Pandemi dalam Karya Kolase Nasirun

Karya Nasirun
Tampak atas karya “Membaca Perlambang” (14x2 m; Collage on Canvas; 2020) Photo by Yosephine

Di permulaan tahun 2020, saat berita dunia menyiarkan peristiwa wabah virus corona yang pertama kali muncul dan mengguncang Kota Wuhan, Cina, kita begitu terpesona sekaligus lega karena menganggap bahwa itu hanyalah kisah di sebuah Negeri nun jauh di sana. Namun demikian, harus diakui bahwa kecemasan menyelinap diam-diam, membayangkan akan semakin meluasnya persebaran wabah tersebut dari waktu ke waktu. Dua bulan kemudian, setelah politisi kita menelan tawanya sendiri karena berguyon tentang kebalnya orang Indonesia dari virus corona atau yang dikenal dengan nama lain Covid-19, Indonesia pun mulai menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di pertengahan Maret. Lantaran sudah berjatuhannya korban-korban positif Covid-19. Mal dan pertokoan ditutup, sekolah dan perkantoran dirumahkan, mobilitas orang dan kendaraan dibatasi. Segala aktivitas yang mengundang kerumunan dilarang. Seluruh warga diminta berdiam diri di dalam rumah demi menghindari kejamnya penularan virus yang menyerang area pernafasan ini.

Bulan demi bulan berlalu. Kini, saat pemerintah telah mencabut peraturan PSBB dan mulai memberlakukan kebijakan transisi menuju Kenormalan Baru (New Normal), jumlah kasus corona di seluruh dunia sudah mencapai belasan juta dimana ratusan ribu di antaranya meninggal dunia. Ini merupakan fenomena pandemi terburuk sejak wabah flu Spanyol melanda dunia di abad lalu. Covid-19 memang dinyatakan sebagai bencana non-alam, akan tetapi dampak hantamannya berpengaruh pada tatanan alam. Pabrik-pabrik yang dihentikan dan laju transportasi yang dilumpuhkan, memberi kesempatan bagi alam untuk menjernihkan dirinya. Begitu pula manusia-manusia yang dikarantina dalam kediamannya masing-masing, diberikan momentum untuk memurnikan dirinya. Dengan apa? Tentunya dengan perenungan.

Dalam tulisan ini, saya akan mengurai bagaimana salah seorang seniman selama masa pandemi melakukan perenungannya melalui sebuah karya seni. Nasirun, perupa yang tinggal di Yogyakarta ini berbagi cerita bagaimana ia menaati kebijakan pemerintah untuk bertahan di rumah, tapi tanpa sedikitpun menahan imajinasinya dalam proses berkarya.

Kreasi Imajinasi dalam Isolasi

Nasirun

Dalam jiwa seorang seniman, ide dan gairah berkesenian merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung. Tubuh fisik dapat dibelenggu, namun ledakan imajinasi akan selalu mencari cara untuk dimanifestasikan. Itulah yang terjadi pada Nasirun. Beliau dengan kesadaran penuh menerima kenyataan alam yang tengah pandemi dan berupaya mematuhi aturan untuk melakukan karantina mandiri di rumah. Akan tetapi, beliau juga bertekad untuk merespons fenomena global ini ke dalam karyanya.

Sejak awal penerapan lockdown, Nasirun mengikuti perkembangan kasus corona di seluruh dunia melalui berita-berita di televisi. Sehari-hari jika tidak sedang menyapu rumah ataupun menyiram tanaman, beliau memiliki kebiasaan lain yakni membuat sketsa. Jadi saat menonton berita pun, kertas dan spidol sudah siap di tangan. Beliau menggambar peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dunia terkait isu corona, lalu membuat beberapa catatan kecil. Catatan berita ini akan diberikan kepada sekretarisnya, Yosephine, untuk ditelusuri lebih jauh melalui media internet. Hasilnya adalah berlembar-lembar gambar berita yang dicetak dan diserahkan kembali ke Nasirun. Cetakan berita dari internet tersebut digabungkan dengan potongan berita lainnya dari koran-koran yang telah dibaca oleh Nasirun, seluruhnya ditempelkan di atas kanvas seluas 14 meter x 2 meter. Perlahan tapi pasti, dari hari ke hari, Nasirun berproses melakukan kerja ini. Membuat kolase berita tentang Covid-19 di seluruh dunia, kemudian meresponsnya dengan guratan gambarnya.

Memberi respons dengan menggambar di atas media karya lainnya merupakan salah satu teknik kerja melukis yang disenangi oleh Nasirun. Dia pernah merespon ribuan kartu undangan pameran yang kemudian dipamerkan di Galeri Salihara pada tahun 2012. Di tahun selanjutnya, ia pun sempat membuat heboh khalayak seni dengan dobrakan karyanya yang merespons lukisan kolaboratif 50 seniman dalam pameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Selain itu, di tahun lalu 2019 Nasirun juga pernah melakukan respons atas lukisan-lukisan Sokaraja: lukisan pemandangan yang dibuat massal, anonim, dan biasanya dipajang di ruang tamu rumah-rumah pedesaan. Karya tersebut dipamerkan di Biennale Jogja XV Equator dengan judul “Merespons yang Terpinggirkan”. ‘Merespons’ di sini merupakan cara Nasirun membaca dan menafsirkan entah itu manusia, fenomena, atau gagasan karya. Karena menurut Nasirun, idealnya seorang kreator itu harus mampu melakukan penafsiran atas berbagai perlambang, demi menjembatani ide-idenya sendiri. Begitulah ia dalam mencipta karya kolase pandemi.

Nasirun mengakui bahwa ide kolase ini terinspirasi dari pelukis Nashar (1928-1994). Nashar telah melakukan teknik ini di tahun 80-an. Dia mengasingkan diri, seolah-olah juga sedang diisolasi saat membuat karya kolase tersebut. Sehingga Nasirun mengagumi bahwa jauh sebelum pandemi ini muncul, seorang Nashar sudah berproses seperti itu. Besarnya karya kolase Nasirun yang berukuran 14 m x 2 m bukanlah tanpa sebab. Kedahsyatan fenomena global corona ini berhasil mengguncang kemapanan sebuah negara dengan segala aspek ekonomi-politik-sosialnya, pun dengan telak menjungkirbalikan kehidupan banyak manusia. Sisi ruhaniah kita mau tidak mau juga terpukul. Membutuhkan mekanisme adaptasi diri melalui perenungan-perenungan atas fase hidup yang tengah dialami. Tanpa momen perenungan tersebut, Nasirun mengatakan, mustahil ia sanggup menaklukkan kanvas sebesar itu.

Membaca Perlambang” (14×2 m; Collage on Canvas; 2020)
Photo by Yosephine

Membaca Perlambang

Terlahir dari ayah seorang mursyid thoriqoh Naqsyabandiyah dan ibu penganut tradisi Sunda Wiwitan, Nasirun mewarisi keistimewaan dari keduanya. Cara pandangnya selalu menempatkan diri sebagai bagian dari alam, sekaligus mempunyai sandaran kuat ke Ilahiah. Tanpa sadar, praktik hidup dan berkeseniannya pun diwarnai esensi dua hal itu. Tema-tema yang dihadirkan dalam karya, maupun cara ia membangun taman swargaloka di dalam rumahnya merupakan sebagian contoh aktualisasi dari esensi tersebut. Sebagai seorang perupa, melukis sebagai medium ia untuk membaca dan berkomunikasi dengan semesta. Dalam pandemi wabah corona ini Nasirun pun melakukan pembacaan atas perlambang (isyarah) yang dihadirkan oleh alam melalui karya kolase 14 m x 2 m. Sesuai visinya, karya tersebut diberi judul yang sama “Membaca Perlambang”. Sebagaimana ia tekadkan bahwa gairah berkeseniannya tidak akan bisa dibendung meski dalam kondisi isolasi, karya tersebut telah selesai tidak lama pasca Idul Fitri lalu. Rampung dengan ratusan berita corona dan isu dunia lainnya yang direspons gambar olehnya. Namun ia menekankan bahwa selama pandemi ini belum berakhir, karya kolase semacam itu akan terus berlanjut.

Karya kolase di atas kanvas milik Nasirun disimpan dengan cara digulung, mengingat panjangnya karya yang tidak mungkin dibuka dalam keterbatasan ruang. Selepas sekian bulan berproses, ia mengakui sudah begitu rindu untuk menyaksikan seluruh karya tersebut dalam ukuran utuh. Nasirun bercita-cita apabila situasi sudah membaik dan tanggal 17 Agustus esok Bentara Budaya Yogyakarta bersedia, ia ingin memamerkan karyanya di sana. Dipajang sepanjang 14 meter, lalu patung-patung manekin karyanya akan ditempatkan di depan karya kolase tersebut sebagai penonton. Patung manekin yang dipakaikan masker, simbol publik pameran di masa wabah Covid-19. Selain itu, akan diperdengarkan juga salah satunya puisi corona milik Joko Pinurbo sebagai bagian dari atraksi pameran tersebut. Ini semua adalah harapan dan gagasan pameran karya “Membaca Perlambang” Nasirun.

Dunia seni rupa sejak merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia telah melumpuhkan berbagai sektor yang selama ini menopang hidup para seniman, pemilik galeri dan balai lelang, maupun kolektor. Dalam artian, tahun ini seluruh rencana pameran dan aktivitas seni dengan terpaksa ditunda hingga waktu yang belum ditentukan karena aturan protokol kesehatan. Beberapa galeri terpaksa gulung tikar, sedangkan sebagian lainnya mengubah strategi bisnis ke media online. Terlepas dari suramnya situasi tersebut, seniman sebagai kreator tentunya perlu tetap mengambil bagian dalam lintasan sejarah ini dengan penciptaan karya-karyanya. Semacam memberi kontribusi dalam masa pandemi, atau dalam bahasa Nasirun “mencoret sesuatu dalam momentum” yang merupakan peran dari kesenian. Kesempatan seperti ini langka, harus direngkuh agar tidak berlalu dengan sia-sia.

Ruang Refleksi dalam Pandemi

Sungguh wajah dunia begitu berubah sejak pergulatannya dengan wabah corona. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan situasi macam ini. Seakan-akan kita sedang memainkan sebuah skenario film science-fiction. Siapakah yang begitu Kuasa merancang alur skenario hidup macam ini? Lengkap dengan ketegangan dan keputusasaan sebagai latar suasana atas pandemi. “Ketika alam yang menjadi kurator? Lalu kita mau apa?”, seloroh Nasirun. Momentum ini sesungguhnya membuka ruang kedalaman batin untuk menyerap pengalaman estetis melalui refleksi. Terutama bagi para seniman. Cassirer mengungkapkan bahwa ‘pengalaman estetis’ sarat dengan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas yang tidak ditangkap oleh pengalaman inderawi sehari-hari. Dalam karya seni, kemungkinan-kemungkinan itu dijadikan aktual, diangkat ke permukaan dan diberi bentuk tertentu.

Dalam diri setiap manusia terdapat relung kesunyian yang memungkinkannya untuk terus-menerus memaknai pengalaman hidup. Bagi seorang Nasirun, pengalaman hidup ini lah yang terpenting untuk dipelajari dari sosok manusia. Terlepas dari penghormatan terhadap karya seni yang dilahirkan, cara Nasirun berguru pada seniman-seniman senior, salah satunya Fadjar Sidik, ialah dengan menggali berbagai pengalaman hidup sang guru. Dengan begitu, ia belajar memahami cara pandang, prinsip, serta praktik hidup seorang Fadjar Sidik. Sebab dalam proses berkarya, apapun wujudnya, nilai karakter si kreator lah yang akan menentukan kualitas seninya. Ada sisi kedalaman yang mampu menyentuh hati para penikmat seni, mampu menggerakkan emosinya. Meskipun makna karya tersebut belum bisa dipahami oleh akalnya. Sebagaimana mengutip Pascal, “Sensibile au coeur”, “rasa tersentuh” adalah bukti bahwa hati manusia mengetahui yang belum diketahui oleh akalnya.

Setiap dari kita sedang meraba-raba demi melanjutkan hidup seperti apa dalam kondisi pandemi sekarang. Ketika segala rencana tertunda, dan harapan-harapan terpuruk, diperlukan sebuah strategi bertahan hidup yang dapat menyulut lagi semangat hidup kita. Bukan hanya sebatas pada pemulihan materialitas (ekonomi) semata, melainkan pada kebangkitan spiritualitas yang barangkali lumpuh oleh kejenuhan dan kegelisahan atas ketidakpastian hidup. Nasirun, dalam hal ini berhasil menemukan strateginya sendiri dengan mencipta karya kolase tentang pandemi. Menurutnya, dengan begitu imunitas dapat tetap terjaga, baik lahir maupun batin. Bagaimana dengan kita?

* * *

Referensi:

Cassirer, Ernst. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia. 1990: Gramedia, Jakarta.
Monica, Sarah. Tradisi dalam Dimensi Waktu: Analisis Perupa Nasirun dan Karyanya dalam Dinamika Seni Rupa Indonesia, Jurnal Skripsi. 2013: Antropologi FISIP UI.
Snijders, Adelbert. Antropologi Filsafat Manusia: Paradoks dan Seruan. 2004: Kanisius, Yogyakarta.
Monica, Sarah. Hilangnya Seni Membeli Karya Seni. https://beritabaru.co/hilangnya-seni-membeli-karya-seni/. 26 Juni 2020.
Monica, Sarah. Transkrip wawancara Nasirun via telepon. 1 Juli 2020, pukul 18.59 WIB.
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan