Tantangan dan Peran Perempuan di Era Modern

-

Oleh: W Sanavero


“Berilah kepada perempuan hak memilih dan dipilih, hapuskan semua aturan-aturan yang membelakangkan mereka dari laki-laki dan merintang-rintangi kemerdekaannya, bukakan pintu kepada semua perempuan ke dalam semua jawatan dan perusahaan, buatkan pendidikannya menjadi sederajat dengan pendidikan laki-laki sehingga mereka mendapat kesempatan yang sama luasnya, akan dapat membasmi industri di rumah yang tidak sehat dan rendah upah itu yang di dalamnya berkeluh kesah pula miliun-miliunan perempuan pula- akan dapat memecahkan rahasianya hantu persundalan? Tidak., tuan tidak akan dapat semua itu! Semua kesengsaraan perempuan ini dalah terikat kepada masyarakat yang borjuis, kepda cara priduksi yang sistemnya kapitalistis. Malah juga kepada kepada sebagian besar daripada perempuan-perempuan golongan atasan dan pertengahan, kepada mereka yang dapat bersuami dan beranak, pergerakan perempuan borjuis itu tidak dapat mendatangkan kemerdekaan, tidak dapat mendatangkan pemecahan soal hidup.”(Pidato Henriette Roland Holst, dikutip dari buku ‘Sarinah’ karya Ir. Soekarno)

Perjalanan Panjang Pergerakan Perempuan Menuju Modern

Sebenarnya hari ini akan sangat bias ketika masih membicarakan ‘Peradaban Perempuan’ pada posisi protes atau mengajukan ketidakpuasan atas tatanan sosial. Seperti halnya yang ditulis dan ditekankan Ir. Soekarno, bahwa tak akan dicapai kesetaraan dan keadilan perempuan hanya dengan menyamakan posisi laki-laki dan perempuan saja. Namun yang harus diubah dan disetarakan adalah keadilan dan sistem masyarakatnya. 

Sederhananya, kesetaraan harus dititikberatkan pada sistemnya, bukan kelompok masyarakatnya. Maka sebenarnya, Ir. Soekarno telah menawarkan cara pandang baru tentang beberapa tingkatan-tingkatan perjalanan perempuan selama ini menuju era baru yang disebut “Dunia Baru” seperti yang dituliskannya dalam buku berjudul ‘Sarinah’:

Tingkatan Kesatu, tingkatan perserikatan ‘Club-Club’ yang anggotanya rata-rata dari kalangan perempuan atas atau borjuis. Di mana tujuan clubnya adalah meningkatkan produktifitas kegiatan berumah tangga  dengan membuat kelas-kelas ilmu memasak, ilmu menjahit, ilmu berhias. Di mana pada akhirnya kegiatan ini akan tampak hanya sekedar “Menyempurnakan anggota-anggotanya untuk cakap memegang rumah tangga, cakap menerima tamu, cakap akan seksualitas, dan cakap menjadi ibu”. 

Perbandingan antara hak perempuan dan laki-laki tak disinggung, ekses-ekses patriarchattidak ditentang dalam kelompok ini. Mereka terkadang akan membuka sekolah-sekolah untuk para gadis yang tak lain berisi tentang “Sekolah Rumah Tangga” di zaman sekarang, yang hanya lebih Mondaineatau Mriyantun. Mereka merasa diri mereka satu tingkat lebih tinggi ketimbang perempuan-perempuan lainnya, perempuan-perempuan yang kurang mahir tentang ilmu “Keperempuanannya”. 

Tingkatan kedua, Henriette Roland Host akhirnya menyadari usaha dan ikhtiar kelompok perempuan tingkatan kesatu di atas hanya menghasilkan sikap om den men te bekoren yaitu sikap untuk membuat atau memikat hati laki-laki saja. Hanya pada lingkaran perempuan kalangan atas bukan perempuan proletar. Seiring berjalannya waktu kelompok ini surut lalu muncullah satu tingkatan baru atau kelompok baru, yang sadar membantah kelebihan hak kaum laki-laki, sadar untuk menuntut persamaan hak, persamaan derajat dengan kaum laki-laki. 

Pada kelompok kedua ini mereka sadar bahwa segala ruang dan gerak dimonopoli oleh kaum laki-laki. Mereka merasa tidak adil, bahwa perempuan di ruang publik tidak mendapatkan akses oleh kaum laki-laki. Tidak boleh masuk kantor, tidak boleh masuk perguruan tinggi, tidak boleh ikut berpolitik, tak boleh ikut anggota parlemen, tak boleh jadi hakim dan lain sebagainya. 

Maka pokok tujuan dalam tingkatan ini adalah memberantas ketidakadilan hak, derajat, antara kaum laki-laki dan perempuan. Serta menuntut persamaan hak dan derajat keduanya. Aksi perempuan Amerika di bawah komando Mercy Otis Werren (dan juga Abigail Smith Adam) yang cukup besar dan berpengaruh terhadap ideologi perempuan di Eropa terutama perancis. Lahirlah revolusi Perancis yang meledaknya sesudah aksi di Amerika, dipimpin oleh Madame Roland (pemimpin perempuan atasan) dan Olympe de Gouges, Rose Lacombe, Theroigne Mericourt (Pemimpin perempuan bawahan). Mendirikan perserikatan-perserikatan dan organisasi yang menuntut persamaan derajat-hak di ruang publik yang memiliki banyak pengikut. 

Revolusi itu adalah aksi terbesar perempuan di sepanjang sejarah kehidupan, meskipun pada akhirnya pemimpin kelompok ini dipenggal batang lehernya oleh pihak laki-laki di bawah Guilyotin. Kejadian ini membuktikan gerakan revolusioner yang maha-hebat di pihak perempuan yang menjadikannya tak hanya tercatat pada perjuangan perempuan namun menjadi sejarah besar evolusi kemanusiaan. Belum surut gerakan ini sudah disambut oleh seorang penulis yang cukup berpengaruh di Inggris, yaitu Mary Wollstonecraft dengan bukunya berjudul “Vindication Of The Right Of Woman”; Pembelaan atas hak-hak perempuan. Sejak itu mulailah kaum perempuan di Inggris memasuki gelanggang perjuangan menuntut hak-hak perempuan. Gerakan ini lah yang disebut dengan Gerakan Feminisme. 

Tingkatan Ketiga, Pergerakan Sosialisme, dimana perempuan dan laki-laki bersama-sama berjuang, bahu-membahu, untuk mendatangkan masyarakat yang sosialistis; sama-sama sejahtera, sama-sama merdeka. Di sini mereka hendak membawa “Duni Baru” bagi pergerakan perempuan ataupun laki-laki. Gerakan ini muncul sebab nasib dari kalangan perempuan proletar. Di mana sebenarnya hak bekerja sudah ada di tangan mereka. 

Sejak timbulnya Industrialisme, mereka telah berduyun-duyun masuk pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan, menjualkan tenaga bekerjanya kepada berbagai majikan. Bahkan sejak saat itu mereka telah terlepas dari kehidupan berumah tangga, telah menceburkan ke dalam masyarakat sebagai kuli, sebagai budak, sebagai “Proletar”. Sejak timbulnya Industrialisme mereka lebih lama di pabrik ketimbang di samping api-dapur. Hak bekerja sudah ada pada tangan mereka, hanya “Permanusiaannya” pekerjaan itu yang belum ada pada mereka!

Di mana pekerjaan di pabrik seharusnya tidak lebih dari sembilan jam kerja. Perikemanusiaan pekerjaan yang terjadi pada pekerja laki-laki dan perempuan. Maka inilah sebab kaum perempuan bawahan itu akhirnya tidak puas dengan tuntutan feminisme saja. Kaum perempuan bawahan, hendak merebut persamaan hak dengan laki-laki, juga hendak merebut hak memilih dan dipilih buat parlemen atau dewan-dewan lain. Pemimpin gerakan ini adalah Clara Zetkin, ia mengemukakan bahwa sebenarnya yang lebih rendah dari kaum perempuan bawahan adalah kaum laki-laki proletar. Sebab itulah kelompok ini merebut persamaan hak bersama kaum laki-laki!

Kaum pergerakan ini bukan tidak sepakat dengan tuntutan-tuntutan feminisme namun dengan gerakan Feminisme saja tak cukup. Sebenarnya yang perlu bukanlah hanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan tetapi susunan masyarakat! Apakah telah mencukupi persamaan hak saja, kalau seluruh susunan masyarakatnya penuh dengan ketidakadilan? Kalau perempuan dan laki-laki keduanya adalah kaum tertidas di tengah sektor ekonomi dan sosial. 

Maka dalam kelopok ini aksi perempuan sosialis berjalan bersama-sama dengan laki-laki. Sementara feminis berjalan melawan laki-laki. Sederhananya, dalam buku Sarinah karya Ir. Soekarno mengemukakan beberapa tingkatan perjalanan pergerakan perempuan dari masa ke masa dalam memperjuangkan dirinya di tengah-tengah masyarakat yang sebelumnya sejarah telah memberi cerita bahwa perempuan pada masa sebelum revolusi Perancis dan Amerika berada pada titik terendah di tengah kelompok masyarakat. Baik secara personal ataupun sosial. Tak terkecuali di Indonesia. 

Posisi Perempuan Di Era Modern

Sebelum jauh menuju peran dan tantangan perempuan di Era Modern, pada bab ini akan dimulai dengan menyelaraskan tafsir kata “Modern”. Apa itu Modern?  Hemat saya, modern adalah perubahan besar sebuah tatanan/pola politik, sosial dan ekonomi yang bersifat tradisional ke pola-pola politik, sosial dan ekonomi yang telah berkembang di negara-negara Barat. 

Meskipun seringkali modern ini sering dikaitkan dengan westernisasi yaitu sikap meniru dan menerapkan budaya Barat tanpa adanya upaya-upaya untuk menyeleksi dan menyesuaikan/ akulturasi dengan nila-nilai budaya yang telah dimiliki sebelumnya. Keduanya sangat jauh berbeda. Era modern menitik beratkan pada ‘Perubahan Besar’ pada ruang lingkup politik, sosial, dan ekonimi yang akan melahirkan sebuah budaya baru yang telah diseleksi secara alamiah atau naluriah. 

Salah satu produk dari modernitas adalah Revolusi Industri 4.0 di mana kemajuan teknologi otomatisasi dan teknologi siber diup-grademenjadi satu produk yang menghubungkan segala aspek kehidupan manusia yang tentu telah banyak merubah pola pikir, gaya hidup masyarakat dan berbagai bidang seperti pendidikan dan situasi politi-ekonimi. Modernisasi ditempuh semua manusia di belahan bumi, termasuk perempuan. Di mana minset umum nyatanya masih memposisikan perempuan pada satu tingkat lebih rendah dari kapasitas laki-laki. 

Jika kita fokuskan Istilah Modern dalam lingkup milenial, pada pengertian teknologi informasi/ internet, perempuan masih dianggap hanya sekedar konsumen atau pelanggan. Perempuan dianggap masih duduk di tempat dengan cara pandang “Bagaimana dapat mengakses internet” saja, bukan bagaimana terlibat ke dalam ketrampilan digital/teknologi Informasi. Padahal, sudah banyak kita temui perempuan-perempuan telah terlibat dalam Literasi Digital di Indonesia; banyak perempuan telah menggunakan digital untuk menciptakan platform-platform di berbagai bidang, usaha/ekonomi, keratif/seni, aplikasi pendidikan dan lain sebagainya. Artinya perempuan dan laki-laki sudah berbaur mengembangkan kewirausahaan digital. 

Hal yang sama, ketika di lingkup keluarga bagaimana seorang perempuan berperan? Ya, sebenarnya pada tingkatan pertama dan kedua di atas menghasilkan peluang besar pada perempuan untuk berperan ganda. Sebab bagaimanapun, seorang ibu tak akan pernah bisa jauh dari anaknya dalam memberikan kasih sayang serta pendidikan. Di sisi lain di era ini telah mendapatkan cita-citanya dalam terbukanya gerbang ruang publik untuk diisi dan diperankan oleh perempuan. Namun modernitas telah mendatangkan budaya atau kebiasaan baru pada tatanan masyarakat bahwa segala kegiatan berumah tangga tidak menjadi kewajiban seorang istri atau ibu seorang. Pekerjaan domestik kini menjadi pekerjaan bersama yag dibagi dan disepakati oleh kedua belah pihak. Meskipun tidak semua keluarga seperti itu. Tapi setidaknya situasi Patriarchi telah ditentang dan dijelaskan diskursusnya.

Pada bidang pembangunan dan pemerintahan kini juga telah diisi oleh banyak perempuan. 

Peran dan Tantangan Perempuan Di Era Modern

Modern memberikan peluang besar bagi siapapun, baik laki-laki dan perempuan untuk bebas menentukan pola pikir dan bertindak/bersikap khususnya dalam menentukan otoritas indinvide. Maka tantangan terbesar dari sebuah Modernitas adalah persaingan atau kompetisi yang sangat terbuka yang akan menimbulkan kebebasan dalam berpendapat, pertindak, dan bergerak. Kebebasan seringkali mendekatkan siapapun pada tujuan yang pudar.

Masih dari Ir. Soekarno, dia mengatakan bahwa ada pepatah klasik dunia “Teori tak dengan perbutaan, Mati! Perbuatan tak menggunakan teori, Ngawur!” mungkin pepatah ini dapat menjadikan netral dalam pergerakan kelompok perempuan di era modern. Atau bahkan pergerakan individu sebagai perempuan. Dengan memiliki pikiran yang terbuka namun tetap memegang teguh nilai, setidaknya perempuan atau laki-laki akan dapat menggenggam segala yang dicita-citakannya di bidang apapun. 

Peran yang dapat kita capai sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan modernitas adalah menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak sebagai makhluk sosial dan bernegara.

Di tulis dalam rangka merayakan peringatan Hari Kartini dan rasa syukur atas perjalanan panjang gerakan Perempuan


*W Sanavero adalah penulis buku Perempuan yang Memesan Takdir

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments