Berita

 Network

 Partner

Musim Kematian | Puisi-puisi Norrahman Alif
ilustrasi: @cerobongart

Musim Kematian | Puisi-puisi Norrahman Alif

Joni Mencari Istri

joni memutuskan diri untuk tidak mati di liang puisi –setelah ia tahu,
hidup paling miskin di dunia adalah sendiri. di depan cermin ia mulai
meratapi usianya kian memutih –dan wajahnya telah kedaluwarsa
untuk disebut anak muda lagi.

atau mungkin ia memang sudah paham rasa –bahwa hidupnya telah
kelewat dewasa. namun bila ia telah tahu, mengapa masih menjadi
tukang penjual kesepian di jalan-jalan puisi yang ia sering lalui.

joni, segeralah dan pindah dari tempat dudukkmu. puisi dan taman
sunyi bukan tempatmu lagi merenungi kenyataan diri yang
bimbang memilih: berbiak atau menikahi sepi dalam puisi.

2021

Menghitung Kerut Kening Kesedihan Warda

setiap malam pada saat kau tidur di depan mataku dalam layar telepon
diam-diam kuhitung kerut kening kesedihanmu yang berlipat-ganda.

  1. sedihmu seduhku tempo lalu –saat kau buka kancing rahasia
    tentang siapa dirimu hari ini dan kemarin hari itu. sambil
    memeras malam dengan air mata kau bercerita mengenai
    sebatang lidi yang terlanjur menjadi ibu sebelum dewasa
    dan kecewa.
  2. rintihmu adalah wardaku: gadis manis sepah dibuang ke tong kegelisahan
    kini tiap detik kau harus menjadi batu yang tak mudah dipecahkan
    palu-palu sedih dan kesibukan mengurus buah hati yang ditinggal
    pergi. sesungguhnya mataku menolak mengucap ibu padamu. Sebab
    wajah riang anak-anak masih tersimpan di kilau matamu.
  3. dengan terpaksa lalu sedu-sedihmu setiap malam kuseduh dari
    beberapa gelas cerita –untuk kusuling sebagai minuman hatimu
    biar perasaan dan pikiranmu bersih dari najis kenangan yang
    kau makan tempo hari dengan berurai air mata.
Berita Terkait :  Puisi-Puisi Rahem; Jalan Menuju Gapura

jurang ara-2021

Musim Kematian

aku ingin berkata bahwa sunyi telah tiada: termakan
sedu-sedan para tetangga yang sedang kehilangan.

betapa kini usia tak bisa disangka: tua dan muda
sama saja –sama-sama tiada akhirnya. Buktinya
bayi paman lahir ke dunia hanya untuk memberi kebahagiaan
yang sebentar pada tanteku. setelah itu meninggalkan kehidupan. 

hidup macam apa ini tuhan?
kini waktu tak pernah memberi sepiring rasa tenang pada kami.
tidur kami tak pernah nyenyak lagi bukan karena nyamuk mengusik.
bahkan pola hidup kami sudah berubah: memeluk kawan lama
yang baru berjumpa saja sudah curiga dan cemas:

awas jangan dekat dekat, corona loh!
memeluk diri sendiri saja ya!

Berita Terkait :  Obituarium Ayah | Puisi-Puisi Royyan Julian

2021

Tubuhku Adalah Bagian Rasa Sakit Orang-Orang Kampung

1.
tubuhku meyakini –bahwa sunyi selain duka-cita diri adalah rasa sakit mereka.
di sini hari kian berwarna celaka. tiap detik orang-orang kampung bergulung
dalam sarung dengan hidung tersumbat dengan kening panas memeluk badan.
dan berulang-ulang suara lantang memanggil dokter-meminang obat sebelum
tuhan memeluknya erat-erat.

2.
hatiku adalah karapan doa-doa mereka yang kencang berlari menggapai finis
kesembuhan. bila rumah sakit dan obat-obatan telah terlalu banyak memberi infus
kepalsuan pada hidup yang sedang sekarat. karena orang-orang di tubuhku sudah
mulai tidak percaya pada mulut kenyataan. kenyataan yang sering mereka dengar
di layar kaca maupun kenyataan yang terbuat dari narasi penyiar televisi –itu semua
katanya sekadar kaleng kosong.

Berita Terkait :  Menuju Kekal | Puisi-puisi Vito Prasetyo

namun apa yang tidak kosong hari ini. pasanglah telingamu ke sudut-sudut kampung.
bukankah sering kita mendengar orang sakit perut dituduh terlilit corona, orang pilek
disangka tersumbat corona, bahkan penyebab orang lapar adalah ulah corona. Tampaknya
semua orang adalah corona.

2021


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta.