Terjebak Salah Bebal: Sudah “Absen” Belum?


Terjebak Salah Bebal: Sudah “Absen” Belum?
OpiniNureza Dwi Anggraeni

Lahir dan besar di Indonesia bukan jaminan kita bakal terhindar dari salah kaprah bahasa Indonesia. Tak lagi salah kaprah, tapi sudah menjadi salah bebal. Karena berdasarkan pengamatan, beberapa orang pun tahu arti sebenarnya dari absen, tapi entah apa yang merasuki mereka hingga masih menggunakannya sebagai pengganti “hadir.” “Sudah absen belum?” pertanyaan ini sering kali saya dengar. Tak hanya dari mahasiswa tapi juga para dosennya. Dan saya rasa ini tak hanya berlaku di kampus tercinta saya.

Mentang-mentang jadi anak Indonesia, sebagian besar dari kita sering kali tak menaruh perhatian yang besar pada bahasa Indonesia. Beragam kata dalam bahasa Indonesia pun menjadi alasan kenapa kita tak lantas teliti memahami makna kata.

Banyak orang mengira Bahasa Indonesia itu mudah, karena nggak banyak aturan-aturan tertentu seperti halnya Bahasa Inggris. Tapi ternyata, banyak penggunaan kata-kata berbahasa Indonesia yang sering kita pakai sehari-hari namun masih suka salah.

Tidak dosa sebenarnya, hanya saja yang namanya salah tetap saja salah dan sudah seharusnya dibenahi. Apalagi sebagai orang Indonesia, malu dong kalau menggunakan bahasa ibu sendiri masih suka keliru.

Salah kaprah bahasa Indonesia ini terjadi karena sebuah kekeliruan justru dipakai terus-menerus hingga dianggap lumrah. Bukan cuma satu-dua istilah, dalam bahasa Indonesia sebenarnya banyak ditemukan salah kaprah yang dianggap lazim. Seperti haru biru, acuh, seronok, abai, de-el-el.

Berita Terkait :  Kehebatan Morfosintaksis Adjektiva Bahasa Indonesia

Kembali ke fenomena menggelikan absen atau absensi. Seperti apa sebenarnya susur galur kata tersebut? Kata ini kita serap dari bahasa Belanda ‘absentie’ yang maknanya ‘ketidakhadiran’. Lawan katanya adalah ‘presentie’ yang bermakna ‘kehadiran’. Dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘absence’ dan lawan katanya adalah ‘attendance’. Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri berflower absensi malah dimaknai dengan ‘kehadiran’.

Pasti Anda pernah melihat atau mendengar “sudah absen belum?” atau melihat daftar hadir di tempat Anda belajar dengan tulisan “Absensi Mahasiswa”?. Selanjutnya Anda mengacung  atau menandatangani, padahal itu semua artinya ditujukan untuk orang-orang yang tidak hadir.

Kerunyaman kata absensi ini lebih diperparah, karena kita mengenal kata absen yang maknanya ’tidak hadir’ (ini sudah tepat definisinya). Alhasil, kita diombang-ambingkan pada dualisme pemaknaan absensi ini, bisa ’kehadiran’, bisa juga ’ketidakhadiran’. Istilah ’daftar absensi’ juga sangat rancu, karena di situ termuat nama dan paraf orang yang hadir dan bukan yang absen. Seharusnya, karena kita sudah kepalang tanggung menyerap dari kata Belanda ini, maka harus disebut dengan ’daftar presensi’ (dari kata ’presentie’ = kehadiran).

Absen adalah verba atau kata kerja, sedangkan absensi adalah nomina atau kata benda. Meskipun dalam perkembangannya, makna absen juga bias berkembang menjadi ‘panggil’ ketika mendapat imbuhan meng-. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada lema (istilah) mengabsen di bawah lema absen dan merupakan verba atau kata kerja dengan penjelasan memanggil (menyebutkan; membacakan) nama orang pada daftar nama untuk memeriksa hadir tidaknya orang tersebut.

Berita Terkait :  Kehebatan Morfosintaksis Adjektiva Bahasa Indonesia

Selain kedua kata di atas, ada pula kata absente. Ada dua kata absente dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Absente yang pertama bermakna seseorang tidak dapat hadir; dan ketidakhadiran seseorang. Absente yang kedua bermakna perkebunan, tanah, perusahaan, dan sebagainya yang jauh dari pemiliknya.

Ada pula kesalahan pemahaman dan penggunaan kata yang berkaitan dengan absen dan presensi yaitu penyebutan yang tidak hadir. Di sekolah ada tiga jenis ketidakhadiran yaitu, S, I, dan A. Sakit; Izin; dan Alpa. Tetapi masih ada yang menyebut alfa untuk menyatakan tidak hadir tanpa keterangan. Padahal alfa dan alfa mempunyai arti yang berbeda jauh. Karena alfa itu pesaing ketatnya indo, kalau sama-sama diakhiri mar(e)t.  Cek sendiri deh ya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Fenomena bahasa ini sebagai bukti bahwa meskipun ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakat. Tidak sedikit orang yang dibesarkan dari keluarga yang dominan menggunakan bahasa daerah. Namun demikian, mereka paham bahasa Indonesia meskipun tidak mesti belajar secara formal terlebih dulu seperti pembelajaran bahasa Inggris di kursus-kursus. Bisa dibilang, yang mempelajari secara baik itu hanya orang asing dan guru atau dosen bahasa saja.

Ternyata ini punya efek kurang baik ke penggunaan Bahasa Indonesia itu sendiri. Kita jadi sering abai saat berbahasa Indonesia karena merasa sudah bisa dan biasa menggunakannya. Kita suka malas  buka kamus saat menemukan kata yang artinya belum diketahui atau diketahui tapi berdasarkan dugaan semata. Ini baru buta makna kata, belum buta tata bahasa dan lainnya.

Berita Terkait :  Kehebatan Morfosintaksis Adjektiva Bahasa Indonesia

Akhirnya, kebutaan telanjur menjadi kebiasaan padahal salah kaprah. Tidak hanya di tingkat individu saja, institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan bahasa, juga banyak melakukan salah kaprah bahasa.

Ajip Rosidi, seorang bahasawan dan juga sastrawan tersohor, pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Baginya, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham (salah kaprah sering digunakan untuk maksud salah paham). Salah kaprah berarti sebuah kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga dianggap kaprah (biasa;lumrah) atau dianggap lazim. Sedangkan menurut saya, jika sudah menyadari kesalahan tetapi masih tetap menggunakan karena alasan lumrah, itu namanya salah bebal.

Memang sih, masalah benar atau TIDAK soal belakangan, asalkan sama-sama paham. Tapi, paling TIDAK kita tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Lain kali, kita harus cek lagi kesesuaian kata yang digunakan dalam kalimat dengan makna yang sebenarnya. Setelah membaca tulisan ini, jangan salah kaprah apalagi sampai salah bebal lagi ya gaes-gaes tercinta.

Tinggalkan Balasan