Sepak Terjang Jack Ma Bantu Tanggulangi COVID-19 Di Dunia

Jack Ma
(Foto: Twitter @foundation_ma).

Berita Baru, Tokoh – Pendiri Alibaba Group Jack Ma menunjukkan kepedulian yang cukup besar terhadap wabah corona virus diseases 2019 (COVID-19) yang melanda 159 negara di dunia. Melalui Jack Ma Foundation yang ia dirikan sejak tahun 2014, triliuner muda berkebangsaan Cina tersebut terjun langsung dalam pemberian bantuan sejak awal Maret 2020.

Akun media sosial twitter milik Jack Ma Foundation @foundation_ma, menyampaikan telah menyepakati pemberian hibah sebesar USD3,2 juta kepada Peter Doherty Institute for Infection and Immunity untuk pengembangan vaksin COVID-19. Kesepakatan itu dilakukan pada tanggal 2 Maret 2020.

“Kemarin Jack Ma Foundation telah menandatangi kesepakatan pemberian bantuan sebesar USD3,2 juta kepada Peter Doherty Institute for Infection and Immunity dalam rangka pengembangan vaksin COVID-19”. Tulis akun twitter @foundation_ma pada 3 Maret 2020.

(Foto: Twitter @foundation_ma)

Kirim Bantuan ke Seluruh Dunia

Jack Ma Foundation membuktikan perhatian serius terhadap semakin masifnya persebaran COVID-19 yang melanda dunia global.

Dalam siaran pers yang disampaikan pada 13 Maret 2020, Jack Ma mengatakan kalau yayasan miliknya telah menjalin kerjasama dengan Alibaba Foundation untuk mengumpulkan dan telah menyumbangkan bahan-bahan yang sangat dibutuhkan untuk memerangi COVID-19 di daerah-daerah yang terkena dampak di Jepang, Korea, Italia, Iran dan Spanyol.

Selanjutnya ia telah menyiapkan bantuan 500.000 alat tes virus dan 1 juta masker untuk rakyat Amerika Serikat yang sedang dilanda pandemi COVID-19 cukup parah.

“Kami berharap sumbangan ini dapat membantu warga Amerika dalam memerangi pandemi!”. Tutur Jack Ma.

(Foto: Twitter @foundation_ma)

Ia mengakui krisis ini memberikan tantangan besar bagi semua umat manusia di dunia. Pandemi dihadapi saat ini tidak dapat akan dapat diselesaikan sendiri-sendiri oleh negara-negara tersebut. Melainkan semua harus memerangi virus tersebut dengan bekerjasama saling bahu membahu.

“Pada saat ini, kita tidak akan dapat mengalahkan virus ini kecuali dengan cara menghilangkan berbagai batasan diantara kita, lalu menggalang serta membagikan sumber daya dan berbagi pengetahuan yang kita miliki. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh!”. Pesan Jack Ma di akhir siaran pers nya.

Berdasarkan penelusuran redaksi beritabaru.co, Jack Ma Foundation telah mengirimkan bantuan ke Amerika Serikat pada tanggal 13 Maret 2020 melalui lapangan udara di Shanghai, Cina.

Tiga hari berikutnya, bantuan dari Jack Ma Foundation dan Alibata Foundation diberitakan telah sampai di Bandara Liege Belgia pada tanggal 16 Maret 2020. Bantuan-bantuan tersebut akan didistribusikan secepatnya ke Italia dan Belgia.

Berita Terkait :  Empat Kategori Orang-Orang yang Terjangkit Covid-19

“Mulai saat ini, Cainiao Network akan menyewa lima pesawat kargo dari Hangzhou ke Bandara Liege setiap pekannya, untuk mengangkut peralatan medis”. Tutur Jack Ma dalam keterangan pers tertulisnya.

Pada tanggal 17 Maret 2020 dua yayasan tersebut melaporkan jikalau bantuan mereka ke Italia telah diterima oleh Palang Merah Italia. Mereka menjanjikan akan terus mengirimkan bantuan berupa masker dan alat untuk tes virus untuk kedepannya.

Pada hari yang sama mereka juga menyampaikan informasi terkait kiriman bantuan mereka ke Spanyol, salah satu negara di Eropa yang terdampak cukup parah setelah Italia, Jerman, Inggris dan Perancis.

Dalam unggahan pada akun media sosial @foundation_ma, disampaikan kalau bantuan berupa 500.000 masker dan berbagai macam alat medis telah sampai di Zaragoza, Spanyol setelah dikirim dari Bandara Shanghai.

(Foto: Twitter @foundation_ma)

Sebagaimana informasi yang dibagikan, tampak bantuan berupa 1,5 juta masker kembali tiba di Bandara Liege, Belgia untuk didistribusikan ke Prancis, Slovenia dan Belgia. Mereka menyebut tambahan bantuan-bantuan untuk negara Eropa akan terus dikirimkan melalui bandara tersebut.

“COVID-19 masih terus menyebar. Kita harus (kerja_red.) lebih cepat”. Tutur Jack Ma.

Bersamaan dengan kesibukan mereka untuk mengirim bantuan ke Amerika Serikat dan berbagai negara di Benua Eropa, tim Jack Ma Foundation dan Alibaba Foundation juga mempersiapkan bantuan ke 54 negara di Benua Afrika.

“Afrika bisa selangkah lebih maju dari virus”. Begitu judul siaran pers yang dirilis Jack Ma Foudation, pada 16 Maret 2020.

Jack Ma mengimbau agar tidak mengabaikan potensi risiko ke Afrika dan menganggap benua dengan 1,3 miliar orang tersebut akan terhindar dari krisis. Menurutnya dunia tidak mampu menanggung konsekuensi pandemi COVID-19 yang sejauh ii tidak terpikirkan di Afrika.

Menurutnya berbagai pihak dapat mengambil tindakan pencegahan sekarang dan bersiap-siap sebelumnya, karena Afrika dapat mempelajari pengalaman dan pelajaran dari negara-negara lain yang sebelumnya terkena dampak COVID-19.

“Untuk mengatasi kemungkinan meningkatnya permintaan akan pasokan dan peralatan medis di Afrika, Jack Ma Foundation dan Alibaba Foundation akan menyumbangkan ke masing-masing dari 54 negara Afrika berupa 20.000 alat test virus, 100.000 masker, dan 1.000 jas pelindung bagi tenaga medis dan pelindung wajah”. Tuturnya menjelaskan.

Berita Terkait :  Ali Khamenei Tolak Tawaran Bantuan AS Tangani Covid-19

Secara total, Jack Ma menyediakan 1,1 juta alat test virus, 6 juta masker, 60.000 jas pelindung bagi tenaga medis, dan pelindung wajah akan dikirimkan ke Addis Ababa, ibukota Ethiopia.

Dalam keterangan tertulis tersebut, ia menjelaskan bahwa Perdana Menteri Abiy Ahmed Ali dari Ethiopia telah sepakat untuk memimpin dalam mengelola logistik dan distribusi pasokan ke negara-negara Afrika lainnya.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Ethiopia dan Perdana Menteri Abiy”. Ucap Jack Ma.

(Foto: Twitter @foundation_ma)

Lagi-lagi akun media sosial @foundation_ma mengunggah informasi terkait rencana kegiatan mereka dalam mengantisipasi dampak penyebaran COVID-19 di negara-negara Asia. Jack Ma Foundation, pada Kamis 19 Maret 2020 sore menyebut akan turun tangan dalam memerangi COVID-2019 pada negara-negara tetangga mereka di Benua Asia.

“Kami dan Alibaba Foundation akan mengirimkan bantuan ke Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, berupa 2 juta masker, 150 ribu alat tes virus, 20 ribu baju pelindung untuk tenaga medis, dan 20 ribu pelindung wajah”. Tulis akun resmi Jack Ma Foundation.

Selain bantuan yang akan dikirimkan kepada empat negara di Kawasan Asia Tenggara tersebut, mereka juga menjanjikan bantuan serupa kepada negara-negara lain di Asia.

Keseriusan Jack Ma dalam memerangi COVID-19 bukan hanya diwujudkan dalam bentuk bantuan berupa barang-barang fisik. Sebelumnya ia juga telah mendonasikan bantuan AUD3,2 juta kepada Peter Doherty Institute for Infection and Immunity untuk meneliti dan mengembangkan vksin penangkal COVID-19.

Perhatian Jack Ma juga juga ditujukan kepada para tenaga medis yang bekerja di rumah seluruh dunia dalam menghadapi wabah COVID-19 yang semakin massif. Para tenaga medis adalah ujung tombak dalam menangani pasien terinfeksi virus corona. Menurutnya, mereka harus dibantu dengan pengetahuan yang praktis dan tepat.

Oleh karena itu, usaha Jack Ma Foundation bersama Alibaba Foundation, The First Affiliated Hospital, Zhejiang University School of Medicine (FAHZU) telah berhasil mendeokumentasikan pengalaman para tenaga medis di China selama wabah di Wuhan menjadi sebuah Buku Panduan yang mereka beri judul: Handbook of COVID-19 Prevention and Treatment.

Buku panduan tersebut dapat diunduh secara gratis melalui link berikut: https://covid-19.alibabacloud.com/ dan https://video-intl.alicdn.com.

Berita Terkait :  China Laporkan Kasus Corona Baru dari Indonesia

Mengenal Jack Ma

Jack Ma lahir di Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok pada 10 September 1964. Ia dilahirkan dari keluarga ekonomi lemah. Orangtuanya adalah pemusik dan pendongeng tradisional, yang hanya mendapatkan tunjangan pensiunan setiap bulan setara Rp500.000 untuk menghidupi keluarganya.

Saat berusia 12 tahun, Jack Ma mulai tertarik untuk belajar bahasa Inggris. Selama delapan tahun masa kecilnya dihabiskan sebagai pemandu wisata di sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou, sekitar 160 kilometer dari Shanghai. Waktu itu China baru mulai membuka diri dan mulai banyak turis yang datang ke China. Hal inilah yang membuat pemikirannya menjadi lebih terbuka dibanding teman-teman seusianya.

Jack Ma muda kemudian melanjutkan belajar ke Universitas Keguruan di Hangzhou, semacam institut keguruan dan ilmu Pendidikan di Indonesia. Di sana dia meraih gelar sarjana Pendidikan bahasa inggris, lalu ditugaskan mengajar di salah satu universitas. Saat itu gaji yang ia terima setiap adalah 100-120 Renminbi atau setara dengan Rp114.000 – Rp142.500.

Pada tahun 1992, saat perekonomian Cina mulai bertumbuh, dia mencoba melamar berbagai pekerjaan. Pada akhirnya ia diterima sebagai karyawan gerai penjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken (KFC), sampai menjabat sebagai sekretaris general.

Ketika menggeluti pekerjaan tersebut Jack Ma mulai berkenal dengan komputer dan internet, dari salah seorang temannya. Akhirnya dia tertarik pada komputer dan meminjam uang 2.000 dollar AS dari salah satu kerabatnya untuk mendirikan perusahaan komputer. Padahal saat itu dia tidak mengerti tentang komputer ataupun surat elektronik, menyentuh keyboard komputer pun belum pernah.

(Foto: Twitter @foundation_ma)

Setelah mengenal internet inilah, dia memutuskan untuk memfasilitasi para pedagang Tiongkok untuk menjual barang ke luar negeri melalui dunia maya, maka dia mendirikan Alibaba. Perusahaan tersebut kemudian menjelma menjadi raksasa baru dengan nama Alibaba Group, dengan nilai lebih dari USSD200 miliar setelah melantai di Bursa New York pada Oktober 2014.

Sejak saat itu Jack Ma dewasa lebih dikenal sebagai Founder sekaligus Chairman Eksekutif dari Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dia merupakan warga Cina Daratan pertama yang pernah muncul di majalah Forbes dan terdaftar sebagai biliuner dunia. Pada 2015, ia masuk dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia pada urutan ke-22.

Tinggalkan Balasan