Armenia Umumkan Situasi Darurat Militer dan Galakkan Mobilisasi Total

Berita Baru, Internasional – Usai hantam beberapa pesawat dan tank tempur milik Azerbaijan pada Minggu (27/9) di wilayah sengketa, seperti dilansir dari The Guardian, Armenia mengumumkan situasi darurat militer dan galakkan mobilisasi total militernya.

Menurut penjelasan Armenia, serangan tersebut merupakan tanggapan atas serangan udara yang diluncurkan Armenia di Nagorno-Karabakh, wilayah yang disengketakan,

Laporan Aktivis hak asasi manusia Armenia menyebut dua warga sipil – seorang wanita dan seorang anak – terbunuh oleh penembakan Azerbaijan dalam insiden tersebut. Pejabat militer Armenia melaporkan, setidaknya 10 orang di pihak mereka tewas.

Para pejabat di Baku, ibu kota Azerbaijan, mengatakan dalam sebuah laporan bahwa beberapa warga sipil mereka tewas dan enam luka-luka. Sementara Nagorno-Karabakh juga mencatat 10 kematian staf militernya.

Tentara Azerbaijan menyebut telah menguasai enam desa di Nagorno-Karabakh pada Minggu sore, sebuah klaim yang ditolak Armenia.

Sebagai daerah koridor pipa minyak dan gas dari Laut Kaspia ke pasar global, perselisihan antara dua negara di Kaukasus cukup menarik perhatian regional dan barat. Turki memiliki ikatan budaya dan ekonomi yang kuat dengan Azerbaijan, menyebut akan mendukungnya dalam konflik apa pun. Selain Turki, Rusia merupakan kekuatan regional lain yang dekat dengan Armenia meski juga memiliki hubungan dengan elit Azerbaijan dalam beberapa tahun terakhir.

Berita Terkait :  Petugas Pemadam Kebakaran Selamatkan 'Pohon Dinosaurus'

Kementerian pertahanan Armenia mengaku pasukannya telah menghancurkan tiga tank, menembak jatuh dua helikopter dan tiga kendaraan udara tak berawak pada Minggu (27/9), sebagai tanggapan atas serangan sipil di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.

“Tanggapan kami akan proporsional, dan kepemimpinan militer-politik Azerbaijan memikul tanggung jawab penuh atas situasi tersebut,” kata Kemenhan Armenia seperti disampaikan oleh kementerian luar negeri.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, mengatakan melalui unggahannya di twitter: “Kami tetap kuat di samping tentara kami untuk melindungi tanah air kami dari invasi Azeri.”

Azerbaijan membantah pernyataan kementerian pertahanan Armenia, dengan mengatakan pihaknya memiliki keuntungan penuh atas musuh, menuduh pasukan Armenia melancarkan serangan yang disengaja dan terarah di sepanjang garis depan.

“Kami mempertahankan wilayah kami, tujuan kami benar,” kata presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, dalam pidatonya.

Armenia dan Azerbaijan, dua negara bekas koloni Republik Soviet itu telah bertahun-tahun bertikai di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh – wilayah mayoritas etnis Armenia yang secara resmi merupakan bagian dari Azerbaijan tetapi memisahkan diri dari negara itu saat Uni Soviet bubar.

Berita Terkait :  Azerbaijan Bagikan Video Penghancuran Alat Militer Armenia

Pada tahun 1994 kedua belah pihak meluncurkan aksi gencatan senjata dan sejak itu Nagorno-Karabakh memisahkan diri sebagai Republik Artsakh yang independen secara de facto.

Kedua negara saling lempar tuduhan, menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata di daerah kantong dan di tempat lain di sepanjang perbatasan, termasuk sepanjang tahun 2020. Pada 2016, setidaknya 200 orang tewas dalam gejolak konflik antara Armenia dan Azerbaijan. Lebih dari selusin tentara dan warga sipil tewas dalam pertempuran yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan