Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Upaya Membunuh Sepi | Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi
Ilustrasi: The Little Assas

Upaya Membunuh Sepi | Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi

Upaya Membunuh Sepi

Sepi selalu bertahan
dari gempuran kekacauan.

Ia merawat dan meruwat diri
di tengah-tengah segala
reruntuhan.

Seperti seorang kakek yang
memandikan dua orang anak
dalam kamar mandi yang tak

lagi beratap, jebol, nyaris runtuh
akibat rudal pesawat—lihat,
di bibir mereka masih tumbuh
senyum!

Upaya membunuh sepi
seperti Karna meminta
Antareja menjilat bekas
telapak kaki sendiri.

Sepi yang tua
akan tertawa
menyaksikannya.

2022

Tetapi Sepi…

Tetapi sepi merisaukanmu
dengan guguran bulu-bulu
burung di sarang, dengan
angin yang memukul-mukul
daun bambu di jauhan.

Kau ingin bangkit dan
menghardik, agar sepi itu
berlalu—tapi kau sadar,
bukankah sepi lebih dulu
ada sebelum dunia dibentuk?

Dan dunia selalu merindukan
sepi itu, sebab ia terlalu gaduh,
terlalu riuh. Bahkan letusan senpi
di dalam kamar adalah kabar

yang tak habis-habisnya
ingin menghabisi sepi.

Tetapi sepi telah mengekalkanmu
dalam pengenalan terjauh akan
jerit panjang dalam dirimu.

2022

Tentang Sepi

1/
Bukan kesepian benar
menusuk kalbu.

2/
Di beranda ini, sepi
dan maut
ingin memagut
tubuh dan hidupmu.

3/
Hukum kekekalan sepi:
Sepi tak beranak,
dan tak bisa diperanakkan.

Sepi adalah momentum
itu sendiri.

4/
Letusan senjata api
adalah sepi yang lain.

Sepi yang meniadakan
kebenaran sesaat.

Sepi yang mengadakan
kesesatan sebenarnya.

5/
Sebelum dunia ada,
sepi, pada mulanya.

6/
Bukan kesepian
sebenarnya
yang mengusik.

Hanya angin,
diam, tak berputar,
di sekitar.

Dan kau tak benar-benar
mendengarnya.

2022

Pasca Trauma

…But dear
universe: if I
can recognize
her face under
this tunnel of
endless
shadows

against the
luminance of
all that is
extinct and
oncoming, then
I am not a
stranger here.

~ Sally Wen
Mao,
Resurrection.

Maaf, saya
tak sanggup jika
harus membakar kota
& hidup mencium kembali
bau luka.

Namun, saya tetap harus
melanjutkan hidup. Sebab
kebangkitan selalu tersedia
bagi mereka yang telah
merasa kalah & mati.

Dan kesadaran menembus
nadi, tidak dari selang infus.

Hidup hanya dihidupkan
dari keinginan kita sendiri.
Gemuruh dari pikiran dapat
menggugurkan suara mesin
penopang hidup.

Saya sadar; tidak pernah ada
yang benar-benar pergi dari
dunia ini – bahkan dalam kematian,
yang berasal dari debu tanah
selalu bersatu kembali dengan
bumi.

Saya tahu; ada yang akan terhilang,
tak lagi terbilang. Sebab hidup
semata ziarah setelah pengusiran itu.

Selalu, pada akhirnya, saya harus
teguh dalam segala keluh; yang
terucap semata kecap dari semua
yang serba sedikit.

Seisi lautan tak akan mampu
saya tuang & minum airnya.
Hanya dari pinggir hutan bakau ke
gigir bukit yang dapat saya jangkau.

Tetapi, saya tak bisa lari lagi.
Jauh kembara ke luar diri,
saya yang lain akan kamu
temukan. Saya yang berkali
bisa kamu matikan seperti
radio atau televisi. Saya yang
berkali jadi hidup sebagai hantu
bergentayangan di kotamu.

Maaf, saya tidak sanggup
mengubur diri sendiri dalam
rasa sakit itu. Saya juga tak
bisa, dengan terbata, berkata,
“Hei, dunia ini indah adanya!”

Baiknya saya jenak berbaring.
Barangkali bisa bercengkerama
dengan langkah tergesa di lantai
rumah sakit, atau bahkan menari
bersama bising sirine ambulans itu.

Dan saya biarkan kamu selalu
bertanya & mencari.

2021

Lost & Found

….
You must call in a way that
your spirit will want to return.

~ Joy Harjo, For Calling the Spirit Back
from Wandering the Earth in Its Human Feet

Menghilanglah untuk bisa pulang,
atau temukanlah yang kau cari
selama ini, & pada ke dua hal itu,
kau akan ditinggalkan sendiri.

Karena;

waktu, yang berdengung itu,
sesungguhnya tak benar-benar
menghitung perjalanan, juga
penantian. Hanya coretan;
semacam peristiwa kecil atau
keteledoran, di bangku kereta
atau tiang stasiun. Itu membuatmu
mengingat siapakah kau sebelumnya.

Hidup, yang dikotak-kotakkan
tidak berdasarkan warna,
semata tempat sementara,
di mana kita diletakkan,
berdesakan, menunggu
seseorang dengan muka
sedih muncul pada
jendela kecil itu.

Ada seorang penjaga yang
rajin menulis—apa yang
masih ada & apa yang telah
diambil pemiliknya.

Namun ia juga bergelut
dengan pikirannya yang jumud.

Sesekali terdengar suara
gelembung air di dalam galon
memecahkan sepi & menciptakan
misteri—Segera tibakah para
penjemput? Mereka yang selalu
mengingatkan kepadaku—
selalu ada yang menghendak
lepas dari kawanan, dari tekanan
hidup yang melulu tentang
kehilangan & keinginan
untuk dapat dikumpulkan.

2021


Dedy Tri Riyadi, penyair yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja iklan. Pernah menjadi penyair muda terbaik dan penulis puisi terbaik untuk suatu festival dan situs sastra. Buku puisi terakhir diterbitkan bertajuk “Berlatih Solmisasi” sempat masuk long-list Kusala Sastra Katulistiwa. Sedang merencanakan menerbitkan naskah yang tidak menang lomba dengan sejumlah tambahan dan perbaikan.