Tarekat Suara ala Mustafa al-Daood

-

“Musik dan tasawuf ibarat Al-Quran dan bacaan. Yang menghidupkan Al-Quran adalah suara bacaannya. Keduanya tidak bisa dilepaskan.”

Berita Baru, Tokoh – Jika boleh menjadikannya kutipan, begitulah kiranya pandangan Mustafa al-Daood, musisi grup musik religi Debu, ketika diskusi bersama Sarah Monica dalam sesi #Bercerita ke-48 Beritabaru.co pada Selasa (18/5) terkait mengapa jalan yang ia pilih adalah musik.

Sebenarnya, menjadi musisi religi bukanlah pilihan Mustafa. Ia bercerita, semua yang dijalaninya selama ini lebih karena tugas—untuk tidak bilang perintah—yang ia dapat dari ayahandanya Syekh Fattah, seorang guru Tarekat Syadziliyyah. Sang ayah, kata Mustafa, mengandaikannya untuk bermusik, sehingga ia pun belajar musik dan menekuninya hingga saat ini.

Dipilihnya musik sebagai suatu jalan sufi bukan tanpa alasan. Kenyataan bahwa praktik tarekat tidak bisa lepas dari musik—dalam pengertiannya yang khusus—merupakan alasan mengapa demikian.

“Masih saya pegang hingga sekarang, Syekh Fattah pernah bilang, ketika musikku ini didengar banyak orang dan mereka suka, maka di situlah sebenarnya saya sedang bertarekat,” ungkap kakak kandung dari Daood Abdullah al-Daud atau Daood Debu ini.

Terkait anggapan bahwa musik itu sesat—atau bidah, dalam bahasa umumnya—Mustafa merasa tidak terlalu penting untuk merespons. Sebab bagi Mustafa semua dari kita pada dasarnya berada dalam kesesataan, hanya saja jarang yang menyadarinya. Di waktu bersamaan, mereka yang suka menyesatkan tersebut tidak lain adalah yang belum sadar bahwa mereka jugalah sedang tersesat.

Mustafa menjangkarkan anggitannya ini pada surah al-Dluha (93):7, wa wajadaka dhallan fahada. Ayat ini, Mustafa memahaminya—kendati konteksnya adalah untuk Nabi Muhammad kala itu—sebagai betapa kita semua sesungguhnya sedang berada dalam kesesatan dan kelak Tuhan akan memberi kita petunjuk.

Berita Terkait :  Abdullah Sani, Sosok Nahdliyyin yang Berpengaruh di Jambi
Berita Terkait :  Sepak Terjang Prof. Yudian Wahyudi Yang Akan Dilantik Menjadi Kepala BPIP

Jika disebut sebagai tantangan pun, termasuk perihal beberapa genre musik yang sedang populer, Mustafa tidak melihatnya sebagai lawan yang harus didahului. Pasalnya, di mana pun jalan kita, hanya ada satu tantangan: diri sendiri.

Diri kita ini, tegas Mustafa, memiliki kecenderungan untuk sombong dan sekadar berbangga diri, menepuk dada sambil bilang, “inilah karyaku.” Padahal, ketika kita bilang begitu, di situlah kita sedang menegasikan adanya Tuhan dan otomatis merupakan suatu kesombongan. Walhasil, seperti itulah kiranya mengapa tantangan kita sebenaranya, sesuatu yang harus selalu kita olah, adalah diri sendiri.

“Untuk ini jugalah, saya tidak berani menyebut diriku ini sebagai pembelajar otodidak. Saya belajar musik memang sendiri, tapi bukan otodidak. Saya mengambil bagian ini dari syekh itu, mengambil ini dari syekh lainnya, dan begitu seterusnya, hingga saja bisa belajar berdasarkan potongan-potongan tersebut,” kata pria yang populer dengan nama Mustafa Debu ini.

Manusia dan filosofi alif lam mim

Lebih jauh, bicara soal “diri”, maka bicara tentang sesuatu yang tidak sederhana. Menurut Mustafa, “diri” kita ini—sebagai wadah—terdiri dari tiga hal penting, yakni hati, akal, dan nafsu. Hati merupakan entitas pertama yang dimiliki manusia, sehingga dialah rajanya. Akal dan nafsu berfungsi kemudian, yaitu untuk menimbang apa yang sudah muncul di hati.

Berita Terkait :  Inaya Wahid: Covid-19 adalah Mental Gaming

Hanya saja, banyak dari kita hari ini lebih suka meletakkan akal sebagai raja. Karakter akal adalah selalu mencari sumber, padahal tidak semua yang bersentuhan dengan kita bisa dilacak sumbernya. Akibatnya, ketika kita tidak mampu menemukan, kita bingung dengan sendirinya, pusing luar biasa.

Berita Terkait :  Inaya Wahid: Covid-19 adalah Mental Gaming

“Jadi biar hidup kita tenang, santai, ya letakkanlah hati di posisinya sebagai raja. Rasakanlah apa yang ada di hati baru kemudian konfirmasi melalui akal, termasuk nafsu juga sebagai penyeimbang,” jelasnya.

Dengan bahasa lain, akal berikut lidah dan bibir merupakan penerjemah dari apa yang muncul di hati. Mustafa mengibaratkan ini dengan surah al-Baqarah (2):1, alif lam mim. Secara makna, ayat ini mengundang banyak sekali perdebatan, sehingga Mustafa lebih memilih untuk masuk melalui suara.

Dari segi suara, alif bertempat di hati, lam di lidah, dan mim di bibir—jika tidak percaya coba kita praktikkan membacanya langsung—sehingga yang efektif adalah bagaimana segala sesuatu harus bermula dari hati dan diterjemahkan melalui lidah sekaligus bibir kemudian.

Rasa dan Tuhan

Di sisi lain, hati identik dengan rasa. Berdasarkan cerita Mustafa, rasa merupakan salah satu bahasa serapan dari Bahasa Sansekerta yang memiliki kedekatan makna dengan rahasia dan istilah yang terakhir ini tidak lain adalah representasi dari keintiman antara kita dan Tuhan.

Kenyataan bahwa setiap dari kita memiliki beberapa rahasia yang hanya kita dan Tuhan yang tahu—dalam arti tidak ada satu pun orang di sekitar yang tahu, termasuk pasangan hidup atau pun orang tua—merupakan alasan mengapa demikian. Istilah “hanya kita dan Tuhan yang tahu” menunjuk pada sebentuk kedekatan yang melebihi apa pun dalam pola “rahasia” yang selalu mengandaikan pihak kedua, yang jika direnungkan sebenarnya itu menandakan betapa bagian terdalam dari diri kita tidaklah bisa lepas dari Tuhan.

Berita Terkait :  Warsito Ubah Lahan Tidur Menjadi Perkebunan Jeruk Menjanjikan

“Apa yang kita rasakan atau yang muncul di hati kita adalah cara Tuhan untuk ikut campur pada urusan hambanya,” kata Mustafa, “akibatnya ketika bertemu dengan siapa pun dan hati kita merasa nyaman berada di sampingnya, maka di situlah kita sesungguhnya sedang bersama orang yang tepat.”

Berita Terkait :  Abdullah Sani, Sosok Nahdliyyin yang Berpengaruh di Jambi

Menghargai suara

Masih soal musik dan tasawuf, Mustafa juga menengarai yang tidak kalah penting dari bertarekat suara—bahasa Mustafa untuk menyebut “bermusik”—adalah menghargai setiap bunyi kata yang keluar dan ditangkap oleh telinga. Bunyi dari setiap kata memiliki nilai magis yang melampui makna dan berpotensi membebaskan siapa saja yang mendengarkan dengan penuh rasa.

Namun, keluh Mustafa, hari ini jarang sekali dari kita yang memiliki waktu untuk melakukannya. Alih-alih demikian, yang sadar tentangnya saja barangkali sangatlah terbatas.

“Dan ini pun kita tidak bisa menyalahkan. Sebab kenapa banyak dari kita begitu adalah karena sekarang ini terlalu banyak informasi dan suara yang masuk ke telinga kita, sehingga tidak ada cukup energi untuk melakukan hal-hal yang justru lebih mendasar,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU