Tsai Ing-wen: China Harus Terima Kemerdekaan Taiwan

(Foto : The Guardian)

Berita Baru, Internasional – Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen meminta China untuk menerima kenyataan bahwa Taiwan akan merdeka. Tsai juga mengatakan kepada China agar berhenti mengklaim negara itu sebagai bagian dari wilayah Beijing.

“Kami berharap Tiongkok dapat memahami pendapat itu sepenuhnya,” kata Tsai pada hari Sabtu.

Komentar presiden tersebut muncul beberapa hari setelah diplomat top China mengatakan bahwa penyatuan Taiwan dengan China adalah ‘keniscayaan sejarah’. Ia juga mengatakan siapa pun yang menentangnya akan ‘bau selama 10.000 tahun.’

Dilansir dari The Guardian, Rabu (15/1), China telah berulang kali mengatakan bahwa Taiwan harus berada di bawah otoritasnya dengan cara apa pun, termasuk kekerasan.

Para analis percaya pimpinah China, Xi Jinping, telah menargetkan pencapaian itu pada 2049. Batas waktu bagi sebuah negara untuk mencapai ‘peremajaan’.

Sejarah Taiwan

Taiwan diperintah selama lebih dari tiga dekade oleh tentara nasionalis, Kuomintang. Partai pimpinan Chiang Kei Shek yang melarikan diri ke pulau itu pada 1949 setelah dikalahkan oleh partai komunis Tiongkok.

Kemudian dibentuhklah pemerintahan saingan Republik Tiongkok, yang sekarang dikenal sebagai Taiwan. Sejak saat itu, Taiwan berubah menjadi demokrasi multi-partai, di bawah pemerintahan dan sistem politik yang sepenuhnya terpisah dari China.

Setelah masa jabatan pertama Tsai, Beijing memutuskan untuk melakukan mekanisme dialog dengan Taiwan dan berusaha mengisolasinya secara diplomatis.

Berita Terkait :  5 Pengaruh Protes Hong Kong terhadap Ekonomi Kota dan Pasar Saham

Tsai menentang adanya penyatuan dengan China. Tetapi ia tidak secara langsung mengatakan secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan Taiwan. Sebab hal itu dikhawatirkan memprovokasi Beijing.

“Kami tidak perlu menyatakan diri kami sebagai negara merdeka,” Tsai mengatakan kepada BBC. “Kami sudah menjadi negara merdeka dan menyebut diri kami Republik Tiongkok, Taiwan.”

“Mereka tidak suka ide terancam sepanjang waktu. Kami adalah demokrasi yang sukses. Kami layak mendapat respek dari China. Kami memiliki identitas yang terpisah dan kami adalah negara kami sendiri.” Katanya menegaskan.

Beijing menolak untuk berurusan langsung dengan Tsai dengan alasan bahwa dia belum menerima konsensus 1992. Di mana konsesnsus itu mengatakan bahwa Taiwan dan China adalah bagian dari ‘satu China’.

Kesepakatan yang tidak jelas itu diserahkan kepada masing-masing pihak untuk menafsirkan definisi ‘satu China’.

Tsai mengatakan bahwa sebelum dialog dapat dibuka kembali, Beijing harus meninjau kembali pendekatannya saat ini. “Jika mereka tidak siap menghadapi kenyataan, maka apa pun yang kami tawarkan tidak akan memuaskan mereka,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan