Berita

 Network

 Partner

Nasirun - 'Ngilo'_Mengenang Ibu (Oil on Canvas_2009)

Di Balik Tokoh: Memoar Nasirun (3)

Menempa Diri; Merenda Seni

Kondisi psikologi tiap manusia berbeda-beda dalam menanggung beban hidup. Sebagaimana yang dialami oleh Nasirun pada periode studinya di ASRI, terjadi semacam kristalisasi kehidupan dari berbagai tekanan takdir yang multi kompleks. Selama lebih dari 40 hari dia tidak beranjak keluar dari rumah, hanya melukis tiada henti hingga jatuh kelelahan. Di momen itu kesadarannya telah menyeberangi batas dimensi manusiawi. Nasirun seolah masuk ke alam lain di mana dia dapat mendengar bermacam suara tanpa rupa. Suara-suara tersebut mengajak Nasirun memasuki alam di luar nalar manusia.

“Lama-lama mungkin karena beban terlalu berat, mungkin saya masuk di alam gila itu. Karena ketika melihat pagi hari itu, ini dimensi lain. Lalu pada suatu waktu, saya mendengar suara betul, suara shalawatan, suara dari mulai gendingan. Tetapi kalau sadar lagi, dia menghilang, menjauh. Karena magnetnya saya sudah mau ke sana,” (Nasirun).

Barangkali jika Nasirun tidak berpijak pada ajaran sang ibu mengenai ketundukan pada kekuatan di luar diri manusia, dan pada visinya untuk merenda bakat kesenian, dia akan terbawa panggilan suara dari dimensi liyan tersebut dan sungguh menjadi gila. Namun Nasirun terselamatkan. Di titik inilah, setiap manusia memang memiliki wadah masing-masing dalam menanggung derita dan ujian. Semakin besar wadahnya, semakin kuat pula manusia itu menerima cobaan. Wadah tersebut adalah kemampuan manusia berserah diri. Keikhlasan di tengah konstelasi takdir.

Pengalaman-pengalaman pahit sejak dini yang dialami Nasirun dapat dikatakan sebagai cara Tuhan mendidik dan menempa dirinya menjadi pribadi yang berkarakter. Pengalaman yang mengakumulasikan energi besar untuk berkarya sekaligus memberi karakter pada karya-karyanya. Bagi Nasirun, kesuksesan dalam kesenian, entah itu bentuknya popularitas maupun keberlimpahan ekonomi merupakan sekadar efek. Sebab hal yang terpenting adalah proses berkarya. Sejauhmana seniman mampu bertahan dalam proses tersebut meski di tengah hantaman dan tekanan hidup, maka sejauh itu juga akan terbukti kualitas pribadi dan karyanya.

Berita Terkait :  Sinau pada Yang Lalu: Mendiang Soenarto Pr

Wadah yang dipunyai oleh tiap manusia dalam batinnya sesungguhnya dapat menjadi gambaran keadilan nasib yang sifatnya gaib. Keadilan dalam logika manusia tentu berbeda dengan logika semesta. Melihat Nasirun sekarang semata melalui kacamata kekayaan material sangat tidak adil, tanpa menelusuri terjal dan berliku pengalaman hidupnya di masa lampau. Perlu memahami bagaimana semesta telah menghantam dan memahat dirinya menjadi sosok pribadi saat ini. Serta mengamati bahwa sebagian besar karya lukis maupun karya rupa ciptaannya mengandung kisah-kisah dari potongan peristiwa masa silam. Dengan demikian, hubungan antara seniman-karya-pengalaman tersebut menjadi subyek kajian yang komprehensif dalam seni rupa.

Nasirun sampai pada sebuah perenungan bahwa dalam merenda bakat kesenian, seseorang harus merawat wadahnya agar sensivitasnya semakin terasah. Sensivitas atau keharuan tersebut yang akan membimbing seniman dalam mencerap realitas sekaligus bertindak atas realitas itu. Misalkan, ketika seorang ibu penjual jamu gendong lewat di depan rumah, seorang seniman bukan hanya terinspirasi untuk melukis si ibu sebagai obyek karyanya, melainkan juga tergerak untuk membeli jamu yang ia jual. Artinya, kerja kebudayaan yang dilakukan seniman tidak terbatas pada penciptaan karya seni, tetapi juga melakukan tindakan sosial sebagai manifestasi dari rasa keharuan yang ia miliki.

Terkait dengan sensitivitas, Nasirun mengalami pula absurditas di baliknya. Dari bentangan dan belitan peristiwa-peristiwa masa lalu, Nasirun menemukan fakta bahwa ia memiliki seorang saudara perempuan, satu susuan. Dia bernama Sumariyah. Sewaktu kecil Nasirun mempunyai kebiasaan senang membeli makanan dari pedagang keliling. Dan Sumariyah adalah salah satu pedagang yang kerap ia beli hasil jualannya. Ternyata baru diketahui belakangan, berdasarkan informasi dari beberapa tetangga di kampung, bahwa Sumariyah merupakan anak yang dulu pernah disusui oleh almarhumah ibunda. Belum lama ini, Nasirun pernah mengunjungi Sumariyah di kediamannya. Jarak usia mereka tidak terlampau berbeda, namun jarak nasib begitu jauh memisahkan mereka.

Berita Terkait :  Di Balik Tokoh: Memoar Nasirun
Di Balik Tokoh: Memoar Nasirun (3)
Nasirun (Photo By Ima Bunga)

Pengaruh Sufisme dari Sang Ayah

Dalam kisah-kisah hidup yang diutarakan Nasirun, sebagian besar di antaranya berkisar mengenai ibunda Nasirun. Beliau sosok yang begitu memengaruhi cara pandang dan sikap hidup Nasirun hingga kini. Ketika dinikahkan oleh ayah Nasirun, sang ibu adalah anak dari pembantu yang mengabdi pada keluarga ayahnya. Kakek Nasirun dari pihak ayah merupakan tuan tanah ternama di desanya. Pernikahan antara ayah dan ibu Nasirun tidak sepenuhnya direstui oleh keluarga besar, mereka pun terasing dan diasingkan.

Dibandingkan persinggungan hidupnya dengan sang ibu, Nasirun hanya sedikit sekali memiliki memori tentang ayahnya. Dia masih sangat kecil saat almarhum wafat, berusia kurang-lebih 6 tahun. Samar-samar yang teringat dalam benak Nasirun ialah sang ayah hampir setiap malam keluar rumah membawa ting (lentera dalam bahasa Banyumasan). Ia tidak pernah tahu ke mana ayahnya pergi. Akan tetapi, pernah suatu kali saat Nasirun hendak mencari sang ayah, tanpa sengaja ia berjumpa dengan salah seorang sahabat ayahnya. Dalam penglihatan Nasirun, orang tersebut berjalan dengan mata terpejam seraya berdzikir, di tangannya ia memegang oncor (suluh).

Konon, ada sebuah tradisi yang bahkan hingga kini masih hidup di desa-desa tertentu. Tradisi yang berkaitan dengan amalan dalam Islam. Terdapat sebagian kelompok dalam dunia tasawuf yang mengamalkan dzikir sambil berjalan berkeliling desa. Orang-orang tersebut melakukan tirakat sebagai upaya melindungi desanya dari musibah maupun bencana. Mereka berjalan saat menjelang tengah malam hingga nyaris fajar. Bertahun-tahun setelah Nasirun dewasa, ia mulai memahami bahwa ayahnya adalah seorang salik (pelaku tasawuf). Bahkan lebih jauh, tingkatannya sudah ba’dal mursyid (wakil guru spiritual), namun sangat terkenal sebagai mursyid karena mau membaiat siapaun.

Berita Terkait :  Fikih Bencana ala Rahmawati Husein

Selepas sang ayah wafat, setiap lebaran ibu Nasirun akan meminta semua anaknya berkumpul dan menunggu. Pada waktu itu, satu persatu berdatangan tamu jauh dari berbagai daerah. Luar biasa banyaknya. Mereka merupakan murid-murid yang pernah dibaiat oleh almarhum. Dari mereka lalu Nasirun memperoleh banyak kisah mengenai ayahnya. Mulai terkuak sedikit demi sedikit. Seperti cerita, apabila ada orang-orang teraniaya yang melarikan diri dari aparatur desa atau oknum tertentu, mereka akan merasa aman bersembunyi di dapur rumah Nasirun.

“Almarhum ini umpamanya ada orang dari desa mana, cari kerjaan saat panen raya, itu tidurnya juga di rumah ayah saya. Ayah saya bisa menerima itu. Sedikit saya bongkar ya, kesabarannya itu lho. Makanya menurut cerita tetangga, bapak itu “pahit-legit ditelan,” (Nasirun).

Berdasarkan cerita dari para murid almarhum itulah, Nasirun mengetahui bahwa ayahnya seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah-Qodiriyah. Hampir semua saudara kandungnya pun telah dibaiat, hanya dia yang tidak dibaiat dan justru memilih berkecimpung di dunia seni. Namun, jika kemudian saat ini Nasirun sebagai seniman menunjukkan karakter sufistik baik dalam pribadi maupun karya lukisannya, kita dapat memaklumi bahwa barangkali riyadhoh sang ayah maupun para leluhur lain menitis pada dirinya. ***