Berita

 Network

 Partner

Waspada Gelombang Ketiga COVID-19, PBNU Dorong Pemerintah Batasi Masuknya Tenaga Kerja Asing

Waspada Gelombang Ketiga COVID-19, PBNU Dorong Pemerintah Batasi Masuknya Tenaga Kerja Asing

Berita Baru, Jakarta – Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa perlu kerja antara masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi mengatasi wabah COVID-19 di Indonesia.

Menurutnya, prosentase masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan dalam data Satgas COVID-19 Nasional mencapai 80 persen sehingga tinggal penguatan kebijakan oleh pemerintah.

Sebagai penguatan kebijakan dalam mengendalikan COVID-19 di dalam negeri, Kiai Said mendorong pemerintah agar membatasi masuknya tenaga kerja asing.

“Masyarakat displin prokes, sementara Pemerintah menggalakkan vaksinasi dan memperbaiki ekosistem kesehatan. Pemerintah perlu membatasi akses masuk bagi tenaga kerja asing, sampai situasi pandemi terkendali,” kata Said Aqil saat memberikan sambutan dalam kegiatan Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama 2021, Sabtu (25/9).

Dalam kesempatan itu, Kiai Said juga menghimbau masyarakat tidak boleh euforia dengan berbagai pelonggaran kegiatan masyarakat. “Kita semua harus waspada terkait potensi datangnya gelombang ketiga,” ujarnya.

Menurut Kiai Said, meski situasi saat ini cenderung melandai di tengah gencarnya ikhtiar Pemerintah melakukan vaksinasi, kita tidak boleh lengah dan abai.

“Setelah sempat ditunda, Munas-Konbes ini digelar dengan prokes yang ketat. Kegiatan ini diputuskan sebagai forum internal, dengan peserta terbatas, tanpa mengundang pihak eksternal. Ini dilakukan untuk menyempurnakan ikhtiar kita dalam rangka memutus rantai penularan,” jelasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jaksel ini, menuturkan, menurut dia pertimbangan keselamatan dan kesehatan jama’ah adalah kaidah tertinggi jam’iyah dalam menjalankan roda organisasi di tengah situasi pandemi.

“Tidak ada maksud lain terkait desain konsep dan waktu penyelenggaraan permusyawaratan organisasi selain komitmen mengawal salah satu pilar maqâshid al-syarîah, yaitu hifz al-nafs,” tegas Kiai Said.

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Tasawuf itu menegaskan, NU telah kehilangan ratusan kiai dan pengasuh pesantren selama pandemi. Ini musibah besar bagi NU dan kerugian bagi umat Islam. Karena itu, imbuhnya, NU harus menjadi teladan dalam semua ikhtiar memutus rantai penularan.

“Meski kita yakin sepenuhnya ajal di tangan Allah, kita wajib berikhtiar menjaga dan melindungi para masyayikh, kiai, pengurus, dan warga Nahdliyin dengan disiplin menjalankan prokes, baik dalam kegiatan pribadi maupun organisasi,” tukas Kiai Said.

Berita Terkait :  Dua Saintis Inggris Sebut Pencabutan Lockdown Bagian dari Keputusan Politik