Sigap Menangani Corona

Sigap Menangani Corona
Dwinda Rahman

Sigap Menangani Corona

Oleh: Dwinda Rahman
(Alumni Universitas Andalas Padang)


Virus Korona atau corona virus disease 2019 (COVID-19) begitu cepat hinggap di sayap-sayap ibu pertiwi. Jumlah penderita positif virus corona sudah mencapai 790 kasus pada Rabu (25/3). Dalam kurun satu hari bertambah sebanyak 107 orang dengan rasio kenaikan sebesar 15 persen. Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 58 orang. Artinya death rate Indonesia mencapai 7,3 persen, sebagai urutan ketiga tertinggi di dunia di bawah Italia 9,9 persen dan Iran 7,8 persen. Namun patut disyukuri karena jumlah orang yang dinyatakan sembuh juga terus bertambah menjadi 31 orang.

Secara global penderita virus corona telah menyebar di 196 negara dengan jumlah 375.498 kasus, dan 16.362 kematian sebagaimana dirilis oleh Gugus Tugas Penanganan COVID-19 pada Rabu (25/3). Rasio kematian global terhadap jumlah kasus sampai hari ini masih berada pada ambang 4,3 persen Jadi, kita mesti optimis bahwa wabah ini bisa disembuhkan jika semua pihak berkolaborasi dan gotong royong dalam mengatasinya.

Prioritas utama sekarang adalah menghentikan penyebaran virus corona. Tindakan yang tepat dan cepat perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak pada kesehatan masyarakat dan juga dampak sosial ekonomi.

Kita perlu mencontoh Austria, dimana kita tidak boleh terlalu kaku dengan target defisit anggaran. Nyawa jauh lebih berharga. Semua pasti berharap untuk skenario terbaik, tetapi perlu juga mempersiapkan skenario terburuk, sehingga punya beberapa alternatif solusi dan antisipasi.

Berita Terkait :  Cegah Penyebaran COVID-19, DJP Batasi Pelayanan Pajak

Austria mengalokasikan anggaran sebesar 4 miliar euro atau hampir setara dengan Rp67 triliun untuk menangani pandemik virus corona (Reuters: 14 Maret 2020). Menteri Keuangan Austria, Gernot Bluemel mengatakan anggaran yang seimbang selalu penting, tetapi kesehatan, pekerjaan, dan perekonomian Austria yang stabil lebih penting. Jadi, ada fleksibilitas defisit anggaran dan bantuan negara.

Di Indonesia, berbagai langkah memang sudah dilakukan seperti himbauan untuk tidak berada di keramaian, physical distancing (menjaga jarak fisik), work from home (bekerja dari rumah), serta himbauan pembatasan penerbangan ke dan dari luar negeri.

Baru-baru ini Presiden Joko Widodo juga telah menerbitkan Intruksi Presiden Nomor 4 tahun 2020 sebagai perintah kepada para Menteri, para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota untuk menyiapkan anggaran dalam rangka penanganan COVID-19.

Akan tetapi, hampir sepekan setelah Inpres tersebut terbit, belum ada langkah kongkirt dari Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota untuk melakukan realokasi anggaran maupun refocusing kegiatan dari APBN dan APBD 2020. Sekali lagi, titah Presiden tidak bertaji.

Oleh karena itu, Presiden sebagai yang paling bertanggungjawab atas segala resiko yang akan timbul akibat wabah COVID-19 di negeri ini seyogyanya cepat tanggap dan sigap melakukan eksekusi kebijakan, bukan lagi himbauan-himbauan yang begitu mudah diabaikan oleh para bawahan.

Pertama, perlu segera ditetapkan pagu realokasi anggaran dan refocusing kegiatan yang bersumber dari APBN 2020 paling tidak senilai Rp100 triliun sampai Rp300 triliun. Kedua, memastikan tersedianya tenaga kesehatan, alat pelindung diri, cairan pembasmi virus, masker dan obat-obatan di seluruh rumah sakit yang ditunjuk sebagai rujukan penanganan pasien COVID-19.

Berita Terkait :  Aviecenna Gresik Himbau Masyarakat Taati Arahan Pemerintah dalam Penanganan Covid-19

Ketiga, pemerintah mengintensifkan gerakan pencegahan melalui pembagian masker dan hand sanitizer, serta penyemprotan disinfektan ke seluruh wilayah. Keempat, memastikan pasokan bahan pokok tersedia dengan harga wajar untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat. Kelima, melaksanakan test masal cepat (mass rapid test).

Dan yang keenam adalah memperjelas protokol informasi dan komunikasi pencegahan maupun penanganan, agar tidak menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan publik secara luas. Terakhir, pentingnya edukasi dan jika perlu tindakan tegas bagi masyarakat yang masih melakukan kerumunan.

Kita pasti bisa melawan virus corona jika pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat fokus, bersatu, dan berkolaborasi mencari jalan keluar terbaik. Berhenti berdebat yang tidak perlu dan hilangkan ego masing-masing. Badai pasti berlalu.

Tinggalkan Balasan