Keran Impor Garam Dibuka, Edhy: Enggak Perlu Diributkan

Edhy Prabowo
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (foto:istimewa)

Berita Baru, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo meminta kepada semua pihak agar tidak meributkan keputusan pemerintah yang membuka keran impor garam.

Pemerintah akan mengimpor garam industri sebanyak 2,9 juta ton. Hal ini dinilai perlu karena industri manufaktur membutuhkan garam sebagai bahan baku.

“Saya pikir ini enggak perlu diributkan. Menteri Perekonomian sudah perintahkan untuk kita dengan Menteri Perindustrian klarifkasi ini,” ujarnya Edhy dikutip dari Kompas, Jumat (17/1)

“Jadi industri kalau benar-benar hanya menggunakan garam industri khusus yang tidak bisa diproduksi di Indonesia, ya silahkan dia impor langsung sendiri,” imbuhnya.

Keputusan membuka keran impor garam banyak menimbulkan polemik, hal ini disebabkan harga garam di dalam negeri anjlok. sejak 2019 sampai awal 2020 harga garam rakyat semakin menurun.

Selain itu garam juga tidak laku di pasaran, saat musim hujan harga garam turun hingga Rp 150/kilo.

Harga jual garam terus turun dibandingkan periode Juni 2019 yang mencapai harga Rp 500/kilo.

Berita Terkait :  Sosialisasi Alat Tangkap, KKP Bagikan Paket Sembako untuk Nelayan Kepulauan Seribu

Menurut Mohammad Jakfar Sodikin Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) turunnya harga garam disebabkan kebijakan impor garam pemerintah yang kurang tepat.

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan pihaknya terus berupaya meningakatkan kesejahteraan petambak garam melalui program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) yang sudah berjalan sejak tahun 2016.

Program PUGAR menurut Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Aryo Hanggono dinilai bisa meningkatkan kandungan Natrium Klorida (NaCl) menjadi 91 persen

“Kalau garam kita yang kualitas 2, kita cuci (NaCl-nya) bisa sampai 99 persen,” ucapnya.

Pihaknya menargetkan peningkatan kualitas garam rakyat untuk menjadi garam industri guna disalurkan ke industri aneka pangan.

Hal ini dimaksudkan karena meningkatnya permintaan garam untuk bahan baku di industri manufaktur sehingga membuat pemerintah mengimpor garam.

Kebijkan mengimpor garam menurut Aryo setidaknya menjadi tantangan bagi Indonesia  agar terus berupaya memperbaiki kualitas produksi garam pangan agar dapat menutupi kebutuhan garam industri dalam negeri.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan