Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Haji

Gus Hans dan Potret Haji Pascapandemi

Berita Baru, Tokoh – Karena menyasar aspek terpenting dari peradaban—interaksi antarmanusia—Pandemi berhasil menggeser tatanan apa pun yang sebelumnya ada. Tidak luput darinya adalah ritual haji.

Seperti disampaikan oleh Zahrul Azhar Hans, langsung dari Arab Saudi, dalam gelar wicara Bercerita ke-101 Beritabaru.co, boleh dikatakan jemaat haji tahun 2022 adalah yang paling beruntung.

Sebab, ungkapnya, mereka mendapatkan berbagai layanan istimewa yang tidak didapat jemaat haji sebelumnya.

“Dan perlu dicatat, adanya perubahan dalam pelayanan dan sebagainya ini merupakan efek dari Pandemi, untuk menyesuaikan,” ungkap Gus Hans, sapaan akrabnya, Selasa (5/7).

Gus Hans membagi perubahan dalam haji 2022 menjadi dua (2): perubahan di bidang mobilitas dan pelayanan.

Pertama berhubungan dengan kebijakan pengurangan jemaat haji. Jika sebelumnya kuota umum mencapai sekitar 2 juta, maka tahun 2022 terbatas pada sekitar 1 juta.

“Indonesia tahun ini yang berangkat hanya 100.051 jemaat. Ini jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya yang mencapai sekitar 200.000,” katanya.

Ini berdampak pada lahirnya beberapa kenyamanan, mulai tidak adanya antrean yang padat, tempat tidur yang luas, hingga tidak perlu berdesak-desakan ketika tawaf.  

Selain itu, dari Arab Saudi pun, ada kebijakan bahwa wilayah tawaf dikhususkan hanya untuk jemaat haji. Di luar itu tidak boleh, tegas Gus Hans.

“Ya jadi, enak ya, tawaf kita kali ini bisa lebih santai dan khusyuk, tidak perlu terlibat dorong-dorongan, apalagi kita tahu, postur tubuh orang Indonesia itu kan relative lebih kecil di banding bangsa lain,” jelasnya.

Kedua berkelindan dengan adanya pergantian pengelolaan haji. Sebelumnya, haji dikelola oleh muasasah yang orientasinya non-profit dan sekarang oleh semacam syarikah yang berorientasi sebaliknya.

Ketika haji dikelola muasasah, Gus Hans melanjutkan, jemaat tidak akan mendapatkan sambutan apa pun kecuali wajah yang muram dan kecut. Itu pun, seluruhnya adalah laki-laki.

Namun, ketika itu sudah dikelola secara professional oleh syarikat, sejak turun dari bandara, senyum hangat menyapa. Pihak yang menyambut pun kali ini beragam, ada laki-laki, perempuan, ada yang bercadar, dan ada yang sekadar berkerudung.

“Pokoknya, bagi yang sebelumnya pernah umrah atau haji dan tahun ini berangkat lagi, pasti dia akan merasakan perubahan yang luar biasa,” ungkap Gus Hans.

“Pengalaman hajinya beda! Tapi, lagi-lagi, ono rego, ono rupo. Semuanya lebih mahal,” imbuhnya.

Untuk tempat tinggal selama 40 hari, fasilitasnya pun beda. Jemaat minimal akan tinggal di hotel bintang 3.

Untuk tempat mencuci dan menjemur pun, panitia sudah menyediakan khusus di masing-masing hotel, sehingga jemaat tidak perlu bingung soal kehidupan sehari-hari.

Tidak ada lagi rebutan cium hajar aswad

Meski demikian, segenap perubahan yang menyenangkan itu hadir bukan tanpa risiko. Jemaat haji 2022 tidak diperkenankan untuk mencium hajar aswad.

Pasalnya, sejak pandemi, sekeliling Ka’bah sudah dipasang semacam barikade untuk menghindari jemaat berkerumun di sekitar Ka’bah.

“Tapi di sisi lain, ini ada bagusnya sih. Sebab dengan adanya aturan ini, keabsahan tawaf jemaat lebih bisa dipastikan,” kata salah satu anggota Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ini.

Beberapa kendala haji 2022

Dalam diskusi yang ditemani oleh Aulina Umaza ini, Guz Hans juga bercerita tentang kendala-kendala haji 2022.

Ia menyebut, kendala pertama berkenaan dengan adanya beberapa jemaat yang terdeteksi positif COVID-19.

Namun, kata Gus Hans, setelah mereka diisolasi di ruang karantina khusus selama tiga hari dan dites lagi rupanya sudah negatif, mereka diberangkatkan langsung lewat kloter lainnya.

“Jadi, untuk kendala ini sudah bisa diatasi dengan baik. Kami memilih untuk karantina dulu di Surabaya, supaya nanti tidak malah ditolak di sana ya,” jelasnya.

Kendala selanjutnya merujuk pada adanya kesalahpahaman antara jemaat dan beberapa penjual kartu untuk ponsel di Bandara Jeddah.

Gus Hans menjelaskan, ini terjadi pada kloter-kloter awal. Ketika jemaat baru turun dari pesawat, mereka langsung didekati oleh para penjual kartu sembari meminta paspor.

Jemaat mengira, mereka adalah petugas bandara, tapi belakangan diketahui, mereka adalah penjual kartu yang sedang menawarkan dengan cara yang unik—dan berbahasa Arab—pada jemaat untuk membeli kartu.

Adanya persinggungan antara jemaat dan penjual tersebut menyebabkan proses perjalanan menuju hotel terhambat. Meski demikian, di kloter selanjutnya, ini tidak terjadi.

Kendala terakhir lebih pada persoalan teknis, yakni tentang tempat menjemur pakaian alternatif.

Sebagian jemaat masih bingung soal tempat menjemur pakaian di hotel, apalagi bintang 4. Panitia sudah menginformasikan tentu, tapi karena jarak tempat jemurnya terlalu jauh, maka mereka memutuskan untuk menjemur pakaiannya di tangga darurat.

Sebagian lainnya, bahkan ada yang menjadikan alat pemadam kebakaran di hotel sebagai cantolan untuk menjemur handuk.

“Lucu kadang, mendapati hal-hal seperti ini. Sebenarnya, tempat jemur pakaian sudah kami sediakan di aula di lantai tertentu dalam satu hotel. Tapi, karena jauh dari kamarnya mungkin, maka mereka lebih memilih tangga darurat,” kata Gus Hans terkekeh.

Dari kendala yang terakhir, Gus Hans menghimbau pada segenap Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) untuk memperhatikan bentuk manasik di luar manasik syariah, yakni manasik teknis dan budaya.

Loh, ini juga penting, soalnya kita nanti akan tinggal selama 40 hari di negara orang dan dengan fasilita yang jauh berbeda dari yang ada di rumah,” katanya.

“Ya seperti manasik mencuci dan menjemur pakaian di hotel bintang 4. Agar, jemaat itu tidak kebingungan untuk hal-hal teknis,” imbuhnya.