Di Malecon Kau Raib | Puisi-Puisi D. Hardi

-

Palindrom

/
angin iseng hinggap di beranda
dan kita masih asyik
bercakap-cakap

/
tentang ihwal perjalanan:
pergi untuk pulang,
pulang untuk kepergian

/
tentang pedoman:
kanan bertolak kiri,
kiri bertolak kanan

/
tentang kehadiran:
tiada mewujud ada,
ada menuju ketiadaan

/
tentang apa yang lebih indah:
kala terang menyambut gelap,
kala gelap menyambut terang

/
tentang jarak kita sekarang:
aku menjadi ingatanmu,
kau menjadi ingatanku

2021

Di Malecon Kau Raib

/
pekik camar; raib samar-samar
aroma debur lautlangit semerah penantian

/
mata awas menara suar
adalah tatap la giraldilla
revolusi tenggelam di meja domino

/
kau mencari pachanga
atau ayunan salsa
dalam bayang fasad la fuerza

/
malam kian jatuh bagai madah
lelaki memagut sigar
hendak berbagi resah

/
mungkin sedikit mambo
mungkin sedikit mojito

/
tapi kau bukan setangkai carmine,
mawar putih
atau gadis dari guantanamo

2021

Kau bilang Ini Waltz?
: sesi Shostakovich

/
derai-derai merkuri hanyut
di kolam taman lumut

/
melebur nada-nada
yang lekas menjadi gema
  : kata-kata

/
revolusi adalah malam sublim
sepasang pengantin borjuis
dalam irama patah-patah
: konserto yang dingin

/
ini hari masih minggu, katamu
berhentilah berlagak serdadu

Berita Terkait :  Puisi-puisi Galeh Pramudianto: O o ya o ya o ya Wong Kar

/
kita bukan balerina
yang mudah dirayu

2021

Mencari John Woo

/
kuingat kau menghitung amuk sepasang beretta
seiring kepakan merpati di muka altar
lantas menari-nari di tepi risau

Berita Terkait :  Sajak-sajak Saifa Abidillah: Kuil Kecil

/
apa yang dicari kerap
tertukar dengan segala yang diingkari, katamu
di senja perpisahan itu

/
dan waktu adalah desing bisu
dari selongsong ingatan
yang tak menunggu

/
tak kudapati lagi bayangmu di katedral,
terminal, ruang digital, kafe bar, atau langgar
masa kanak dulu

/
mungkin perjalanan ini
hanya berujung vakum di glosarium

seperti duel yang tak dimenangkan siapa pun

2021

Menu Andalan

/
aku menyalin surat kabardalam oplah kepalake menu sarapan mahaldi pinggan hampa kita

/
kau meracik gerimis
di persembunyian mata
menjadi dendang manis
tepian bibir paling senja

/
lalu serempak
diam-diam

/
kita menanak puisi
kala malam sepertiga

2021

Perjanjian

pada hari ini telah terjadi kesepakatan
oleh kedua belah pihak yakni perjanjian
antara:

nama: kenangan
alamat: masa lalu
bertindak atas nama kehendak, selanjutnya disebut
sebagai pihak pertama

nama: harapan
alamat: masa depan
bertindak atas nama suratan, selanjutnya disebut
sebagai pihak kedua

Berita Terkait :  Ketika Aku Ingin Hanya Melihat Matamu

kedua belah pihak telah setuju meniadakan
waham dan dendam
sejak perjanjian apa pun di dunia ini
diciptakan

2021

Sehabis Joget Kampanye

/
di hari yang bukan ulang tahunku
bapak pulang membawa hadiah
gulali dan kaus berwarna pelangi
disertai kata-kata lucu

/
kalau dilatih dengan tekun, kata-kata itu
bersuara merdu, kata bapak memberi makan
kata-kata dengan remahan kota
lalu bergegas lagi mengadu untung

Berita Terkait :  Pertualangan Palsu dan Muslihat Cinta yang Dungu | Cerpen Beri Hanna

/
aku melatih kata-kata bernyanyi,
kata-kata melatihku
bersabar setengah mati

2021

Buku Larangan

/
membredel adalah candumelarang, dirgahayu
ketika mata malu-malumengintip sekujur tabu
tajuk ketelanjangan bahasa kalbu

/
untukmu gentarmuuntukku getarku

2021

Ketika Datang Bulan

/
di istana fiksi gadis pemamah kismisberubah jadi serigala

/
di kamar kumal
seekor lelaki serigala
menggubah lamunan nada

/
sebelumnya di sebuah hutan
yang disulap taman,
seorang gadis dan lelaki serigala
dipaksa nasib mengucap perpisahan

2021

Arsitektur Badai
: mendengar Architects

aku dan kau hanya renik kerontang
tepi makrokosmos skema repetisi. di antara
binatang suci dan jalang. di tanah
megalomaniak bermutasi. kau bilang ingin
terbang ke planet sunyi, menjelajah udara
hampa demagogi. tiadakah kau dengar
himne tumpas lebih dini. negasi candu fiksi
superkomputasi. kita berdua adalah
bayang-bayang luka di bukit badai
ketika prometheus menelan sendiri api
yang ia curi. elang-elang budak lebih kalap
dari funiks yang kehilangan sayap. dan kita
masih kerap tersentak bunyi alarm pabrik
dan tumpukan berkas-berkas dokumen
dan layar datar tiga puluh dua inci
dan angin yang mengempas tak lebih dalam
dari ketiadaan paling tiada dalam baris kode
biner segala nasib dan kutukan. irama ini
tetabuhan waktu; tirani diri saat kita berkaca.
laksana hitung mundur kemusnahan.
laksana rapuh kupu-kupu pada paru.
laksana badai yang kadang menderu,
sesekali senyap tipu-tipu di balik mata
surgawi yang membiru. lantak barikade
taifun esoterik, parasit dan serigala lapar.
kita adalah juara bertahan nestapa
yang selalu ingin menebus kemuliaan—
bahkan bila jantung dan hati ini bongkahan emas.

Berita Terkait :  Pertualangan Palsu dan Muslihat Cinta yang Dungu | Cerpen Beri Hanna
Berita Terkait :  Puisi Persembahan untuk Mbayong

2021


D. Hardi, menetap di Bandung. Karya-karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Padang Ekspres, Rakyat Sultra, Detik.com, Bacapetra.co, Magrib.id, Basabasi.co, Beritabaru.co, dll.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU