Langlang Si Sajak Langley

Langley

Bersua Juang

sepasang tak lekang tiada membeda pandang
melangkah genap ganjil bersua juang
degap-degup menghirup tiada lekang
siapa yang menghadang berbalik kandang
sepasang yang berkasih sayang

pada dedaun yang mengalun rancak hati
pada bebunga yang membilas selaksa pedih
pada mahkota-mahkota kesabaran tak terperih
sepasang yang terus bergoyang sehati
di sini kesetiaan tak terbilang hari

Telik Sandi

antarmuka bercahaya noktah merah
berkedip bak mata dewa di istananya
memburai gelap sekitar
menyasar badan-badan kekar terbungkus kevlar
hitungan kalkulus hunus layar tangguh
membilang desepsi, infiltrasi, ekstraksi
siapakah ini senja?
atap-atap teraman dalam cengkeram si Elang
hilir mudik gelas antileleh
kopi-kopi tertuang mandiri, terseduh padu
bersama seduh sedan yang dibuatnya,
atau kreasi politik di ujung sana
bangsa-bangsa lugu di Timur Jauh,
atau dara-dara Asia yang lugu

anak-anak Langley suka berkerindangan
berfasihat dengan filsafat alat 
di bawah atap, cengkeram Sang Elang
taris erat ku hingga bindam
hebat hening dalam lima detik
yang abad, yang tahun, yang bulan
Degup di dada ku, biru legam
Langley berpeluh bukan di kulit
namun di ujung kaliber bara
begitu masygul, sangat parafasia
risau berlindak-lindak di benak
mendesau di bawah cengkeraman si Elang
tusukannya birama basah
kokang beku meredih pori 
dingin di Langley

Revolver Tujuh Turunan

putaran satu, bergerak tanpa rasa
putaran kedua, bertugas tanpa resah
putaran ketiga, ah, berjingkrak tanpa arah
putaran keempat, begitu sepi, tentang nyawa
putaran kelima, teramat dingin, tentang darah
putaran keenam, nyaring ringkik pusara
putaran ketujuh, pastilah kaliber 22

kecam kejamlah semua putarannya
memisahkan cinta dan pujaannya
letup-letup itu adalah kanopi maut
merenggut dari atas bayangan teduhnya
rindang tak pandang dendang
penguasa tanpa resah melumat dahaga
akan darah-darah dan nyawa

Tinggalkan Balasan