Menjamu Waktu | Puisi Hendri Krisdiyanto

Menjamu Waktu
PuisiHendri Krisdiyanto

Suatu Pagi

Tak ada yang mampu menerka peristiwa
Segalanya mengalir,
Seperti air beriak dari hulu ke hilir.
Sebuah petaka datang
Mencengkeram erat nadiku
Hingga dada berdebar
Sepagi ini kendaraan melaju
Di alam pikirku, jalanan buntu

Jogja, 2019

Sebuah Petaka

Sebuah petaka tampak
Sebagai ketakberdayaan
Yang rumit di alam pikir
Orang-orang hanya menatap
Termangu bagai si dungu
Setiap dari yang terang
Menjumpai kebuntuan.

Jogja, 2019

Ngangsor

Seperti waktu memburu, aku ngangsor
Jantung berdetak mendahului langkah
Sepanjang jalan,
Matahari menguasai warna siang
Kucari tempat paling teduh
Kujumpai di wajah ibu,
Dan aku rindu.

Jogja, 2019

Menjamu Waktu

Sebuah tawa lepas dari bibir wanita
Elok dan ceria
Tiba-tiba seorang menyapa
Dan bertanya: bagaimana harus kuterima tawa
Manismu di dalam jiwaku yang kemarau?
Seperti gurun dadaku tandus
Hanya tampak seolah panas.

Jogja, 2019

Sepasang Sayap

Kita sepasang sayap
Mengekap bersama
Di punggung berbeda
Sayap patah berasal
Dari duka lara pecinta
Kita saling cinta
Tetapi, aku-kamu sepasang sayap
Apakah sayap bisa mengepak
Di bagian punggung yang sama?

Jogja, 2019

Kamuflase Siang

Pada suatu siang kota terbakar
Di dalam alam pikir pejalan kaki
Ada yang bertanya
Dari manakah sumber keringat?
Tak ada yang menjawab
Mulut-mulut bagai pintu terkunci
Rapat dan rapi.

Berita Terkait :  Ingatan di Puhsarang | Puisi Aditya Ardi N

Jogja, 2019

Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan