Berita

 Network

 Partner

Face Shield Tidak Efektif, Ilmuan Jepang Sebut Masker Kain Bukan Tenun Lebih Efektif Cegah Covid-19
Seorang tukang daging memakai pelindung wajah di utara London. Foto: Isabel Infantes/AFP/Getty Images.

Face Shield Tidak Efektif, Ilmuan Jepang Sebut Masker Kain Bukan Tenun Lebih Efektif Cegah Covid-19

Berita Baru, Internasional – Awal pekan lalu, Minggu (20/9), upaya pemerintah Inggris dalam menekan penyebaran Covid-19 mendapatkan kritikan keras dari para ilmuan senior, menurut laporan Guardian.

Para ilmuan senior itu mengatakan kampanye ‘hands, face, space’ dari pemerintah Inggris dan menekankan pada cuci tangan dan pemakaian masker sebagai faktor kunci dalam mengendalikan penularan virus corona, tapi meremehkan pentingnya jaga jarak padahal itu menjadi satu-satunya faktor penting yang terlibat dalam penyebaran Covid-19.

Ahli virologi Julian Tang mengatakan bahwa selama orang terus menekankan mencuci tangan dan tidak mempedulikan transmisi aerosol dan ventilasi, ‘Anda tidak akan mengendalikan pandemi ini’.

Selain itu, baru-baru ini, Selasa (22/9), ilmuwan di Jepang telah membuktikan bahwa pelindung wajah (face shield) plastik hampir sama sekali tidak efektif untuk menjebak aerosol pernapasan dan penyebaran Covid-19.

Berita Terkait :  Cegah COVID-19, Puskesmas di Boven Digoel Edukasi Warga

Simulasi menggunakan Fugaku, superkomputer tercepat di dunia, para ilmuan jepang menemukan bahwa hampir 100% tetesan udara berukuran kurang dari 5 mikrometer lolos melalui pelindung plastik dari jenis yang sering digunakan oleh orang yang bekerja.

Selain itu, menurut Riken, sebuah lembaga penelitian yang didukung pemerintah di kota barat Kobe, menemukan bahwa sekitar setengah dari tetesan yang lebih besar berukuran 50 mikrometer menemukan jalan mereka ke udara, 

Karena beberapa negara telah berusaha untuk membuka ekonomi mereka, pelindung wajah menjadi pemandangan umum di sektor yang menekankan kontak dengan publik, seperti toko dan pasar.

Makoto Tsubokura, ketua tim di pusat ilmu komputasi Riken, mengatakan simulasi tersebut menggabungkan aliran udara dengan reproduksi puluhan ribu tetesan dengan ukuran berbeda, dari di bawah 1 mikrometer hingga beberapa ratus mikrometer.

Berita Terkait :  Pedagang Wajib Pakai Face Shield dan Negatif Covid-19

Atas penemuan itu, Tsubokura memperingatkan agar tidak memakai pelindung wajah sebagai alternatif masker.

“Dilihat dari hasil simulasi, sayangnya efektivitas pelindung wajah dalam mencegah tetesan menyebar dari mulut orang yang terinfeksi terbatas dibandingkan dengan masker,” kata Tsubokura kepada Guardian.

“Hal ini terutama berlaku untuk tetesan kecil kurang dari 20 mikrometer,” katanya.

Tsubokura menambahkan bahwa semua partikel aerosol yang jauh lebih kecil ditemukan keluar melalui celah antara wajah dan pelindung wajah. 

“Pada saat yang sama, entah bagaimana itu bekerja untuk tetesan yang lebih besar dari 50 mikrometer,” imbuhnya.

Namun demikian, Tsubokura juga menyarankan agar orang yang disarankan untuk tidak memakai masker, seperti mereka yang memiliki masalah pernapasan dan anak kecil, tetap dapat menggunakan pelindung wajah, tetapi hanya di luar ruangan atau di dalam ruangan yang berventilasi baik.

Berita Terkait :  Penghasil Karbon Terbesar, AS dan China Berkomitmen Mengatasi Masalah Perubahan Iklim

Selain itu, dengan menggunakan Fugaku, yang dapat melakukan lebih dari 415 kuadriliun komputasi per detik, baru-baru ini juga menemukan bahwa masker wajah yang terbuat dari kain bukan tenunan lebih efektif dalam memblokir penyebaran Covid-19 melalui tetesan udara daripada yang terbuat dari katun dan poliester.

Superkomputer seharga 130 miliar yen atau sekitar 19 triliun rupiah itu juga telah menjalankan simulasi tentang bagaimana tetesan pernapasan menyebar di ruang kantor yang dipartisi dan di kereta yang penuh sesak ketika jendela gerbong dibuka.

Meski tidak akan beroperasi penuh hingga tahun depan, para ahli berharap ini akan membantu mengidentifikasi pengobatan untuk Covid-19 dari sekitar 2.000 obat yang ada, termasuk yang belum mencapai tahap uji klinis.