orang tewas dalam gelombang aksi di seluruh Myanmar.

“Negara ini seperti Lapangan Tiananmen di sebagian besar kota besar,” kata Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, di Twitter, merujuk pada tindak kekerasan terhadap protes yang dipimpin mahasiswa di Beijing pada tahun 1989.

Salah satu video yang beredar di media sosial memperlihatkan barisan pria muda dengan tangan di atas kepala, masuk ke truk tentara saat polisi dan tentara berjaga. Reuters tidak dapat memverifikasi rekaman tersebut.

Aktivis demokrasi Esther Ze Naw mengatakan kepada Reuters bahwa pengorbanan mereka yang meninggal tidak akan sia-sia.

“Kami akan melanjutkan laga ini dan menang. Kami akan mengatasi ini dan menang,” katanya.

Pada hari Selasa, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) gagal membuat terobosan pertemuan virtual menteri luar negeri di Myanmar. Sementara persatuan negara-negara ASEAN yang menyerukan pembebasan Suu Kyi dan tahanan lainnya hanya empat anggota – Indonesia, Malaysia, Filipina dan Singapura.

Berita Terkait : Banjir Korea Selatan: Ribuan Orang Dievakuasi, 26 Orang Meninggal
“Kami menyatakan kesiapan ASEAN untuk membantu Myanmar dengan cara yang positif, damai dan konstruktif,” kata ketua ASEAN, Brunei, dalam sebuah pernyataan.

Media pemerintah Myanmar mengatakan, menteri luar negeri yang ditunjuk militer, Wunna Maung Lwin, menghadiri konferensi tersebut dan “mengetahui pertemuan penyimpangan pemungutan suara” dalam pemilihan November.

Militer membenarkan kudeta tersebut dengan mengatakan bahwa terdapat kecurangan dalam pemilu pada 8 November yang dimenangkan partai Suu Kyi secara telak. Namun, komisi pemilihan mengatakan bahwa pemungutan suara berlangsung dengan jujur dan adil.

Pemimpin Junta, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, telah berjanji untuk mengadakan pemilihan baru tetapi belum jelas kapan itu akan terjadi.

Sementara itu, mantan pakar PBB di Myanmaar, Chris Sidoti mengatakan bahwa perusahaan asing harus menangguhkan semua bisnis di Myanmar untuk memberi sikap yang jelas kepada militer.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini