Berita

 Network

 Partner

Robi

Robi Navicula: Tolak Reklamasi Teluk Benoa hanya Pintu Masuk

Berita Baru, Jakarta – Gede Robi Supriyanto atau yang lebih akrab disapa Robi Navicula menengarai bahwa aktivisme Navicula untuk menolak reklamasi Teluk Benoa hanyalah pintu masuk, bukan bidikan utamanya.

Hal ini ia sampaikan dalam gelar wicara Bercerita ke-67 Beritabaru.co dengan tema Musik dan Gerakan Sosial-Lingkungan pada Selasa (5/10). 

Adapun pintu masuk yang dimaksud Robi adalah bagaimana tujuan utama Navicula mengampanyekan tolak reklamasi jatuh pada kepentingan untuk membuka wacana, khususnya di kalangan muda.

“Biar ada diskusi di masyarakat, di kalangan anak-anak muda tentang suatu isu. Lebih ke situ sih,” ungkapnya dalam diskusi yang ditemani oleh Al Muiz Liddinillah ini.

Menurut Robi, untuk membangun diskusi di kalangan masyarakat adalah pekerjaan rumah tersendiri.

Berita Terkait :  Yoshihide Suga, Calon Kuat Perdana Menteri Jepang

Akibatnya, siapa pun membutuhkan strategi agar mereka berkenan dengan senang hati untuk diskusi, terutama soal isu lingkungan.

“Dan strategi kami ya itu, melalui kampanye tolak reklamasi. Anak-anak muda kan biasanya suka dengan yang seperti ini, lewat isu yang keren dan trendi. Jadi ini aktivisme Navicula di sini hanya pintu masuk,” jelasnya.

“Tujuan intinya tadi, membangun diskusi. Memantik masyarakat agar kritis, bisa menyampaikan aspirasi secara elegan, melek politik, dan semacamnya,” imbuh vokalis sekaligus gitaris dari Navicula ini. 

Robi menambahkan, biasanya dengan pintu masuk semacam itu, anak-anak muda nanti akan tertarik untuk menyelami lebih dalam suatu isu, seperti dari sekadar isu lingkungan menjadi isu recycle dan reuse.  

Berita Terkait :  Mengenang 150 Tahun Vladimir Lenin: Pendiri Negara Komunis Pertama

Musik dan aktivisme lingkungan

Kombinasi antara musik dan aktivisme lingkungan adalah sesuatu yang terbilang baru. Menurut Robi, isu soal lingkungan saja baru populer pada kisaran tahun 2008.

Meski demikian, Robi dan teman-temannya sudah memiliki kesadaran untuk menggabungkan keduanya pada tahun 1996.

Beberapa pihak, kata Robi, apalagi sebelum isu lingkungan familier di telinga, mempertanyakan bukankah menjadikan isu lingkungan sebagai fokus dari untuk grup musik adalah boomerang.

Ketika mendapat respons seperti itu, Robi secara tegas menjawab bahwa justru dengan kombinasi tersebut Navicula memiliki harga jual.

“Ya soalnya, untuk kisaran tahun 1996, belum ada grup musik yang menyasar isu lingkungan. Hampir semuanya soal cinta dan tepat di sini, kita punya karakter,” jelas Robi. 

Berita Terkait :  Di Balik Tokoh: Memoar Nasirun

“Intinya, ini bukan boomerang, tapi malah sebagai nilai jual,” tambahnya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Pada tahun 2007, Robi dan teman-teman pada akhirnya bisa merasakan bahwa komitmen mereka pada isu lingkungan membuahkan hasil. Kendati, pada 2003 mereka sempat bimbang luar biasa.

“Ya sejak saat itu, kami banyak dapat undangan untuk tampil di negara ini, negara itu. Pokoknya apa yang saya bayangkan dulu tidak meleset lah,” kata Robi.  

Robi membeberkan bahwa kunci dari apa yang dicapainya tersebut adalah bagaimana antara apa yang seseorang pedulikan dan dia cinta sangat bisa untuk dikombinasikan, bukan dipertentangkan.

“Aku peduli soal lingkungan dan aku cinta musik, ya jadi kenapa tidak untuk mempertahankan keduanya?” jelasnya.