Angin Pada Daun Kering | Puisi-puisi Tjahjono Widijanto

Abstrak atwork oleh Jeanne Senda di Pinterest

Permainan Tuhan yang Ingin Kukenal

1/

seekor laron sayapnya rantap oleh api
setelah lelah seharian memburu cahaya

seekor kekupu sayapnya rontok di taman bunga
setelah jari seorang bocah menggamitnya mesra

2/

di depan tungku
apa yang dapat kau baca
tentang gairah api mesra
khusuk membakar kayu
di depannya kopi dalam cangkir alit
perlahan dingin membasi di bibir
pahit hitamnya mendekam di jakun
untuk bersiap kembali meronta
ketika ingatan tak ingin membatu
seperti kenangan pelaut pada  laut
yang dingin tenang dan kejam

di depan tungku,
bau hujan yang ranum
tenggelam sangit arang kayu
panas api seperti gelisah gadis
menunggu kekasih sepanjang purnama
bertandang dengan kecupan lembut
sebelum senja dan kenangan membayang
serupa nujum yang menjadi suratan

3/

seperti kemarin sore,
hari ini hujan lagi
bagai langkah bocah-bocah mungil
menggugurkan bunga-bunga mangga
atau daun-daun jati yang ranggas
melebur bersama humus dan rengkas tanah
seseorang akan segera mengemas barang
melancongi lagi jejak-jejak yang pernah ditapak
di antara semak, bebatuan dan simpang jalan
menuju rumah seluruh rindu yang keramat
bumi menatap dengan mata malaikat tua

bersama hujan,  bulan pingsan
cinta merayap dari peti-peti mati
seperti bentang kenangan penyair letih
menghikmat musim berlepasan
bersama mimpi mimpi ganjil yang harus tanggal

4/

pada urat-urat daun dibasah hujan
kau jadi tahu perjalanan buah disia-siakan ranting
berakhir pada gembuk tanah dan ulat-ulat setia
membantu musim memperabukannya sempurna
gambaran atlas perjalanan sampan
dengan nahkoda tak penah bosan berlayar
menerka arah mata angin yang terlupa
sebelum matahari angslup di ujung dermaga

Ngawi, 2021

Angin pada Daun Kering

Maaf, aku mesti meniupmu
perlahan dalam hembus paling desah
menatapmu dengan khidmat tak terucap
bagaimana kau bersitahan pada ranting merapuh

Perlahan saja aku meniupmu
sebagai isyarat mungil tentang rahasia
yang sama-sama tak bisa kita pecahkan
memandangmu bagaimana
kau perlahan melepas pegangan
turun (juga perlahan) di ruang-ruang sunyi
menyimpan seribu guruh
tentang nama-nama yang luruh

Ngawi, 2021

Dasamuka

pada siapa gemuruh anugerah birahi ini kuruntuhkan?
lalu serbuk-serbuk cintaku menempel pada pucuk-pucuk menara
dan ujung langit beranjak surup menanggalkan tubuh yang fana menggigil
membaca biografinya sendiri sebelum mengutuki gurun yang membara

siapa yang nanti akan lahir kembali
menandai amsal cuaca, berhala berhala yang terisak
mengoyak takdir  kusam tak kuasa menyimpan kosa kata
cinta  tinggal tergenang sesial air comberan yang sia-sia
kenangan sejarah busuk  selalu dikutuk sumpahi waktu

siapa sanggup membaca jantungku yang bungkuk
menafsiri takdir langit yang melayang bagai dendam
serupa mamtram yang rajin digumam selepas malam
malaikat-malaikat membiarkannya tersesat
o, rasa rindu yang menjelma tenung di selembar kabut
aku akan menjaring memahatmu di karang-karang waktu

“percayalah doaku akan menjelma bandang  yang  bergetar sepanjang malam…”

Piringan Hitam

di bak sampah aku menjumpaimu krasan dalam mimpi
seperti ratu di ranjang arkofagus
kukira kau mampus di lahap sunyi
nyatanya masih saja seksi penuh birahi
seperti pemuda yang mabuk revolusi

atau pemudi kasmaran menulis puisi
waktu memang mengubah sejarah
jalan-jalan yang dulu paling rahasia
kini ramai jadi bandar paling benderang
tapi sunyi selalu saja mengabadi
dalam melodi paling guruh

Ngawi, 018

Jam Weker

aku gagal mengingatmu, wahai denting bening
sudah terlampau lama deringmu absen mogok kerja
menyerah pada sunyi yang tak henti meyerap udara
beberapa nama turut terlupa
beberapa nama berhasil mengabadi
di keluarkan kembali dari kerangkeng kitab
yang lebih tua dari kesedihan penjadian
rindu dendam yang selalu disembunyikan
dalam kebisuan yang sengaja untuk dikekalkan
kisah-kisah tabah perlahan-lahan bangkit dari ingatan
seperti orang-orang kalah yang pantang menyerah

Ngawi, 018

Agenda-agenda Kematian

lancip cadas cadas batu menjadi tangga awan
kereta kencana perlahan mengarak mempelai
calon pengantin yang dinikahkan langit
jejak dipahat pada kubur-kubur bukit batu
lobang yang menjadi rumah boneka-beneka kecil
fana dan kekal  dilukiskan dalam kehangatan dan kelembutan
suatu akhir yang siap diterima bagai kelahiran pertama
hidup serupa humor yang memisahkan dari kematian, tanpa cidera

orang-orang khusuk membawa ranting-ranting dan batang kayu
menyalakan api bersama angin yang bertiup kencang
nama-nama yang mati diwariskan pada bayi-bayi
silsilah-silsilah pecah yang terus diunggah
mengambang di atas tanah menuju takdir pamungkas
kesempatan menyambangi negeri-negeri asing
perjalanan yang dilepaskan dengan cara hebat
para pengiring memandang lurus ke depan
tak goyah akan rindu yang datang membuncah
bocah-bocah terus tertawa berkejar-kejaran

keheningan datang dan pergi seperti cahaya yang angslup
dalam suram yang mulai dingin perlahan-lahan
seseorang mengucapkan selamat tinggal yang meriah

Ngawi, 0818

Kisah Anjing dan Matinya Orang Suci

Jangan tinggalkan anjingmu di sini….!
di lanskap berkabut ini  tak akan kau jumpa
bayangmu apalagi wujudmu
sebab langit utara telah hilang cahaya
dalam gelap kau hanya dapat meraba
dalam spekulasi seribu tafsir mimpi
yang meronta dalam genggaman para pecandu lotre

angin pun tak kelihatan, kelabu dan lengang
pohon-pohon bisu mencoba menjulurkan dahan
tapi daunnya tetap saja berubah warna
dan kutukmu sampai
cinta yang dulu sarat dengan mantra
kini perlahan menyatu dalam upacara-upacara

di puncak paling terjal ini
tak ada lagi brahmana, satriya atau praira
yang sibuk dalam jam-jam kerja
hari-hari mendadak karat
di musim-musim birahi

tanah impian makin lamur
cuaca begitu gelap tak terbaca
lancipnya mencucuk kornea
hingga kau tak lagi memerlukan mata
karena itu jangan tinggalkan anjingmu di sini!

Ngawi, 018/020


TJAHJONO WIDIJANTO Penyair Nasional dan Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpula Esai Budaya (2017) Dari Zaman Kapujanggan Hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (2011), Penakwil Sunyi di Jalan-jalan Api (2018), Wangsit Langit (2015), Janturan (Juni, 2011), Cakil (2014), , Menulis Sastra Siapa Takut? (2014),, Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), , Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009), dll..

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini