Pohon Kelapa Tuan Imarafsah | Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

-

Aku adalah pohon kelapa yang paling tinggi di kebun tuanku; Tuan Imarafsah. Selain tertinggi, aku juga merupakan pohon tertua di kebun itu. Aku ada di kebun Tuan Imarafsah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, tepatnya saat Tuan Imarafsah masih gadis, atau sebelum kebun itu diberikan orang tuanya untuknya sebagai jatah warisan. Aku ada di kebun Tuan Imarafsah berkat ayahnya. Ia berjasa sekali padaku. Ia yang telah menyelamatkanku dari kematian.

Masih segar dalam ingatan, ketika itu, kakak Tuan Imarafsah yang pertama—Yusuf Shabran—membuangku ke tempat kumuh; di sebuah tempat yang biasanya untuk membakar daun kering—Tuan Imarafsah merupakan anak terakhir dari lima bersaudara. Sebelum dibuang, aku berada di kamar mandi. Arimbi-lah, istri Yusuf Shabran yang menaruhku di sana, saat aku masih dalam bentuk kelapa yang sudah tua. Aku ditaruh di kamar mandi, agar muncul tunas, kemudian jika dirasa cukup aku akan ditanam. Arimbi memang sudah lama ingin menanam pohon kelapa di depan rumah yang berhalaman lumayan luas.

Apa yang dilakukan oleh Arimbi membuat Yusuf Shabran tidak terima. Ia seperti sangat benci sekali denganku. Ia yang baru saja pulang dari rumah saudaranya, setelah seminggu lamanya di sana entah ada urusan apa, langsung membuangku. Aku tidak begitu tahu alasannya kenapa ia begitu membenciku. Arimbi terlampau takut untuk melawan Yusuf Shabran. Pagi menjelang siang dibuang, sorenya Yusuf Shabran kedatangan ayahnya. Saat ayah Yusuf Shabran pulang, sepasang matanya tidak sengaja melihatku. Ia mengambilku, dan membawaku pulang. Ia menanamku di kebun itu. Oya, kebun tuanku dengan rumah orang tua Tuan Imarafsah bersebelahan—di rumah itu juga, Tuan Imarafsah tinggal sebelum ia menikah dan hidup bersama suaminya.

Begitulah prosesnya, mengapa aku bisa ada di sini; di kebun Tuan Imarafsah. Ayah Tuan Imarafsah begitu berjasa padaku. Begitu aku ditanam di kebun Tuan Imarafsah, ayah Tuan Imarafsah tidak pernah mengurusiku. Sekitaran tiga bulan kemudian dihitung dari penanamanku, ayah Tuan Imarafsah memberikan teman untukku; beberapa tunas pohon kelapa. Saat tinggiku kira-kira seatap rumah, beberapa kali ayah Tuan Imarafsah memetik kelapaku yang masih muda untuk minuman para tamunya. Terkadang memetik pohon lain.

“Ayah sering kedatangan orang untuk urusan bisnis, mending kelapanya dipetik semua. Jadi ayah tidak perlu repot memotak-memetik,” saran Tuan Imarafsah. Begitulah yang kudengar saat ayahnya turun dari memanjatiku.

“Kalau dipetik semua, sama saja merampas kebahagiaan pohon ini, Imara,” respon ayah Tuan Imarafsah. Beberapa saat kemudian ia menyatukan beberapa butir kelapa muda yang ia petik menggunakan tali. “Jangan kamu kira pohon tidak punya perasaan. Ia bisa menangis, jika diambil semua kelapanya. Apalagi itu dilakukan setiap kali berbuah. Lagi pula, ayah tidak tahu kapan mau ada tamu. Ini saja ayah memetik, kemarin memang sudah ada janji dengan orang.”

“Pohon bisa menangis, Yah?” tanya Tuan Imarafsah, lalu tawanya meledak.

“Kamu ini kalau diberitahu malah tertawa! Pohon itu makhluk hidup, jangan kamu anggap benda mati yang bisa kita perlakukan seenak perut. Kita saja kalau memiliki sesuatu yang kita sayang-sayang, terus dirampas juga tidak suka, kok, walau lahiriah kita bilang ikhlas,” ucap ayah Tuan Imarafsah. Aku sama sekali tidak menyangka jika ayah Tuan Imarafsah memiliki pikiran yang demikian. “Begitu juga dengan pohon kelapa ini. Kelapa-kelapa yang masih muda itu, ibaratnya benda kesayangan kita. Lagi pula dengan tidak mengambil semua, itu bisa melatih kita untuk tidak rakus.”

“Lalu bagaimana dengan penjual es kelapa muda?”

“Mereka kan rata-rata memperoleh kelapanya tidak dari kebun sendiri, jadi masalah itu, bukan urusan mereka. Dan kalau ayah penjual es kelapa muda, dan memperoleh kelapanya langsung dari kebun sendiri, ayah tidak akan memetik semuanya.”

“Kalau kelapanya sudah kering semua? Apa tidak semua dipetik? Kalau tidak dipetik, bisa bahaya, menjatuhi orang yang lewat, kita yang harus tanggung jawab.”

“Kalau itu memang harus dipetik. Tidak ada pilihan lain. Nah maka itu, kalau keadaannya sudah demikian, kita jangan menikmati semuanya. Berikan beberapa butir ke siapa yang membutuhkan. Supaya apa? Seperti yang ayah katakan, melatih kita untuk tidak rakus. Lagi pula, kalau keadaannya demikian, maksud ayah kelapa sudah tua, itu sudah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa, mau tidak mau harus terlepas dari pohonnya. Dengan kata lain, pohon kelapa sudah tidak mungkin menangis…”

Percakapan Tuan Imarafsah dengan ayahnya, mengingatkanku pada teman-temanku—pohon kelapa—yang tinggal di kebun sebelah, milik tetangga Tuan Imarafsah. Di kebun itu ada sepuluh pohon kelapa. Ada pula beberapa pohon pisang. Pemilik kebun ialah penjual daging ayam di pasar. Wajahnya tidak seperti Tuan Imarafsah yang murah senyum. Aku selalu melihat wajahnya, dilingkupi semacam kekejaman. Orang itu selalu menyuruh orang—tukang petik kelapa—untuk memetik semua kelapa muda yang ada di kesepuluh pohon kelapa. Kelapa yang dipetik, tidak pernah dalam kondisi sudah tua. Maka aku sering mendapati pohon-pohon kelapa itu menangis.

Apa yang dikatakan ayah Tuan Imarafsah benar. Kami punya perasaan. Aku lega rasanya, Tuan Imarafsah bisa menuruti kata-kata ayahnya, itu semakin terlihat saat Tuan Imarafsah sudah tidak lagi memiliki kedua orang tua, dan kebun itu menjadi miliknya. Aku senang tentu saja, kebun ini tidak menjadi jatah saudara-saudaranya, sebab belum tentu sikap Tuan Imarafsah terhadapku, ada pada mereka.

Ya, Tuan Imarafsah menuruti kata-kata ayahnya. Meski ia sudah tidak tinggal di rumah almarhum orang tuanya, Tuan Imarafsah nyatanya masih memetik buahku, walau lewat orang yang ia percayai—sementara tidak ada tanda-tanda Tuan Imarafsah akan menebang diriku. Ya, Tuan Imarafsah telah mempercayakan aku dan pohon kelapa lainnya kepada seorang tukang petik kelapa, sekaligus pedagang—Tuan Imarafsah menjual kelapa-kelapa kepada orang itu. Ia bukanlah penjual kelapa muda. Ia hanya melayani pembelian kelapa yang sudah tua.

“Untuk urusan pengambilan perolehan uang dari hasil penjualan, saya bisa sewaktu-waktu ke rumah njenengan.” Begitulah yang kudengar, saat Tuan Imarafsah bertemu tukang petik kelapa di kebunnya.

***

Tanah yang di atasnya berdiri rumah almarhum orang tua Tuan Imarafsah, merupakan jatah warisan kakak Tuan Imarafsah yang kedua. Namun, rumah itu dirobohkan, dan dibangun yang baru. Aku melihat banyak orang pergi ke sana di waktu tertentu. Dari rumah itu juga, aku sering mendengar suara indah yang membuatku tenteram. Sejak Tuan Imarafsah meninggalkan tempat yang telah membesarkannya, sebenarnya aku selalu merasa seperti ada yang kurang. Tuan Imarafsah tidak lagi sering ke kebun, sekadar menyapu. Keadaan kebun kotor sekali kini.

Tukang petik kelapa kepercayaan Tuan Imarafsah, enggan menyapu. Tentu saja, Tuan Imarafsah hanya menyuruh untuk memetik kelapanya. Dua bulan sekali ia berkunjung ke kebun. Tuan Imarafsah terkadang juga ke kebunku. Ia akan melongok ke atas, mengecek kelapa-kelapa apakah masih ada yang tersisa atau tidak. Sepengamatanku, tukang petik kelapa itu selalu memetikku dengan tuntas, tanpa ada yang tersisa.

Suatu kali, saat tukang petik kelapa bersiap-siap akan memanjati aku, Yusuf Shabran datang. Ia berpesan kepada tukang petik kelapa yang tidak kuketahui namanya, untuk menyisakan tiga butir kelapa di pohonku.

“Saya sudah bilang Imarafsah. Njenengan tidak usah takut. Nanti kalau ada apa-apa saya tanggung,” ucap Yusuf Shabran.

“Tidak dipetikan sekalian?”

“Tidak perlu. Nanti saya petik sendiri. Selain itu kelapa itu tidak saya perlukan sekarang. Kalaupun besok sudah jatuh, akan saya ambil. “

Yusuf Shabran. Aku benci lelaki itu. Dalam sekejap kenangan masa silam kembali menyesaki ingatan. Aku benci. Sungguh. Ia adalah orang yang nyaris membuatku mati. Aku benci. Sejak tuan Imarafsah hidup bersama dengan suaminya, Yusuf Shabran sering bertandang ke kebun untuk mengambil pisang yang matang, dan tindakannya menyuburkan kebencianku padanya. Ia memangkas begitu saja buah pisang, tanpa pernah mengurus pohonnya yang seharusnya ditebang dan dibuang. Sedang Tuan Imarafsah kerap menggerutu, dengan adanya bekas irisan benda tajam di pohon pisang saat ia datang. Tuan Imarafsah tahu siapa yang mengambil pisang-pisang di kebunnya—ia sudah memastikan hal ini kepada tetangga sekitarnya.

“Hhhh, lama-lama bisa tak tebang semua pohon pisang, supaya tidak makan hati! Setiap kali diberitahu, selalu tidak terima, dan tetap keras kepala kalau tidak mengambil.” Itu merupakan gerutuan yang pernah kudengar dari Tuan Imarafsah. “Semakin tua, malah semakin serakah. Bukannya tobat sudah bau tanah!”

Dari situ aku menyimpulkan kalau Tuan Imarafsah tidak menghendaki pisang-pisangnya diambil. Namun, Tuan Imarafsah tidak juga mengambil tindakan menebang semua pohon pisang yang ada di kebunnya. Yusuf Shabran masih saja mengambil pisang. Dan sekarang malah menyuruh tukang petik kelapa menyisakan tiga butir kelapa untuk tidak dipetik. Si tukang petik kelapa tidak bisa berbuat apa-apa, selain patuh.

Dua hari setelah kelapa-kelapa dipetik, Tuan Imarafsah menjenguk kebunnya, sendirian tanpa sang suami. Aku bahagia, rasa-rasanya sudah begitu lama ia tidak datang ke kebunnya. Seperti biasa, ia mendongak ke atas—aku sangat salut, Tuan Imarafsah begitu teliti dan terus mau mengecek kelapa-kelapanya. Saat tatapannya tiba pada diriku, ia berkata, “Lho, kok ini tidak tuntas dipetik? Biasanya dipetik semua.”

Tuan Imarafsah, berjalan mengelilingiku.

“Masih tiga butir lagi,” ucapnya. “Sayang sekali tersisa. Apa mungkin lupa? Apa mungkin sengaja? Kalau sengaja ada tujuan apa?”

Tuan Imarafsah mengamati pohon kelapa yang lain, lalu kembali lagi padaku. Aku ingin menyampaikan kalau tiga butir kelapa ini masih menggantung padaku karena Yusuf Shabran. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin, aku hanya sebatang pohon kelapa yang tidak mungkin berkomunikasi dengan manusia.

“Atau ada yang menyuruh agar disisakan?”

Tuan Imarafsah tidak menghendaki, ada kelapa yang tersisa. Itu artinya apa yang diucapkan Yusuf Shabran kepada tukang petik kelapa—dari apa yang kudengar—tidak benar, atau tidak lain ialah kebohongan. Kemudian aku menjadi ingat dengan masa lalu; tindakan Yusuf Shabran kepadaku. Aku ingin memberinya pelajaran, sekaligus membalaskan dendamku. Ya, aku tahu apa yang harus kulakukan, meskipun aku sendiri tidak yakin akan berhasil. Aku menaruh harap kepada keadaan—semoga terwujud, Yusuf Shabran secepatnya datang, dan tiga butir kelapa belum terjatuh. Lalu ia memanjatiku untuk memetik kelapa itu. Jika itu benar terjadi, pada saat itulah kurasa waktu yang tepat untuk aku bertindak. Ya. Aku akan menjatuhkan kelapa itu tepat di atas kepalanya!

Jejak Imaji, 2020-2021


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments