Berita

 Network

 Partner

6 Alasan Kenapa Kamu Kudu Nonton Never Have I Ever 2

6 Alasan Kenapa Kamu Kudu Nonton Never Have I Ever 2

Berita Baru, Entertainment – Serial drama Never Have I Ever telah menemui musim keduanya dan tayang melalui layanan streaming Netflix. Dari season teranyar ini, serial tersebut berhasil menujukkan bahwa tim kreatif Never Have I Ever mampu konsisten memberikan cerita yang menyentuh, bernuansa kejutan, sekaligus menghibur.

Yuk simak, 6 hal yang bikin Never Have I Ever 2 wajib kamu tonton. Eh, hati-hati spoiler, ya!

Akhirnya, Devi Pacaran!

Yes, ini pasti kelanjutan cerita yang ditunggu-tunggu. Jadinya, Devi berakhir dengan siapa, ya? Paxton yang ganteng dan terkenal? Atau Ben yang mengesalkan meski sebenarnya berhati baik?

Yang jelas, langkah Devi membuatnya terjun dalam masalah-masalah yang semakin rumit. Tapi, bukan Devi namanya kalau nggak selalu berusaha berkelit melawan problem. Kira-kira, apa yang dia lakukan kali ini untuk memecahkan perihal asmaranya?

Gigi Hadid Jadi Narator

Di musim sebelumnya, sejumlah pesohor Amerika menjadi narator atau pembaca narasi cerita dalam serial Never Have I Ever. Sebut saja John McEnroe, pemain tenis profesional yang menjadi narator untuk isi hati Devi Vishwakumar. Ada juga Andy Samberg, seorang komedian, aktor, dan produser asal Amerika yang menjadi narator bagi karakter Ben Gross.

Berita Terkait :  Its My Duty to Fight: Film Mulan

Pada musim kali ini, model papan atas Gigi Hadid menjadi narator untuk karakter Paxton Hall-Yoshida. Tentunya, kehadiran Gigi meski hanya suaranya saja membuat Never Have I Ever jadi semakin “ramai” untuk ditonton.

Pencarian Nalini

Pada ending musim pertama, Nalini berniat membawa Devi kembali ke India. Pasalnya, setelah kematian Mohan, suaminya, Nalini merasa membutuhkan dukungan dari keluarganya. Tinggal sebagai liyan di Amerika dan harus menjaga Devi di sana membuatnya kebingungan.

Di musim kedua ini, cerita Nalini menemui babak baru. Ia memang pulang ke India, namun ia ta mendapatkan apa yang ia cari. Musim ini membawa Nalini pada sebuah pencarian yang baru tentang makna keluarga.

Sisi Lain Paxton si Anak Populer

Terlepas dari kepopulerannya di sekolah, Paxton rupanya menyimpan ruang di hatinya buat Devi meski tak tahu pasti apakah dirinya bakal menjalin hubungan romantis bersama Devi setelah masalah besar yang mereka alami.

Berita Terkait :  Film Bumi Manusia Tidak Memenuhi Ekspektasi Bagi Pembaca Novel

Di musim kedua ini, nampaknya karakter Paxton ditampilkan lebih intens. Bukan hanya eksplorasi perasan Paxton terhadap Devi, Never Have I Ever 2 juga menunjukkan sisi lain mengenai sejarah keluarga Paxton yang merupakan keturunan Jepang.

Dalam salah satu episodenya, diceritakan tentang bagaimana keluarga Paxton di zaman dahulu mempertahankan diri dan identitasnya. Sebuah poin menarik yang bikin Never Have I Ever bukan serial remaja biasa.

Kehadiran Karakter India Lainnya

Gimana jika seorang anak keturunan India macam Devi yang tinggal ditengah dominasi orang Barat tiba-tiba kedatangan seorang siswa baru keturunan India-Amerika bernama Aneesa? Akankah ia merasa bahagia karena punya teman dengan latar belakang budaya yang sama?

Justru enggak. Hubungan Devi dengan Aneesa mengalami pasang-surut. Bahkan di satu sisi, Devi merasa terancam oleh sosok Aneesa. Kok bisa?

Berita Terkait :  6 Pelajaran Penting dari Film The Girl on The Train Versi India

Karakter Aneesa diperankan oleh Megan Suri, yang wajahnya juga bisa kalian temui dalam serial 13 Reasons Why dan Atypical.

Guru Sejarah yang Feminis

Satu hal yang mungkin kamu lewatkan saat menonton Never Have I Ever 2 adalah sisi feminis dan cinta damai yang dimiliki oleh Mr. Saphiro, guru sejarah sekaligus guru yang paling sering muncul di drama ini.

Sejak musim pertama, Mr. Saphiro sudah mencuri perhatian dengan karakternya yang tidak menyerupai guru biasa. Ia berupaya membuat kelas Sejarah yang mungkin saja membuat siswa mengantuk, menjadi kelas yang seru dan kompetitif.

Di sisi lain, karakter Mr. Saphiro juga sering menunjukkan sisi-sisi pro-feminisme lewat kaos yang ia kenakan, salah satunya bertuliskan “Nevertheless She Persisted”, sebuah istilah yang diadopsi dari gerakan feminisme di Amerika Serikat. Jika diterjemahkan maka berarti, “Meski demikian, ia bertahan.”