Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Netizen kepada Greta Thunberg: Kembalilah ke Sekolah
(Foto : Sputnik News)

Netizen kepada Greta Thunberg: Kembalilah ke Sekolah



Berita Baru, Internasional – Pada bulan September, aktivis iklim Greta Thunberg memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan para pemimpin dunia di KTT iklim PBB internasional. Greta meluapkan kemarahan kepada para pimpinan karena tidak melakukan apa-apa terhadap tantangan perubahan iklim.

Sejak saat itu ia menjadi orang termuda yang dinobatkan sebagai ‘Person of The Year 2019’ oleh majalah Time. Kegigihannya dalam membela iklim berhasil menginisiasi berbagai aksi besar di seluruh dunia.

Dilansir dari Sputnik News, Minggu (29/12), Greta Thunberg, yang dikenal dengan orasi iklimnya yang berapi-api saat berada di KTT di New York pada bulan September, telah ikut serta dalam hashtag akhir tahun yang sedang tren saat ini di Twitter # 2019in5words.

Menyimpulkan akhir tahun hanya menggunakan lima kata, tweet Greta Thunberg: “Rumah kami terbakar”.

Thunberg melontarkan kata-kata itu di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari tahun ini ketika menyampaikan peringatan iklimnya pada para pemimpin dunia di sebuah pertemuan.

Tidak sedikit dari netizen yang memberi komentar sensitif di media sosial tentang Thunberg, mereka bahkan berkomentar dengan mentweet remaja harus “kembali ke sekolah”.

Aksi Greta Thunberg pada tahun 2019, terutama pidatonya yang cukup membara di New York, pada KTT Aksi Iklim Majelis Umum PBB, pada bulan September, menjadikan namanya bertengger sebagai Person of the Year termuda dari majalah Time.

Penobatan itu didapatkannya setelah hampir satu setengah tahun Thunberg melakukan pemogokan iklim pertamanya. Pada bulan Agustus 2018, ia adalah seorang siswa yang duduk sendirian di luar gedung parlemen Swedia dengan membawa plang yang bertuliskan: “Skolstrejk för klimatet”.

Sejak itu, Thunberg yang telah didiagnosis mengidap sindrom Asperger, menggunakan media sosial sebagai media untuk menyebarkan upaya-upaya secara persuasif untuk mengajak publik berpikir tentang perubahan iklim.

Sementara itu, banyak netizen  menyesalkan pendekatannya yang terlalu konfrontatif, memecah belah, dan kadang-kadang salah informasi.