Berita

 Network

 Partner

Ahmad Erani Yustika

Api Kemerdekaan di Benak Ahmad Erani Yustika

Berita Baru, Tokoh – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia adalah sebentuk alarm atau pengingat bahwa kita sebagai warga negara Indonesia tidak boleh putus asa, dalam keadaan apa pun itu.

Begitulah kiranya yang diungkapkan secara tegas oleh Ahmad Erani Yustika ketika bicara soal esensi perayaan HUT Republik Indonesia ke-76 dalam sesi Bercerita ke-60 Beritabaru.co, Selasa (17/8).

Indonesia, kata Erani, didirikan di atas keterbatasan. Dengan segala keterbatasan Para Pendiri Bangsa membangun Indonesia. Mereka bisa sebab memiliki kesadaran yang kuat untuk terus berjuang dan memimpikan hal-hal agung seperti kemajuan, keadilan, dan kemakmuran.

“Kesadaran tersebut penting untuk selalu kita pelihara, yakni dalam bentuk relasi yang baik antara kita dan negara. Relasi kita dan Indonesia layaknya kita dan pacar. Ketika Indonesia sudah merdeka, sesekali pasti ia mengecewakan kita dan ketika ini terjadi, kita tidak bisa begitu saja mengabaikannya,” ungkap sosok yang menjabat sebagai Deputi Pembangunan Ekonomi Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) ini.

Berita Terkait :  Hutan Terancam, Ini Strategi Kabid Perlindungan Hutan DKLH Provinsi Papua Aries Toteles

“Kenapa? Sebab jika dilihat secara utuh di situ ada banyak hal yang sebenarnya akan lebih masuk akal jika kita mempertahankannya. Sederhananya, layaknya relasi kita dengan pacar, tidak semua hal akan bergerak seperti yang kita inginkan,” tambahnya dalam acara yang dipandu oleh Sarah Monica ini.

Pemahaman secara utuh di sini berkelindan dengan pentingnya seseorang untuk membedakan antara tren dan siklus yang terjadi di Indonesia. Tren merujuk pada potret jangka panjang perjalanan Indonesia sebagai negara yang dilihat dari sini, Indonesia pasti mengalami perbaikan.

Adapun siklus lebih pada peristiwa yang terjadi secara berulang baik dalam hitungan per-satu abad atau per-setengah abad. Pandemi COVID-19 adalah siklus yang sebab ini dari sudut pandang siklus, perjalanan Indonesia bisa naik-turun, fluktuatif.

Berita Terkait :  Kaya Manfaat, Atia Serius Geluti Bisnis Susu Kurma

“Dari sini, kita fokusnya jangan ke siklus, tapi ke trennya supaya kita selalu bisa optimis dan tidak putus asa ketika menghadapi siklus seperti pandemi. Dan persis di sini, saya kira menjadi tidak putus asa adalah sebentuk sikap merdeka. Merdeka adalah sikap untuk melawan keputusasaan!” tegas Erani.

Jose Mujica dan api perlawanan

Dalam acara yang diselenggarakan tepat ketika HUT ke-76 Indonesia ini, Erani membahas tentang cerita perjuangan Jose Mujica, mantan Presiden Uruguay. Bagi Erani, Jose Mujica adalah sosok yang layak dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kegigihan melawan putus asa.

Dikisahkan, sebelum menjadi presiden, Jose dan satu temannya sempat dipenjara dan disiksa oleh rezim sebelum dia. Dalam penjara, ia nyaris menyerah dan bahkan merencanakan bunuh diri.

Berita Terkait :  Mutmainah Korona, Mendorong Kebijakan Anggaran Responsif Gender dari Dalam Parlemen

Namun, beberapa saat sebelum melaksanakan niatnya tersebut, ia dijenguk ibunya dan sang ibu dengan tanpa gamang bilang padanya, “Hanya orang kalah yang berhenti melawan, Jose!”

Mendengar itu, alih-alih bunuh diri, Jose spontan teringat kembali impiannya dan memutuskan untuk terus melawan demagog yang memimpin negerinya. Akhir kisah, Jose berhasil dan lantas menjadi Presiden Uruguay sekaligus Presiden paling miskin di dunia.  

Erani menangkap adanya api yang patut direplikasi dalam diri Jose, yakni api perlawanan. Jika konteks Jose, kata Erani, api itu diperuntukkan pada demagog yang menjajah, maka untuk konteks Indonesia, api perlawanan tersebut bisa digunakan untuk menumpas kebodohan, ketimpangan, dan semacamnya.

“Seperti itulah api yang perlu kita jaga,” ujar Erani.