Api Perlawanan

Api Perlawanan
(Gambar: @armedian_id)

Api Perlawanan

I/
Manisku, aku menulis soal kesedihan dan rasa cemas, dan orang-orang menuduhku tak paham perihal masyarakat tanpa kelas, pihak penindas dan pihak tertindas.

Aku menulis soal rindu dan hujan, dan orang-orang menganggapku tak tahu bagaimana cara melawan kekerasan, tak tahu kalau di sekitarku marak sekali pembangunan-pembangunan, tak tahu kalau juragan tambang sedang menggerogoti tanah moyang.

Aku menulis soal depresi dan pencarian, dan orang-orang mengatakan aku telah melupakan pembahasan mengenai kampung halaman yang hilang kekampungannya karena banyak perantau pulang dari kota lalu membawa budaya yang berbeda.

II/
Manisku, di luar sana, kau perlu tahu, banyak orang menulis soal perlawanan terhadap pemerintah, atau orang-orang yang sekiranya menindas, tetapi mereka menulis sambil nongkrong di kafe-kafe mewah, dan dengan tak tahu malu keseharian mereka tak pernah ikut andil dalam memperjuangkan nasib orang-orang tertindas.

Banyak orang menulis soal perlawanan hanya untuk terlihat gagah dan tak dianggap penulis murahan.

Banyak orang bermalam-malam nongkrong di warung sambil menyanyikan lagu-lagu kritikan, sambil mengisap rokok dan meminum kopi, lalu merasa ialah kelak pencetus revolusi.

Berita Terkait :  Prediksi Corona Indonesia

III/
Aku tahu, api perlawanan selalu ada dalam dada manusia, tapi tak banyak yang mau dan mampu mengobarkannya.

Aku tahu siapa pun punya api perlawanan itu, tapi hanya sedikit yang memperlihatkannya. Jadi, tidak perlu merasa paling ‘melawan’!

Sumber: IG @Armedian_id

Yogyakarta, 2019

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan