Wai Hnin Pwint Thon, Krisis Myanmar, dan Sanksi Ekonomi

-

Berita Baru, Tokoh – Kondisi Myanmar pascaperebutan kekuasaan oleh junta militernya pada 1 Februari kemarin semakin parah. Ratusan masyarakat sipil yang terlibat protes untuk menyuarakan demokrasi, termasuk anak-anak, harus merenggangkan nyawa oleh serangan junta.

Terhitung sampai Selasa (4/5) bahkan, seperti disampaikan oleh Wai Hnin Pwint Thon Senior Advocacy Officer di Burma Campaign UK (BCUK) dalam sesi internasional #Bercerita ke-46, akses internet masih dibekukan, termasuk mobile data.

Beberapa saat yang lalu, ungkap Wai Hnin, akses internet memang sempat membaik, tetapi belakangan ini kembali terputus. “Tidak adanya akses internet seperti ini tentu akan begitu menyulitkan masyarakat yang sedang protes, khususnya yang di kota, sebab tidak ada media untuk berkomunikasi satu sama lain,” ungkapnya dalam Bahasa Inggris pada Selasa (4/5).

Di kota, penangkapan terhadap masyarakat sipil pun tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Malah, itu dilakukan secara sewenang-wenang, apalagi pada mereka yang sedang mengenakan baju atau kaos hitam.

“Iya, baju hitam. Soal penangkapan, seolah mereka itu buta, siapa saja ditangkap, terutama yang mengenakan pakaian hitam dan sekarang ini saya pun pakai baju hitam,” kata Wai Hnin sembari tertawa kecil dalam acara yang dipandu langsung oleh Lukman Hakim ini.

Berita Terkait :  Antara Ketegangan dan Kebetulan: Lekuk Hidup Jadul Maula
Berita Terkait :  Indonesia Desak Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN Bahas Krisis Myanmar

Apa yang terjadi di wilayah desa pun tidak berbeda, bahkan lebih parah. Hari-hari ini, lanjut Wai Hnin, junta sering menyerang masyarakat etnis, sehingga banyak dari mereka harus lari dan pergi ke hutan untuk menyelamatkan diri.

“Bagaimana mereka menangkap dan menyerang sebegitu rupa pada mereka yang tidak bersalah, anak-anak dan perempuan, menandakan betapa mereka adalah manusia-manusia tanpa rasa kemanusiaan,” jelasnya geram.

“Everyone is living in fear,” tambahnya, mencoba untuk mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi suram Burma.

ASEAN Summit dan respons internasional

Dalam hubungannya dengan ASEAN Summit di Jakarta (24/4) yang membahas krisis Myanmar, menurut Wai Hnin hal tersebut merupakan kesalahan. Satu sisi, ungkapnya, itu positif, tetapi pada sisi lain, itu sama halnya dengan memberikan junta militer Myanmar panggung untuk menyebar propagandanya.

Propaganda dari kubu junta militer Myanmar dinilai lebih menguntungkan pihak mereka daripada masyarakat yang memperjuangkan demokrasi. Salah satunya, Wai Hnin melanjutkan, adalah bagaimana krisis di Myanmar atau Burma bukanlah isu internal, tetapi internasional.

Berita Terkait :  Perjuangan Hendrika Kelan, Pejabat Publik Transgender Pertama di Indonesia

“Dan mereka di waktu bersamaan bilang bahwa krisis di Myanmar adalah urusan internal, sehingga pihak luar lebih baik tidak ikut campur. Namun, di atas semuanya, penyelenggaraan ASEAN Summit di Jakarta kemarin itu positif,” kata perempuan jebolan University of London ini.

Berita Terkait :  Pimpinan Negara ASEAN Capai Konsensus Akhiri Krisis di Myanmar

Adapun mengenai respons yang diberikan oleh Presiden AS Joe Biden dan Mantan Presiden Barack Obama pada junta Myanmar, Wai Hnin menilai hal seperti inilah yang justru dibutuhkan untuk menekan junta.

Kenyataan bahwa para petinggi militer Myanmar sama sekali peduli pada akuntabilitas dan aset ekonomi merupakan alasan mengapa demikian. Dengan ungkapan lain, mereka sebenarnya takut pada sanksi ekonomi, sehingga beberapa pihak internasional penting menyepakati guna melakukan boikot pada apa pun yang berhubungan dengan junta, seperti perusahaan-perusahaan para petinggi mereka dan aset-aset di luar negeri.

Berita Terkait :  Riza Annisa: Antara Pandemi dan Strategi Kendalikan Inflasi

Wai Hnin mengungkap hal tersebut diperlukan supaya mereka tidak lagi bisa melakukan transaksi senjata yang secara bersamaan inilah pada dasarnya yang masyarakat Burma butuhkan ketimbang sekadar cuap-cuap di media sosial terkait dukungannya pada masyarakat sipil Myanmar yang sedang berjuang.

“Iya benar. Kita dapat banyak dari komunitas internasional, tapi bentuknya pernyataan-pernyataan,” sindirnya.

Untuk konteks ketika ketegangan antara militer dan sipil di Burma yang tak kunjung reda, bahkan memburuk dengan semakin banyaknya masyarakat sipil yang tidak lagi memiliki rumah yang aman, masyarakat etnis yang diserang siang-malam, dan penangkapan secara sepihak yang terjadi hampir setiap sore, Wai Hnin berharap komunitas internasional bisa segera mengambil tindakan, yaitu sanksi ekonomi.

“Dukungan yang nyata melalui jalur tersebut jelas kami butuhkan, sebab dari Burma Campaign UK sendiri, kami tidak pernah berhenti. Serangan pada masyarakat etnis meningkat, banyak masyarakat membutuhkan tempat yang aman untuk tinggal, dan para junta semakin tanpa segan untuk menangkap, bahkan membunuh,” ungkap Wai Hnin.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments