Berita

 Network

 Partner

Energi Nuklir
China General Nuclear Power (CGN) bekerja bersama EDF Prancis dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Hinkley Point, di barat daya Inggris, yang akan selesai pada tahun 2025. Foto: HO EDF Engery/AFP.

Inggris Pertimbangkan Peran China dalam Energi Nuklir

Berita Baru, Internasional – Setelah pengesahan undang-undang keamanan nasional Hong Kong pada 1 Juli, dan pelarangan Huawei dalam membangun jaringan 5G di Inggris pada 14 Juli, kini antara Inggris dan China mulai menapaki jalan terjal baru, yaitu proyek-proyek energi, terutama tenaga nuklir.

Antara Inggris dan China, dalam beberapa bulan terakhir juga mengalami ketegangan serius terkait dengan undang-undang keamanan nasional Hong Kong yang dikeluarkan oleh China dan berlaku pada 1 Juli 2020.

Inggris mengecam pengesahan undang-undang tersebut, karena pihaknya merasa mempunyai hak di Hong Kong seperti tertuang dalam Deklarasi Bersama Tiongkok-Britania.

Bahkan Inggris memberikan penawaran kewarganegaraan Inggris kepada warga Hong Kong yang ingin keluar.

Setelah itu, PM Boris Johnson mendatangani keputusan yang ‘mengusir’ keterlibatan raksasa teknologi China Huawei dari tanahnya.

Namun, di tengah usaha penyelesaian Brexit, kini Inggris dipaksa untuk memikirkan kembali hubungannya dengan China terkait dengan masalah energi.

Beberapa minggu lalu, The Teleghraph melaporkan bahwa mantan pemimpin partai Konservatif Iain Duncan Smith ingin peran China dalam masa depan nuklir Inggris dinilai kembali.

Berita Terkait :  Iran dan Venezuela Akan Bersikap Tegas, Jika AS Berani Mencegat Kapal Tanker Iran Menuju Venezuela

“Kebijakan energi kami ada di tangan China,” kata Smith dilansir dari The Telegraph.

“Hanya di satu sektor itu … kami harus meninjaunya secara strategis,” imbuhnya.

China General Nuclear Power (CGN) bekerja bersama c dalam pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir di Hinkley Point, di barat daya Inggris, yang rencananya akan selesai pada tahun 2025.

CGN dan EDF juga menunggu persetujuan resmi untuk proyek pendirian pabrik baru di Sizewell di pantai Suffolk di Inggris timur.

Dalam kedua proyek tersebut, CGN adalah mitra minoritas.

Namun dalam proyek lain, reaktor nuklir Bradwell di tenggara Inggris, CGN-lah yang akan memegang saham mayoritas.

CGN belum mengindikasikan apakah mereka berencana untuk menghentikan keterlibatan nuklirnya di Inggris.

Tetapi CGN telah menginvestasikan £ 3,8 miliar (US$ 4,9 miliar) dan mendukung ribuan pekerjaan di sektor tersebut.

Steve Thomas, seorang profesor kebijakan energi di  University of Greenwich London, mengatakan ambisi nuklir CGN di Inggris adalah ‘langkah penting’ dalam memamerkan kelompok teknologi China ke seluruh dunia.

“Yang diinginkan CGN dari Inggris adalah prestise dan dukungan,” katanya kepada AFP.

Dengan China sebagai mitra utama dalam proyek Bradwell, Thomas mengatakan persetujuan Inggris ‘akan menjadi keputusan politik.’

Berita Terkait :  Konferensi Damai Konflik Libya Berlangsung di Berlin

“Memblokir pembangunan pabrik dapat mengancam keterlibatan CGN di Hinkley atau Sizewell,” kata Thomas.

“Itu tergantung seberapa marah pemerintah China … dan apakah mereka ingin menghukum Inggris,” terang Thomas.

Tindakan semacam itu akan sangat mahal juga dalam hal ekonomi, dengan tagihan akhir untuk Hinkley diperkirakan mencapai £ 22,5 miliar.

Pentingnya nuklir

Jika China keluar dari proyek Hinkley, dana talangan negara Inggris mungkin diperlukan untuk menyelamatkan proyek.

Hal itu karena proyek Hinkley merupakan kunci rencana energi jangka panjang pemerintah yang ingin mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.

Karena itu, Inggris berencana menggunakan tenaga nuklir untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik negara.

Baru-baru ini, Inggris mendapat dukungan untuk mencapai ambisi itu dari raksasa teknologi Jepang Hitachi.

Hitachi mengatakan pihaknya siap meluncurkan kembali proyek tenaga nuklir di barat laut Wales.

Pengembangan Wylfa Newydd di pulau Anglesey, yang dipelopori oleh anak perusahaan Hitachi, Horizon Nuclear, ditunda awal tahun lalu karena perselisihan mengenai pembiayaan.

Berita Terkait :  Setelah Zaman Perunggu dan Besi, Selamat Datang di Zaman Plastik

Sekarang mereka sedang menunggu publikasi strategi energi pemerintah Inggris yang baru, yang dapat mencakup model pembiayaan yang lebih menarik, termasuk berbagi biaya dengan konsumen melalui retribusi.

Namun, raksasa teknologi Jepang lainnya, Toshiba, belum juga merevisi keputusan 2018 untuk mencabut proyek pembangkit listrik tenaga nuklir di Cumbria, barat laut Inggris.

Pemerintah Inggris mengandalkan energi terbarukan seperti tenaga angin untuk memenuhi targetnya, menghindari penggunaan batu bara, namun dengan terus bergantung pada nuklir.

Saat ini, nuklir menyediakan sekitar 20 persen listrik di Inggris, rasio yang ingin dipertahankan oleh para menteri, bahkan ketika pembangkit listrik yang ada hampir habis masa pakainya.

“Nuklir baru memiliki peran penting untuk dimainkan dalam menyediakan tenaga rendah karbon yang andal sebagai bagian dari bauran energi masa depan kita saat kita mengatasi perubahan iklim,” kata pemerintah pekan ini, dilansir dari AFP.

Tetapi dengan tekanan politik dari dalam barisannya, masih harus dilihat apakah China akan membantu mewujudkannya.