Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Jordan

Jonathan Jordan dan Ironi Pergerakan Rusia

Berita Baru, Tokoh – Jonathan Jordan alumnus Hubungan Internasional (HI) Universitas Indonesia (UI) mengatakan pergerakan Rusia terhadap Ukraina adalah ironi.

Pasalnya, seperti ia sampaikan dalam gelar wicara Bercerita ke-87 pada Selasa (8/3), alasan mengapa Rusia menyerang Ukraina adalah karena ingin melindungi Ukraina dari Barat.

Rusia, kata Jordan, niatnya melindungi Ukraina tapi justru ia sendiri yang menyerangnya. “Ini ironi ya,” ungkapnya.

Menurut Jordan keinginan tersebut bisa timbul sebab bagi Rusia, Ukraina adalah bagian dari Rusia.

Akibatnya, ketika bagian tersebut terancam atau mengancamkan diri, Rusia akan gusar dan untuk mengatasi perasaan ini, Rusia bersedia melakukan apa pun. Salah satunya invasi.

Secara istilah, perlu diketahui bahwa Rusia tidak mau dianggap bahwa pihaknya sedang melakukan invasi terhadap Ukraina melainkan sekadar demiliterisasi.

“Mereka menyebut invasinya itu sebagai demiliterisasi. Mereka tidak mau dianggap sedang invasi. Kenapa? Ya karena tujuannya itu untuk melindungi,” jelas Jordan dalam podcast bertajuk Perang Rusia-Ukraina dalam Perspektif Kebijakan Luar Negeri ini.

Jordan menyamakan pergerakan Rusia kali ini dengan serangan Amerika terhadap Irak.

Ketika menyerang Irak pada 2003, Amerika berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk melindungi masyarakat sipil di Irak dari ancaman diktatornya: Saddam Hussein.

Persis dengannya, dalih Rusia untuk invasinya terhadap Ukraina adalah untuk melindungi etnis Rusia di Ukraina dari ancaman demagog.

“Polanya sama, mereka selalu punya dalih,” kata Jordan.

Rusia yang khawatir

Dalam kaitannya dengan dalih melindungi Ukraina, Jordan menengarai bahwa perang Ukraina-Rusia dipicu oleh ketidaksiapan Rusia untuk kehilangan Ukraina.

Rusia khawatir Ukraina akan bergabung dengan The North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan lantas NATO bisa sekehendak hati menaruh senjata di Ukraina yang notabene langsung berdampingan dengan Rusia.

Menurut Jordan, Rusia meyakini bahwa NATO bukanlah aliansi defensif. Ini terbukti dari bagaimana NATO dengan tanpa gamang menyerang Muammar Khadafi dan Yugoslavia.

“Apa yang ada di fantasi Rusia NATO bukanlah aliansi defensif. Belum lagi Barat mendukung aktivis pro-demokrasi liberal Rusia yang ingin menggulingkan Putin,” jelas Jordan.

Selain itu, Rusia memercayai bahwa Barat hingga saat ini ingin memecah Rusia menjadi negara-negara kecil.

“Soalnya, ketika Rusia masih besar, Barat akan selalu terancam. Tapi sekali lagi, ini adalah pemahaman Rusia,” ungkap Jordan.

Dari pandangan tersebut, seseorang bisa memahami mengapa ideologi yang Putin coba angkat dalam perang ini adalah nasionalisme, bahwa Rusia sama sekali menolak untuk ditekan oleh Barat.

Berebut sejarah  

Dalam diskusi yang ditemani oleh Al Muiz Liddinillah host Beritabaru.co ini, Jordan juga membahas tentang ketersinggungan Ukraina dan Rusia dalam sejarah.

Jordan memaparkan dua (2) versi sekaligus: versi Rusia dan versi Ukraina. Versi Rusia mengatakan, dari segi sejarah Ukraina sangat terikat dengan Rusia.

Sejak 1654, Ukraina sudah bergabung dengan Russian Empire yang belakangan menjadi Uni Soviet dan baru memisahkan diri pada 1991 ketika Uni Soviet runtuh.

Dalam pemisahan ini tidak ada perseteruan yang berarti. Sebab Ukraina bersedia untuk memenuhi syarat yang diajukan Rusia, yakni setiap presiden Ukraina harus pro-Rusia.

Dua dekade lebih, Jordan melanjutkan, semuanya baik-baik saja hingga tiba di tahun 2014. Pada tahun ini, presiden yang pro-Rusia berhasil digulingkan dan diganti presiden yang cenderung ke Uni Eropa dan NATO.

“Dan tentu Rusia sangat tidak menyukai ini,” kata Jordan.

Adapun versi Ukraina menegaskan, yang memutuskan pecah itu bukan Ukraina dari Rusia, tapi Rusia dari Ukraina.

Versi Ukraina mengasumsikan bahwa Rusia adalah bagian dari Ukraina. Sebab dari segi sejarah ketika Kyiv lebih tua dibanding Moscow.

“Pada abad ke-13 Kyiv itu sudah menjadi peradaban yang besar dan Moscow adalah tempat yang masih dihuni kodok,” ungkap Jordan.

Poinnya, versi Ukraina meyakini bahwa dari segi sejarah, Ukraina tidak terikat dengan Rusia dan di waktu bersamaan berhubungan dengan Barat.