Berita

 Network

 Partner

Puisi Mohammad Ali Tsabit
Lukisan Van Gogh

Akhirnya, Kini Aku Pulang Kepadamu | Puisi-Puisi Mohammad Ali Tsabit

Kita Telah Jadi Mayat
Sebelum Ajal Menggeliat

Pilek dan batuk
mengatupkan pintu
serta mata jendela yang sayu

Kau lihat kota-kota semerah
kamboja pada selembar peta
juga lembar pertama sebuah sejarah

Tak ada lagi pesta
wangi parfum atau gelombang rambutmu
menghempas ke bahu kananku

Udara demam. Di ujung tiang
pijar lampu menghamparkan
selembar kafan

Surya menyingsing
musim bersalin dan pejalan
mencari-cari jalan lain.

Jam pada dinding jingga
itu kehilangan angka
hanya detik demi detik menekan—

menikam ribuan jadwal. Keberangkatan
dan kepulangan menjelma manekin pada papan
tinggal karcis di genggaman

Lanskap lumpuh
di tanah yang jauh:
loceng tak berdentang; beduk tak ditabuh;

trotoar, pasar, pabrik, terminal,
stasiun, stadion
memeluk kesunyian masing-masing

Ribuan impian terjual
jutaan kangen tergadai

Kita bayangkan, seorang rahib
mengirim sepucuk maklumat
ke setiap alamat

Berita Terkait :  Musim Kematian | Puisi-puisi Norrahman Alif

yang tertulis, pun tak tercatat:

almanak berkarat
tanggal-tanggal memberat
hari-hari sekarat, dan

kita telah jadi mayat
sebelum ajal menggeliat.
Tapi, siapa dapat memadamkan waktu?

Kita masih berjalan di alun-alun kota yang sama
Engkau ke tenggara, aku utara.

Bekasi-Sumenep, 2020

Buku Puisi

Kubuka lembar demi lembar rahasia
airmata dan gelak tawa
terkubur di balik gudukan bahasa.

Kulihat biji matamu jernih
menyimpan ikan-ikan di kedalaman
sungai yang tenang.

Di situ, di matamu
Kujumpai pula gejolak revolusi;
tipu daya atas nama keadilan.

Waktu terus berjalan
sebagaimana diberitakan putaran jarum jam
tapi kita tak pernah sampai pada tujuan.

Orang-orang mengutuk masal lalu
Engkau bimbang di hadapan masa depan
Lalu memilin lagi roh leluhur yang hampir lusuh.

Kututup lembaran rahasia itu
dengan helaan napas yang panjang
dan dada yang berdebar.

Berita Terkait :  Ceracau Si Gila | Puisi-Puisi Muhammad Ali Fakih

Jenangger, 2018

Suatu Hari Tak Akan Ada Lagi

suatu hari tak akan ada lagi
jam menjadi bangkai, dan aku
tak mungkin lagi menjumpaimu
di restoran, cafe, kantor,
bahkan di pantai, di mana
banyak orang menemukan keindahan

tembok rumah kita tak akan lagi
dilumuti janji, jadwal kerja
yang tak pernah sekali pun kita
tepati, sebab suatu hari itu
tak akan pernah ada lagi.

Kutub/Yogyakarta, 2018

Akhirnya, Kini Aku Pulang Kepadamu

Akhirnya, kini aku pulang kepadamu
dengan sebilah pedang tertanam di dada
dan mata yang rabun

Hujan turun mengguyur dusun
aku ragu berangkat ke kebun
buku-buku yang berkali-kali

melahirkan sajak ini
telah membuat parang
dan cangkulku tumpul

Dari tenggara kuhirup ruap lahang
mengawini bau busuk darahku
yang beku

Berita Terkait :  Ingatan di Puhsarang | Puisi Aditya Ardi N

O, berkatilah ini nasib yang terluka
yang tak lagi dapat menampung cinta
kecuali dalam nyenyat kata

Sumenep, 2016

Sinsu

Kudengar lagi jerit gergaji kayu itu
menyanyi pada sebuah siang di hari minggu
seperti kudengar derap kakimu
menempuh jarak yang cukup jauh
menerabas hutan
melintasi bukit dan pegunungan
menyeberangi sungai dan lautan
di mana tak pernah kau temukan
kota atau perkampungan untuk bermalam

Engkau adalah ingatan yang terpelanting
saat pangkal pohon mulai menganga
lalu terempas ke tanah moyang
hasratku menggeliat bersama sisa jerit sinsu
aku ingin kembali memungut remah kayu
dan berebut mayang nyiur dengan mereka
dalam masa kanak-kanakku

Kudengar lagi jerit gergaji kayu itu
menebang jiwaku yang piatu

Jenangger, 2017


Mohammad Ali Tsabit, belajar di Komunitas Kutub Yogyakarta. Buku puisinya Agitasi pada Sebuah Pagi.