Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sarung Syuriyah, Celana Tanfidziyah
sumber: istimewa

Sarung Syuriyah, Celana Tanfidziyah

Fathul H. Panatapraja


Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34 yang dihelat di Lampung beberapa hari lalu merupakan Muktamar yang temponya sangat cepat. Meskipun berisik di awal namun asyik di akhir. Dan yang melegakan adalah bahwa muktamar kali ini tidak menyisakan residu perpecahan seperti yang pernah terjadi pada muktamar sebelumnya di Jombang, Muktamar ke-33 yang penuh ketegangan dan menyisakan permenungan.

Mengibaratkan NU

Jika Nahdlatul Ulama diibaratkan seperti sebuah pesantren, maka Rais Aam adalah pengasuh pesantrennya, sedangkan Ketua Umum adalah lurahnya. Pengasuh memimpin dan menanggung jawabi pesantren secara keseluruhan dengan tata pengelolaannya. Sedangkan lurah melaksanakan hal-ihwal yang termaktub dalam mandat yang diembannya guna menjadi tangan dan kaki sakti dari seorang kiai.

Banyak orang yang masih mengira, bahwa posisi puncak di Nahdlatul Ulama adalah Ketua Umum, padahal bukan, melainkan Rais Aam. Maka tak heran jika dulu Gus Dur sempat mengusulkan bahwa penulisan-penyebutan Ketua Umum Tanfidziyah diganti-kurangi dengan cukup menyebut Ketua Tanfidziyah saja, tanpa diembel-embeli dengan ‘Umum’.

Mungkin usulan Gus Dur adalah salah satu upaya melakukan semacam supremasi syuriyah di tubuh Nahdlatul Ulama. Karena orang sering lupa dengan tingginya posisi ini, sehingga maqam tersebut hanya dipandang sebagai “kumpulan kiai yang kegiatannya hanya rapat”.

Membaca Pesan Pertama Gus Yahya

Selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir KH. Yahya Cholil Staquf duduk di kepengurusan PBNU dalam jajaran Syuriyah. Baik sebagai Katib Syuriyah (2010-2015), maupun Katib Aam (sekretaris umum) mendampingi KH. Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam (ketua umum, dalam arti normalnya) dan KH. Miftachul Akhyar selaku pejabat pengganti Rais Aam. 

Jika kita mencermati, kita akan melihat perubahan kecil yang terjadi pada tampilan Gus Yahya. Jika sebelum muktamar ia memakai sarung sebagai identitas kesyuriyahannya, maka saat tampil pertama kali menyampaikan pidato penutupan muktamar sebagai ketua umum terpilih, ia sudah mengganti sarungnya dengan celana. Gus Yahya telah mengirim sebuah pesan kepada khalayak ramai Nahdlatul Ulama.

Meminjam kaca semiotika Rolan Barthes mengenai tanda dan pesan yang disampaikan seseorang, maka kita akan paham, bahwa Gus Yahya sebenarnya sedang berbicara, ia sedang mengirim pesan. Secara signifikasi Barthesian dapat dilihat dari tindakan yang dipilih oleh Gus Yahya. Bukan tanpa alasan, sarung dilepas dan diganti dengan celana. Tindakan ini mengikat dua arah komunikasi, dari pemberi pesan dan penerimanya sekaligus. Tindakan ini menghasilkan sebuah tanda, yang semestinya bisa dibaca.

Pesan yang diupayakan oleh Gus Yahya telah meninggalkan jejak makna dari konteks sebelumnya. Di mana kini ia tak lagi berdiri sebagai representasi kelembagaan syuriyah, melainkan sebagai seorang Ketua Umum Tanfidziyah yang merupakan pelaksana amanah dan sebagai kaki penggerak pesan-pesan kiai. Dalam pidato perdananya sebagai ketua umum, ia telah melakukan berbagai kombinasi pesan, baik verbal maupun non verbal. Pesan-pesan itu mensyaratkan sebuah semangat “cancut tali wondo”.

Sekira lima belas tahun yang lalu, saya pernah menjumpai sebuah peristiwa semiotika melalui bahasa ekologi dari seorang kiai. Suatu hari di pesantren di mana kami belajar, beberapa santri membersihkan halaman sekitar kompleks kamar. Setelah bersih, halaman yang berhadap-hadapan dengan dapur umum tersebut dialih fungsikan sebagai wahana olahraga. Sejak hari itu, tiap sore ada ‘peristiwa kebudayaan’ sepak bola di dekat kompleks kamar kami. Hari-haripun kami lalu biasa saja, dengan riang gembira. Tanpa ada pengumuman pelarangan.

Beberapa waktu kemudian, mungkin kiai kami menilai akan ada banyak kemudharatan yang akan terjadi jika terus-terusan dibiarkan. Maka pagi-pagi sekali kiai kami meninjau halaman kompleks belakang tersebut, sambil melihat-lihat kontur tanah. Kami mengintip dari kejauhan, terlihat kiai kami merogoh saku baju, mengeluarkan bibit kecil pohon klengkeng. Ditanamlah pohon kecil yang setinggi kopiah tersebut di tengah-tengah halaman. Semenjak hari itu, sepak bola di halaman tersebut tidak lagi dijumpai.

Nahdlah Tsaniyah: Beyond Mikrofon

Menghidupkan Gus Dur, adalah password pembuka yang dipakai oleh Gus Yahya untuk membawa gerbong Nahdlatul Ulama melanjutkan separuh “kurva s” yang sedang berjalan. Kurva harapan yang terus diikhtiyarkan. Untuk melanjutkan khidmat perjuangan Nahdlatul Ulama di abad kedua dan berperan aktif dalam urusan pembangunan peradaban dunia.

Ke depan, kader-kader, aktivis, para penggerak Nahdlatul Ulama di basis, tak sekadar sebagai dai dan penceramah keagamaan. Melainkan sudah melakukan perjuangan-perjuangan dan khidmat keumatan di wilayah-wilayah yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu tak pernah terbayangkan. Dengan bonus demografi yang terjadi, Nahdlatul Ulama akan memasuki era surplus sumber daya pemuda. 

Mengutip apa yang beberapa hari lalu disampaikan oleh Prof. M. Nuh selaku Ketua Steering Comittte Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama. Bahwa ke depan, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan besar yakni bagaimana mengkonversi intangible aset menjadi tangible aset, riil aset menjadi riil power. Maka tak ada lagi pertanyaan apa sumbangsih Nahdlatul Ulama terhadap bangsa, karena pertanyaan tersebut sudah terjawab di masa-masa seratus tahun pertama. Tetapi, di seratus tahun kedua pertanyaan yang harus muncul adalah apa yang bisa dikerjakan dengan kecakapan-kecakapan yang melimpah dan potensi-potensi yang dimiliki.


Sarung Syuriyah, Celana Tanfidziyah

Penulis adalah Warga Nahdlatul Ulama ‘kelas harian lepas’