Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Hoaks

Imron Amin, Hoaks, dan Belajar Dewasa dalam Bermedia Sosial

Berita Baru, Tokoh – Penanganan hoaks masih menjadi tantangan bersama untuk menjaga pertahanan dan kerukunan di Indonesia. Kinerja pemerintah dalam menanggulangi hoaks hanya akan menjadi buih ketika tidak ada respons yang seimbang dari masyarakat dan berbagai pihak yang bersangkutan.

Menurut Imron Amin anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Gerindra dalam gelar wicara Bercerita ke-80 Beritabaru.co pada Selasa (18/1), kunci penanganan hoaks adalah diri masing-masing.

“Aktor utamanya ya kita ini,” tegasnya dalam diskusi yang ditemani oleh Novita Kristiani, host Beritabaru.co.

Untuk itu, lanjut Amin, siapa pun penting untuk belajar melakukan tiga hal (3) dalam bermedia sosial, yakni cerdas, dewasa, dan mau menerima kritik.

Pertama merujuk pada bagaimana seseorang penting mencari tahu kebenaran suatu berita yang ia dapat dari media sosial. Jika perlu, ia harus bertanya pada ahlinya.

“Jadi tidak langsung dilahap dan disebar begitu saja. Harus ada langkah-langkah cerdas,” paparnya.

Amin menjelaskan cerdas di sini sebagai adanya komunikasi atau tabayun. Apa pun yang ia terima dari media sosial harus dikomunikasikan dengan pihak lain. Tujuannya satu: klarifikasi kebenaran.

Kedua berhubungan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ( UU ITE), yakni bagaimana pengguna media sosial bisa berpikir terlebih dulu—seperti, apakah ini akan melukai hati orang lain dan melanggar UU atau semacamnya—sebelum berkoar di media sosial.

Berdasarkan pengalaman Amin, tidak sedikit masyarakat masih gagal bersikap dewasa di media sosial. Ini terbukti dari mudahnya mereka digiring oleh suatu isu yang belum jelas, melampui batas dalam berekspresi di media sosial, dan terlalu mudah merendahkan orang lain yang tidak dikenal.

“Contohnya banyak ya. Salah satunya soal vaksin di Madura. Gara-gara banyak yang termakan hoaks, proses vaksinasi terhambat,” ungkap Amin.

Adapun ketiga lebih pada belajar untuk bijak di media sosial. Satu hal yang perlu ditanamkan dalam memanfaatkan teknologi adalah bahwa pengguna media sosial sangatlah beragam, dengan karakter dan latar belakang yang berbeda-beda.

Akibatnya, ketika seseorang gagal mengelola emosinya dalam arti tidak mau menerima kritik, maka yang akan terjadi adalah perselisihan.

Di waktu bersamaan, perselisihan seperti inilah yang salah satunya bisa memicu lahirnya hoaks.

Ragam pemicu hoaks

Dalam diskusi yang ditayangkan secara langsung via Instagram Beritabaruco ini, Amin juga memaparkan bahwa setidaknya ada lima (5) motif di balik produksi hoaks.

Mereka mencakup provokasi, propaganda, kepentingan bisnis, mencari eksistensi, dan sekadar mengikuti tren.

Amin berpandangan, beberapa kecenderungan ini bisa muncul sebab sebagian masyarakat tidak benar-benar mau memahami UU ITE, sehingga mereka tidak mengerti bahwa apa yang dilakukan telah melanggar undang-undang.

“Dan biasanya, mereka yang termasuk golongan tersebut tidak mengikuti perkembangan soal UU ITE. Jadi, ketika mereka dijerat oleh UU tersebut, mereka berdalih,” katanya.

Di atas semuanya, lanjut Amin, mengetahui bahwa masyarakat Indonesia tergolong sebagai yang memiliki keingintahuan tinggi—tapi tidak suka melakukan klarifikasi—maka yang terpenting untuk selalu diperhatikan dalam bermedia sosial adalah bersikap cerdas, bijaksana, dan tidak merasa paling benar.

“Ini penting ditanamkan, sebab taruhannya adalah pertahanan bangsa,” ujarnya.

“Sebagus apa pun sistem yang pemerintah bangun untuk mengatasi hoaks, tapi masyarakat tidak mau bersikap dewasa dalam bermedia sosial, maka hasilnya sama saja. Meski demikian, ini adalah tantangan bagi pemerintah,” imbuhnya.