Suatu Pagi di Rumah Tante Revi | Cerpen: Iin Farliani

(ilustrasi: ist)

Sudah cukup lama kami berdiri di muka gerbang sambil sesekali mengetukkan gerendel pada permukaannya yang berat dan dingin. Terdengar bunyi yang cukup keras dan nyaring. Kakakku, Fani mengetuk sekali lagi. Di ketukan kelima, seseorang membukakan gerbang. Dialah Tante Revi. Wajahnya terlihat pucat dan lemah. Meski tidak bisa dikatakan bersikap ramah, seruannya yang berkata “Ayo, Masuk.” dengan tangan yang diangsurkan ke depan membuat aku dan Fani cepat-cepat mengikutinya dari belakang.

Tante Revi berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sekaleng biskuit. Aku yang sedang duduk bersandar pada sofa tiba-tiba duduk tegak sambil melihat perubahan wajah Fani. Fani melirik ke arah kaleng biskuit yang kini terhidang di meja. Matanya seakan berbicara, “Itu biskuit yang sering ditemukan di warung-warung!”

“Hanya ada ini. Silahkan dinikmati,” kata Tante Revi. Ia duduk setengah menghempas ke atas sofa. Ia benar-benar terlihat lelah. Kalimatnya yang tadi mengatakan “Hanya ada ini” seperti memberi penebalan tentang keadaannya saat ini. Tante Revi sedang tidak ingin repot-repot menghidangkan kue seperti biasa saat kami datang menjelang pesta tahun baru. Kira-kira begitu keadaan yang bisa diterka lewat ekspresi wajahnya.

Tante Revi masih mengenakan celemek di pinggangnya. Ia tidak melihat pada kami. Selama aku dan Fani menyesap teh panas dan menggigit satu dua potong biskuit__Huh! Rasanya hambar sekali. Biskuit harga murah memang membosankan!__wajah Tante Revi menengadah ke arah langit-langit dengan mata tertutup.

Aku berbisik pada Fani sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung. Dari jendela, pemandangan di halaman terlihat jelas. Di sana piring-piring kotor disusun bertumpuk, juga ada nampan-nampan besi dalam susunan. Semuanya diletakkan di bawah pohon mangga. Di bawah pohon itu berdiri keran pendek yang dikelilingi semen persegi. Tiap ada acara besar, maka peralatan makan dan dapur dicuci di bawah keran itu. Air cucian akan mengalir menuju parit yang berada di luar gerbang. Salurannya menembusi dinding tanah. Suara air yang mengucur terdengar menimpa batu-batu di parit menimbulkan kesan seolah sedang berada di pinggir sungai.

“Maaf Tante Revi. Kami tidak datang malam tahun baru karena di rumah waktu itu…” Akhirnya Fani buka suara. Ia melirik ke arahku lalu melanjutkan, “Karena waktu itu rumah sepi. Tidak ada yang mengantar kami malam-malam.”

“Tidak apa-apa. Kukira kalian pasti tidak datang karena tidak ada yang mengantar.” Tante Revi membuka matanya. Masih menyipitkan mata, ia menggosok matanya dengan punggung tangan. Sepertinya untuk membuka mata saja sudah membuatnya benar-benar lelah.

“Apakah pestanya ramai?” tanya Fani. Ia menggigit bibirnya di sela menanti membukanya kembali mata Tante Revi. Fani mungkin berpikir ia terlalu banyak bicara.

Tante Revi hanya memberi anggukan lemah. Ia bahkan tampak akan terlelap sebentar lagi. Cukup lama ruang tamu itu dilanda kebisuan. Hanya sesekali bunyi sesapan teh diikuti gemelutuk gigi mengunyah biskuit memecah keheningan itu. Aku mulai merasa bosan. Aku mengalihkan pandang ke arah halaman tempat piring-piring dan gelas kotor bertumpuk.

Semestinya Fani tidak perlu menanyakan itu, gumamku tertahan. Melalui limpahan cahaya matahari pagi yang menimpa gelas-gelas kaca, aku bisa membayangkan seperti apa pesta tahun baru yang berlangsung malam tadi. Suara musik yang menggelegar, piring-piring berisi kue-kue! Kue putri salju, kue nanas, kue kacang, kue kukis coklat, bolu gulung, kue kastengel, dihidangkan di atas piring-piring cantik yang berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Tamu-tamu saling menawari kue kepada mereka yang duduk di sebelahnya. Orang-orang mencomot kue sambil minum air bersoda. Mereka duduk melingkar mengelilingi meja piknik yang dipasang di halaman. Halaman rumah Tante Revi cukup luas untuk tamu-tamu yang datang dari berbagai tempat itu.

Pesta yang lazim dengan keramaian orang-orang tak dikenal namun cukup ramah untuk memberikan satu-dua kali sapaan hangat untuk selanjutnya membentuk kelompok kecil, terdiri dari mereka yang mulai membicarakan bahan obrolan sama. Di antara saudara Ayah yang lain, Tante Revi dan suaminyalah yang paling sering mengadakan pesta tahun baru. Setiap tahun pesta digelar dengan puncak perayaan menyalakan kembang api bersama. Beberapa tubuh tamu undangan yang tumbang karena mabuk atau mengantuk berbaring di ruang keluarga yang cukup luas. Ada juga yang menelungkup begitu saja di meja piknik dan sering berjajar di beranda. Pada pukul empat atau lima pagi, satu-satu dari tamu yang meringkuk itu akan bangun dari tempatnya lalu mengucapkan salam perpisahan pada Tante Revi dan Om Agam. Pagi di awal tahun baru selalu disambut wajah-wajah lelah.

Ayah tidak pernah ikut pesta tahun baru Tante Revi. Hubungan mereka tidak akur sejak Tante Revi menikah dengan Om Agam. Mereka berbeda keyakinan tetapi tetap bersikeras menikah waktu itu. Tante Revi tidak pernah secara tegas mengatakan apakah ia memang ikut memeluk keyakinan Om Agam. Meski begitu, hubungan Tante Revi dan Ayah tetap saja dingin. Sikap lunak Ayah baru tercermin ketika ia membiarkan aku dan Fani ikut di pesta tahun baru itu terhitung beberapa tahun belakangan ini.

Ayah tidak mengizinkan kami berlama-lama di pesta. Sesudah menyantap kue-kue lezat buatan Tante Revi dan mengantongi banyak permen yang kami ambil diam-diam dari toples di ruang tamu, Ayah akan datang dengan tatapan ekspresi kaku menjemput kami untuk pulang sambil membujuk bahwa kami bisa menyalakan kembang api di rumah saja daripada berlarut-larut di pesta Tante Revi.

“Ayo kita pulang,” kata Fani kepadaku. Kami bangkit dari sofa membersihkan remah-remah biskuit dari lipatan rok kami. “Kita pamit Tante!”  

Tante Revi perlahan membuka matanya dan menarik napas dalam-dalam. “Sampaikan salam Tante pada ayah kalian. Oh ya, jangan lupa tutup gerbangnya rapat-rapat ya,” kata Tante Revi yang disusul anggukan dari aku dan Fani.

Fani langsung berlari menuju sepedanya yang disandarkan di dinding tanah dekat tempat cucian. Aku mendorong boncengan dari belakang. Aku melihat sekali lagi melalui celah-celah jeruji gerbang. Tante Revi terlihat membereskan dengan cepat dua cangkir teh yang tidak kami habiskan dan sekaleng biskuit hambar yang masing-masing kami makan hanya tiga potong. Ia segera menghilang ke dalam.

Di perjalanan menuju rumah, Fani tak henti-hentinya menggerutu.

“Tidak ada kue kukis coklat! Tidak ada kue nanas!” katanya menyebut dua kue favoritnya. Ia terus mengayuh pedal.

Aku yang duduk di boncengan belakang mengangguk. “Pasti sudah habis semalam. Tamu-tamu Tante Revi selalu banyak,” kataku. Aku melihat peluh mengalir sepanjang tengkuk Fani. Cahaya matahari pagi yang mulai meninggi meciptakan kilatan-kilatan di aliran butir-butir peluh itu.

“Bukan! Itu tamu Om Agam semua. Tante Revi tidak punya teman!” tegas Fani.

“Kue nanas, kue kastengel, bolu gulung. Semuanya habis! Habis!” ulang Fani.

Fani mengayuh sepeda kuat-kuat, melepas perasaan kecewa yang mendalam. Tidak ada kue-kue, sirup buah naga, jeruk, dan apel. Harapan pagi itu untuk bisa melahap kue yang barangkali disisakan untuk kami kini telah pupus. Tidak ada kue-kue selezat buatan Tante Revi. Itu pasti. Sebab, Ibu belum juga kembali. Tidak ada yang membuat kue untuk kami. Ibu pergi entah kemana. Dan Ayah yang semakin murung. “Murung…Murung…” Fani menyanyi. Nadanya masih terdengar kesal. Fani mengayuh terus mengayuh. Kini kami telah jauh dari rumah Tante Revi. Semakin jauh.


Iin Farliani, penulis buku kumpulan cerita pendek berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019). Lahir di Mataram, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Sejak tahun  2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan Komunitas Akarpohon Mataram. Sebuah komunitas sastra dan penerbitan buku. Di tahun 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers MIWF 2020.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini